Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsiran Titus 2:9-10 Tentang Petunjuk Hidup Seorang Hamba

 Tafsiran Titus 2:9-10 Oleh Matthew Henry

Petunjuk yang berkaitan dengan hamba-hamba. Hamba-hamba tidak boleh berpikir bahwa keadaan mereka yang hina dan rendah membuat mereka tidak mendapatkan perhatian Allah atau bebas dari kewajiban-kewajiban dari hukum-hukum-Nya. Atau bahwa, karena mereka adalah hamba manusia, maka mereka dibebaskan dari tugas melayani Allah. Tidak. 

Hamba-hamba harus mengetahui dan melakukan kewajiban mereka kepada tuan-tuan mereka di bumi, namun dengan mata tertuju kepada Tuan mereka di sorga. Dan Titus tidak boleh hanya mengajar dan memperingatkan tuan-tuan di bumi tentang kewajiban-kewajiban mereka, melainkan juga hamba-hamba tentang kewajiban-kewajiban mereka, baik dalam pengajarannya di depan umum maupun dalam nasihat-nasihatnya secara pribadi. 

Hamba-hamba harus mengikuti ketetapan-ketetapan Allah untuk mendapatkan pengajaran dan penghiburan, seperti halnya tuan-tuan sendiri. Dalam petunjuk untuk Titus ini terdapat kewajiban-kewajiban itu sendiri, yang harus dia nasihatkan kepada hamba-hamba, dan sebuah pertimbangan yang sangat penting yang dengannya dia harus mendesak supaya kewajiban-kewajiban itu dilaksanakan.

Tafsiran Titus 2:9-10 Tentang Petunjuk Hidup Seorang Hamba

1. Kewajiban-kewajiban itu sendiri adalah ini:

1. Taat kepada tuannya (ay. 9). Ini adalah kewajiban utama, yang dengannya mereka digambarkan. (Roma 6:16)

Kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati. Harus ada ketundukan di dalam batin serta rasa hormat dan takzim yang penuh ketaatan dalam akal dan pikiran. “Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu, kasih sayang penuh ketaatan yang engkau tunjukkan kepada-Ku, dengan perwujudan-perwujudan dan pernyataan-pernyataan yang sepantasnya secara lahiriah, dalam melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu?” Ini harus ada dalam diri hamba-hamba. 

Kehendak mereka harus tunduk kepada kehendak tuan mereka, dan waktu dan usaha mereka harus tunduk kepada pengaturan dan perintah tuan mereka. (1 Petrus 2:18) 

Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. 

Kewajiban tersebut berasal dari kehendak Allah, dan dari hubungan yang di dalamnya Dia telah menempatkan kewajiban tersebut menurut pemeliharaan-Nya, dan bukan karena sifat orangnya. 

Jika dia adalah seorang tuan, maka kewajiban-kewajiban seorang hamba harus dilakukan untuk dia sebagai tuan. Oleh karena itu hamba-hamba harus dinasihati supaya patuh kepada tuan mereka sendiri. Dan,

2. Dalam segala hal dan berkenan kepada mereka (KJV: sungguh-sungguh menyenangkan hati mereka dalam segala hal), dalam segala hal yang sesuai hukum, dan yang pantas untuk mereka perintahkan, atau setidaknya yang tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan mereka yang agung dan lebih tinggi.

Kita tidak boleh mengartikannya sebagai perintah untuk menaati atau menyenangkan hati mereka secara mutlak, tanpa batas apa pun, melainkan selalu dengan suatu sikap yang hati-hati terhadap hak Allah, yang sama sekali tidak boleh dilanggar. 

Jika perintah-Nya dan perintah tuan di bumi bersaing atau bertentangan, maka kita diajarkan untuk lebih taat kepada Allah daripada manusia. Namun hamba-hamba harus memiliki alasan-alasan yang baik dalam hal ini, bahwa memang ada suatu ketidaksesuaian dari perintah tuan mereka, jika tidak maka mereka tidak dapat dibenarkan. Dan bukan hanya kehendak Allah saja yang harus menjadi ukuran untuk ketaatan seorang hamba, melainkan untuk alasannya juga. 

Semuanya harus dikerjakan dengan rasa hormat kepada-Nya, karena wewenang-Nya, dan terutama dan terpenting untuk menyenangkan hati-Nya (Kolose 3:22- 24). Dengan melayani tuan di bumi menurut kehendak Kristus, Dia dilayani, dan yang demikian itu akan diberi-Nya imbalan yang sesuai. Namun bagaimana caranya hamba-hamba menyenangkan tuan mereka dalam segala hal dengan tidak menjadi orang yang menyenangkan manusia saja? Jawaban, Orang yang menyenangkan manusia saja, dalam pengertian yang salah, adalah orang yang hanya, atau terutama, memperhatikan manusia saja, dalam mengerjakan apa yang mereka kerjakan, dengan mengabaikan Allah, atau menempatkan Allah lebih rendah daripada manusia. 

