Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Kristen; Merenungkan Kristus Hari Ini (Di Malam yang Sepi)

Renungan Kristen; Merenungkan Kristus Hari Ini (Di Malam yang Sepi)

Judul: Di Malam yang Sepi

"Ia datang tidak mencari kebenaran, Ia datang bukan untuk yang berharga, namun Ia datang untuk yang hina dalam kematian kekal. Agar kemuliaan dan kebenaran-Nya ditukarkan dengan kebusukkan Anda dan saya. Ia menjadi sangat hina agar kita menjadi mulia. Kita hidup di dalam kehidupan baru di dalam Yesus." ~ Saya sendiri

Ini perenungan pertama saya, di mana saya akan setiap hari membuat artikel tentang merenungkan Yesus, melalui apa yang saya pikirkan setiap hari/jam tentang Yesus, yang telah Dia lakukan untuk saya melalui kayu salib. Tentunya bagi seluruh umat manusia.

Pastinya perenungan saya ini, berdasarkan Alkitab secara khusus 4 kitab Injil yang terus saya pelajari. Yang telah mempengaruhi kehidupan saya sampai hari ini. Setelah pertobatan saya, meskipun saya tidak tahu pasti kapan saya pertama kali menerima Yesus.

Judul merenungkan Yesus kali ini, “di malam yang sepi,” saya ingin anda menjawab pertanyaan saya. Kapan Yesus mengalami malam yang sepi? Apakah Anda dapat menjawabnya? Saya harap panda memikirkannya sebelum anda melanjutkan pembacaa kali ini.

Di taman Getsemani, di sanalah kesepian itu melanda pikiran dan hati Yesus, di sanalah Ia mengalami ketakutan yang teramat dalam. “ya TUHAN, jika bisa cawan ini lalu dari pada-Ku.” Inilah yang Yesus minta, jika bisa biarlah Ia tidak disalibkan dan hidup dalam kesenangan bersama-sama para murid yang saat itu benar-benar tidak peduli dengan-Nya. Karena mereka mengantuk.

Kesendirian seakan benar-benar menyelimuti hati Yesus saat itu, Ia bahkan dapat merasakan bagaimana kuasa Allah tidak lagi melingkupi Dia. Ketika saya memikirkan Yesus saat itu, maka saya mendapati pikiran saya memikirkan pada saat itulah Yesus ditimpakan semua dosa semua umat manusia.

Di mana dosa menghasilkan kesepian yang teramat dalam, dosa menghasilkan ketakutan yang dalam akan penderitaan hidup. Dosa menjadikan manusia mati, dan kematian adalah kengerian bagi manusia. Inilah yang Yesus rasakan, inilah yang dialami oleh Yesus.

Saya tidak sedang membangun suatu teologi, bahwa Yesus pada saat itu berdosa. Bukan itu maksud saya. Yang saya maksudkan, bahwa bisa jadi, ya saya kurang yakin waktunya kapan. Saya hanya menduga, bahwa pada waktu itulah, sebelum Yesus ditangkap. 

Ia mengalami apa yang namanya dosa, Yesus menjadi dosa karena anda dan saya, karena dosa kita, karena kita adalah manusia binasa, tetapi kebinasaan kita pada saat itu ditimpakan kepada Yesus. Inilah yang saya pikirkan ketika merenungkan kehidupan Yesus, di mana Ia hidup fokus pada satu tujuan kehendak Bapa atas diri-Nya. Yaitu agar Ia menjadi penebus yang sempurna.

Ini melegakan, ketika saya melihat diri saya yang berdosa dan layak binasa. Dan merenungkan kebesaran Yesus, di mana kemenangan-Nya bukanlah memanggil malaikat untuk mengalahkan tentara Romawi. Tetapi kemenangan-Nya, Ia diam dan mati disalibkan. 

Ini kehinaan bagi manusia tetapi kemenangan dari pihak Allah. Dan oleh karena kebenaran inilah saya bertobat, betapa kasih Allah benar-benar nyata dan saya tidak ingin lagi diperbudak dosa dan hanya ingin selalu melayani Kristus dalam kekudusan.

Darah yang mengalir, menyucikan pendosa, itu adalah kita yang telah percaya dalam nama-Nya. Daging yang hancur oleh cambuk romawi. Itu adalah kemenangan atas daging, bahwa tidaklah benar memuaskan daging karena kepuasannya pasti dosa yang melawan Allah, tetapi biarlah daging itu merana karena tidak lagi menikmati dosa.

Tetapi Roh yang ada di dalam kita, semakin kuat. Yesus mengingatkan berdoalah, dan berdoalah sebab daging lemah tetapi Roh itu penurut. Ketika merenungkan Yesus, saya sangat sadar, Roh saya berkobar-kobar bersukacita. Merenungkan salib, itu melegakan, merenungkan bagaimana Yesus taat kepada Bapa, memberikan saya kuasa untuk hidup seperti Yesus yaitu taat kepada Allah Bapa.

Sekarang, apa yang dapat saya bagikan melalui perenungan saya hari ini, sebenarnya ini perenungan saya ketika saya berdoa malam tadi. Tentang malam yang sepi bersama orang-orang yang mengantuk. Dan hari ini saya putuskan untuk menulisnya.

Baca Juga: Signifikansi kematian Yesus

Pelajaran penting yang sangat sederhana. Renungkanlah Kristus, dalam pembelajaran anda pada Alkitab anda. Dan renungkanlah Kristus melalui doa-doa anda sehingga ucapan doa anda adalah apa yang Kristus lalukan. Itu akan membawa anda pada pujian penyembahan penuh kekaguman yang sejati kepada Dia. Pikirkanlah setiap ayat Alkitab yang anda baca. Ya itulah Dia Yesus Kristus yang seharusnya kita pikirkan setiap saat. Untuk taat kepada Dia dan menikmati kemuliaan-Nya. Amin.

Bacaan Alkitab; (Matius 26:36-46, Markus 14:32-42, Lukas 22:39-46, 2 Korintus 5:21)

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk "Renungan Kristen; Merenungkan Kristus Hari Ini (Di Malam yang Sepi)"