Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Habakuk 3:17-18 Melihat Pribadi Tuhan Sebagai Kekayaan

 Renungan Habakuk 3:17-18 Melihat Pribadi Tuhan Sebagai Kekayaan Bukan Pemberian

Habakuk 3:17-18 (TB) Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

Mari Kita Memikirkan Ulang!! Jangan-jangan Kita Sekarang Kristen Tetapi Sedang Menyambah Berhala.

Bagi saya teologi kemakmuran. Teologi berkat yang berpusat pada keinginan manusia dengan menjadikan nama Yesus sebagai jimat. Dan untuk segala kepenuhan dan pemuasan keangkuhan hidup. Ini adalah teologi setan, ini berasal dari setan, ini adalah teologi yang sopan, baik dan memberkati tetapi berasal dari setan. 

Saya tidak sedang mengajak Anda menyetujui argument saya, tetapi saya membawa Anda memikirkan ulang, setiap Khotbah, setiap tulisan renungan, dan setiap pengajaran yang Anda terima! Jika Anda yang membaca, tulisan ini dan tidak setuju dengan saya, saya hanya ingin mengatakan selamat, setan adalah bapa Anda.

Saya selalu memikirkan ulang, ketika saya menulis, ketika saya harus berbicara di depan banyak orang. Menyampaikan Injil. Jika pendengar atau pembaca saya berkata, “saya diberkati dengan khotbah Anda, saya sangat terberkati dengan tulisan renungan Anda.” 

Saya harus memikirkan ulang, ada yang salah dengan Injil yang saya sampaikan. Jangan-jangan saya sedang membawa mereka untuk menjadikan Yesus sebagai jimat, maupun teko om jin yang digosok sedikit akan mengabulkan segala permintaan sih penggosok.

Saya tidak ingin Anda merasa terberkati oleh Injil yang saya sampaikan, saya tidak ingin Anda senang membaca tulisan yang saya tulis. Saya ingin Anda sadar bahwa kita pendosa yang sangat layak binasa. Benar-benar binasa. Tanpa menginginkan Kristus, kita binasa.

Yang saya rindukan dan inginkan, Anda merasakan rasa sakit yang dalam, saya ingin hati Anda dihancurkan dan menyadari bahwa Anda pendosa yang layak binasa. Sebaik apapun Anda Anda tetaplah orang berdosa yang binasa, Anda mati dalam dosa, Anda mati di dalam kandungan ibu Anda bahkan sampai dititik Anda dilahirkan. Begitu juga dengan saya. Kita adalah orang berdosa.

Kita semua membutuhkan kematian bersama dengan Kristus, Kekristenan kita seharusnya menginginkan salib, kasih karunia, pribadi Kristus. Kita harus disalibkan bersama Dia untuk dapat hidup baru bersama Dia  dan melakukan kehendak-Nya. Sakit. Memang sakit sebab daging kita tidak suka kematian ini. Kita harus mati untuk dapat memperoleh hidup. Inilah yang sangat penting untuk disampaikan. Kiranya Roh Kudus memampukan kita.

Bukan berkat fana yang diinginkan para pengajar kacau yang cinta diri sendiri.

Itu mengapa teologi yang menekankan Anda lakukan ini, maka berkat Tuhan akan mengalir ke dalam hidup Anda, itu sangat-sangat tidak berguna. Beberapa pengkhotbah lain, memerintahkan Anda melakukan ini dan itu dengan kata iman, agar Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan dari Tuhan. Dan ini benar-benar salah, bukan pengajaran yang berasal dari Injil Kristus. 

“Kita diajarkan untuk menginginkan pemberian, dibandingkan dengan Pribadi Sang pemberi.” Ini adalah penyembahan berhala.

Kita masuk ke ayat, yang menjadi pondasi dari tulisan kali ini, yaitu bagaimana Habakuk meresponi setiap kejadian yang terjadi pada masanya. Kita harus mengerti terlebih dahulu apa yang terjadi di masa di mana Nabi Habakuk melayani.

Pada masa itu, kehancuran Yerusalem telah mencapai puncaknya. Di mana Yerusalem dikepung, Yerusalem di bakar oleh Nebukatnezar. Anda dapat membacanya di Introduksi Perjanjian Lama, secara khusu kitab Habakuk. Pelajaran penting dari kitab ini, di mana Habakuk sebagai seorang nabi, sebagai warga negara Israel, mengalami juga yang dinamakan kesesakan. Baik itu secara ekonomi, politik dan pastinya kehidupan yang tertekan. Di mana banyak pada waktu itu orang-orang Israel mati.

Allah seolah-olah tidak mengasihi orang Israel, Allah diam, bahkan jika Anda mempelajari Kitab Yesaya, Yeremia. Anda akan memahami, bahwa kehancuran Yerusalem adalah kehendak Allah untuk mendidik orang Israel. 

Bahwa dosa jauh lebih berbahaya, bahwa dalam keadaan yang kayak dan baik-baik saja, bukanlah jaminan bahwa mereka ada di dalam berkat Tuhan yang sejati. tidaklah menjadi jaminan bahwa mereka disertai Tuhan, karena mereka pada saat yang sama menyembah berhala, kejahatan di mana-nama.

Tetapi, ketika nabi Habakuk melihat semua penderitaan ini, ia mengajarkan kepada Anda dan saya yang membaca kitab ini terutama pondasi dari renungan kita kali ini. Baiklah kita tetap memandang kepada Allah, Dia yang berkuasa. Karena baik miskin, melarat, maupun kaya. Tidaklah penting, karena yang terpenting Allah ada bersama kita, Ia menyertai kita. inilah yang Habakuk sadari.

Baca Juga: Renungan Mazmur 23:1-6

Bukankah ini Injil, di mana Allah yang jauh itu, telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Dia yang menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan. Oleh karena inilah kita hari ini dapat memuji Allah yang benar, percaya kepada Allah dan menikmati persekutuan dengan Dia. 

Injil mengubahkan kita dari dalam keluar, membawa kit acara pandang yang baru dan menjadikan kita milik Allah dan membenci segala hal yang tidak memuliakan Dia. Kita dibebaskan dari perbudakan dosa, kita mengigikan Dia, di dalam Yesus Roh Kudus terus membawa kita pada pertobatan yang sejati untuk memandang hanya pada salib dan menginginkan Tuhan. 

Doa

Sekalipun dunia lenyap dan penderitaan semakin menjadi-jadi, sebab dunia ini terus melaju pada kebiasaan. Mampukan diri kami berdiam diri dan memuji-Mu, memuliakan-Mu dan menikmati pesekutuan dengan Engkau. Dalam keseharian kami, Engkaulah yang harusnya kami beritakan dan menjadi kesenangan kami dan pencarian kami untuk terus di dalam-Mu dan Tuhan berikan Rahmat-Mu untuk kami selalu menginginkan Engkau dan memuji-Mu. Di dalam nama Yesus. Amin.

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk "Renungan Habakuk 3:17-18 Melihat Pribadi Tuhan Sebagai Kekayaan"