Ketika kehendak manusia tetap dijalankan, walaupun bertentangan dengan kehendak Allah, atau kesenangan manusia lebih diperhatikan daripada kesenangan-Nya, ketika hal ini dapat memuaskan mereka, bahwa tuan di bumi dibuat senang, walaupun Allah dibuat tidak senang, atau ketika lebih banyak kepedulian, atau lebih banyak kepuasan, diperoleh jika manusia dibuat senang daripada jika Allah yang dibuat senang, ini berarti menyenangkan manusia dengan berbuat dosa. Hal ini harus diwaspadai oleh semua orang. Efesus 6:5-7, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang (yaitu hanya mencari perkenanan manusia atau takut akan kemarahannya), tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” 

Bukan terutama untuk manusia, melainkan untuk Kristus, yang menghendaki, dan akan memberikan upah bagi setiap kebaikan yang dilakukan, baik dalam keadaan terbelenggu maupun dalam keadaan bebas. Oleh karena itu perhatikanlah, kemerdekaan Kristen tidak bertentangan dengan menjadi hamba dan tunduk kepada manusia. 

Orang-orang boleh melayani manusia, namun menjadi hamba-hamba Kristus. Hal-hal ini tidak bertentangan, namun bersifat lebih rendah, sejauh melayani manusia itu seturut dengan kehendak Kristus dan untuk kepentingan-Nya. 

Kristus datang bukan untuk menghancurkan atau merugikan tatanan dan perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! (1 Korintus. 7:21). Janganlah hal ini menggelisahkanmu, seolah-olah itu adalah suatu keadaan yang tidak pantas bagi seorang Kristen, atau seolah-olah orang yang dipanggil dalam keadaan demikian kurang berkenan kepada Allah. 

Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya adalah orang bebas, milik Tuhan. Bukan bebas dari pelayanan itu, melainkan bebas di dalamnya, bebas secara rohani, walaupun tidak dalam kewajiban di dalam masyarakat. 

Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. Dia terikat kepada-Nya, walaupun dia tidak tunduk kepada manusia mana pun. Oleh karena itu maka, hamba atau orang merdeka, semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Karena itu hamba-hamba tidak boleh menyesali atau merasa terganggu dengan keadaan mereka, melainkan setia dan gembira di tempat di mana Allah telah menempatkan mereka, dengan berjuang untuk berkenan kepada tuan-tuan mereka dalam segala hal. Mungkin sulit jika berada di bawah Nabal yang kasar, tetapi hal itu harus diusahakan sebisa mungkin.

3. Jangan membantah. Jangan melawan mereka, atau berselisih dengan mereka. Jangan berkata-kata kepada mereka dengan bahasa yang tidak sopan atau memancing amarah. 

Ayub mengeluh tentang budaknya, bahwa kalau dia memanggil budaknya, ia tidak menyahut. Itu adalah kesalahan dengan cara yang lain: Non respondere pro convitio est – Sikap diam seperti itu adalah penghinaan. Tetapi di sini sikap diam itu merupakan sikap hormat, lebih suka menerima omelan atau teguran dengan sikap diam yang rendah hati, tidak memberi jawaban yang penuh percaya diri atau berani. 

Ketika sadar akan suatu kesalahan, meremehkan atau membenarkannya berarti menggandakan kesalahan tersebut. Namun sikap tidak membantah ini tidak mencakup meredakan kegeraman dengan jawaban yang lemah lembut ketika waktu dan keadaan mengizinkan. 

Baca Juga: Kepemimpinan Kristen yang benar

Tuan-tuan yang baik dan bijaksana akan siap mendengarkan dan melakukan yang benar. Tetapi menjawab dengan tidak pada tempatnya, atau dengan sikap yang tidak pantas, atau, menjawab ketika perkaranya tidak memperbolehkan adanya alasan, sikap bebas atau penuh percaya diri, menunjukkan kurangnya kerendahan hati dan kelemahlembutan, yang harus ada dalam hubungan seperti itu.

4. Jangan curang tetapi hendaklah selalu tulus dan setia. Ini adalah suatu sifat dasar luar biasa lain lagi dari hamba-hamba yang baik, yaitu jujur. 

Mereka tidak pernah mengambil milik tuan mereka untuk mereka pergunakan sendiri, atau memboroskan barang-barang yang dipercayakan kepada mereka, artinya berbuat curang (KJV: mencuri). 

Mereka harus adil dan benar, dan melakukan untuk tuan-tuan mereka seperti yang mereka mau, dan seperti yang seharusnya dilakukan untuk diri mereka sendiri. Amsal 28:24, Siapa merampasi ayah dan ibunya dan menyangka bahwa itu bukan suatu pelanggaran, ia sendiri adalah kawan si perusak. 

Dia akan siap bergabung dengan si perusak itu. Jadi memiliki pikiran-pikiran seperti itu, yang meremehkan perbuatan mengambil apa yang bukan hak, walaupun itu dari orang tua atau tuan, kemungkinan besar akan mengeraskan hati nurani sehingga bertindak lebih jauh lagi. Itu jahat, dan cenderung bertambah jahat. Anggap saja, bahwa si tuan keras dan ketat, hampir tidak mengadakan persediaan yang cukup untuk hamba-hamba. Namun mereka tidak boleh membenarkan diri sendiri lalu mengambil sendiri bagian mereka. 

Mereka harus menanggung nasib mereka, dengan mempercayakan perkara mereka kepada Allah supaya membenarkan dan menyediakan kebutuhan mereka. 

Saya tidak berbicara tentang perkara-perkara yang melampaui batas, misalnya terpaksa mencuri untuk mempertahankan hidup, untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang berhak dimiliki si hamba. 

Jangan curang tetapi hendaklah selalu tulus dan setia. Bukan hanya tidak boleh mencuri atau memboroskan, malahan harus berusaha melipatgandakan harta benda tuannya, dan meningkatkan kemakmuran dan perkembangannya, dengan segenap kemampuan. 

Barangsiapa tidak meningkatkan talenta tuannya dituduh tidak setia, walaupun dia tidak pernah menggelapkan atau menghilangkannya. Kesetiaan dalam diri seorang hamba terletak pada kesiapan, ketepatan waktu, dan ketelitian dalam melaksanakan perintah-perintah tuannya. 

Dia menjaga rahasia-rahasia tuannya dan menuruti nasihat-nasihatnya, mengatur urusan-urusannya dengan baik, dan mengelola dengan cermat, dan mendapatkan sebanyak mungkin keuntungan yang adil bagi tuannya sejauh dia mampu. 

Baca Juga: Tafsiran Kisah Para Rasul 2:1-4

Dia memperhatikan dengan baik hal-hal yang dipercayakan tuannya kepadanya, dan mencegah, sejauh dia mampu, segala perampasan, kerugian, atau kerusakan. Ini adalah suatu cara untuk membawa berkat kepada dirinya sendiri, sedangkan cara yang sebaliknya sering membawa kejatuhan menyeluruh. Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? (Lukas 16:12). 

Demikianlah mengenai kewajiban-kewajiban itu sendiri, yang harus dinasihatkan kepada hamba-hamba. Kemudian,

2. Tujuan dari setiap kewajiban; mereka memuliakan Allah

Inilah pertimbangan yang harus dipakai Titus untuk menegakkan kewajiban-kewajiban itu: Supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. Artinya, supaya mereka dapat membuat Injil dan agama kudus Kristus dipandang baik oleh orang-orang di luar jemaat, dengan kelemahlembutan, kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaan mereka dalam segala hal. 

Bahkan hamba-hamba sekalipun, walaupun mereka pikir orang-orang seperti mereka tidak ada apa-apanya, hina dina, tidak ada yang bisa mereka perbuat untuk dapat membawa nama baik bagi Kekristenan, atau memuliakan ajaran Kristus, dan menampilkan keunggulan-keunggulan kebenaran dan jalan-jalan-Nya, Namun, jika mereka melakukan kewajiban mereka dengan hati-hati, itu akan membawa kemuliaan bagi Allah dan pujian bagi agama. 

Tuan-tuan yang tidak percaya Kristus akan berpikiran baik tentang jalan Kristen yang dihina itu, yang dicela di mana-mana, ketika mereka menemukan bahwa hamba-hamba mereka yang Kristen lebih baik daripada hamba-hamba mereka yang lain, lebih taat dan tunduk, berlaku benar dan setia, dan lebih rajin dalam bekerja. 

Agama sejati merupakan kehormatan bagi orang-orang yang memeluknya, dan mereka harus menjaga supaya mereka tidak melakukan apa pun yang mempermalukannya, melainkan lebih memuliakannya dalam segala sesuatu yang mereka sanggup kerjakan. 

Terang kita harus bersinar di antara manusia, supaya mereka, karena melihat perbuatan-perbuatan baik kita, dapat memuliakan Bapa kita yang ada di sorga. Dan demikianlah petunjuk-petunjuk Rasul Paulus kepada Titus, mengenai pelaksanaan jabatannya, berkaitan dengan beberapa macam orang.

Sumber aslinya: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Titus%202:9

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk "Tafsiran Titus 2:9-10 Tentang Petunjuk Hidup Seorang Hamba"