Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Ayub 42:5-6 Saat Teduh Tentang Renungkanlah Kekudusan Allah!

Renungan Ayub 425-6 Saat Teduh Tentang Renungkanlah Kekudusan Allah!

Judul Saat Teduh: Renungkanlah Kekudusan Allah

Bacaan Alkitab: Ayub 42:5-6

“Sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan menyesal” Ayub 42:5-6

“Manusia tersuci di dunia, begitu melihat kekudusan Allah yang tak terhingga menyadari dirinya sebagaimana adanya dan merendahkan hati.” ~ William Gurnall (Puritan)

Ayub dalam penderitaannya mengeluhkan segala sesuatunya kepada Allah, bahkan mengutuk hari kelahirannya sendiri. Ketika kita menyadari bahwa Ayub pun dikagumi oleh Allah, Ia adalah seseorang yang benar-benar saleh. Namun, Iblis mencobai dia sampai pada titik paling rendah, semua perjalanan penderitaan ini akhirnya membawa Ayub pada satu titik keindahan yang tidak ada taranya.

Ketika merenungkan kitab Mazmur, Anda akan mengerti apa yang saya maksudkan tentang keindahan yang tiada taranya. Keindahan yang tidak tertandingi, ini adalah cahaya yang bersinar terang lebih terang dibandingkan sinar matahari. 

Suatu kekejutan ketika melihat diri sendiri dan melihat cahaya ini, kita pasti akan bertekuk lutut ketakutan. Karena ketika kekudusan Allah menyinari kita, kita yang bermoral, baik dan agamawi. Yang kita lihat hanyalah borok yang mengerikan, setiap simpanan yang tersembunyi, dosa-dosa yang menjijikan.

Kekudusan Allah bersinar terang, menunjukkan semua itu secara jelas. Kekudusan-Nya tidak ada yang dapat menandingi. Kekudusan ini membakar setiap dosa, kekudusan ini membuat setiap raja dunia ketakutan. Kekudusan ini memberikan pelajaran berharga bagi para nabi terdahulu.

Oleh karena dia Allah yang kudus, Allah yang baik dan pengasih, berbelaskasihan. Kita dapat mengerti bahwa Ayub mendapatkan kasih karunia Allah dalam penderitaannya. Ayub dalam kegusarannya, dituduh oleh teman-temannya, karena dosalah ia menderita. Namun, Allah yang kudus dan Maha tahu, sangat mengerti bagaimana kesalehan Ayub.

Kita dapat belajar 2 hal penting dari apa yang Ayub ucapakan melalui ayat 5-6. Pertama kesalehannya tidak sebanding dengan kekudusan Allah, sehingga ia melihat dengan jelas ketidakmurnian hatinya dan berkata, “aku mencabut segala perkataanku,” tidak ada yang tahan dalam dusta dan kemunafikan di hadapan yang kudus.

Kedua, kekudusan ini, memerintahkan kepada Anda dan saya untuk menanamkan prinsip kekudusan sejati yang menjadikan kita anak Allah yang bersekutu dan menikmati setiap kekudusan sejati. Dua hal ini akan kita perlajari bersama dan bagaimana kita mengambil perlajaran praktis dari perenungan kita tentang Dia Allah yang kudus.

Renungan Ayub 42:5-6 Saat Teduh Tentang Renungkanlah Kekudusan Allah!

1. Melihat ketidakmurnian diri

Ketika Yesaya berhadapan dengan kekudusan ini, ia berkata, “celakalah aku seseorang yang najis bibir, sekarang aku melihat TUHAN semesta alam.” (Yesaya 6:5), ini adalah ketakutan dan kekaguman akan kekudusan Allah, ini adalah pelita yang terang membukakan setiap kecenderungan berdosa yang dipengaruhi oleh kehidupan kita, budaya dunia, kebiasaan yang busuk dan buruk. 

Ini gambaran jelas dari diri Anda dan saya yang adalah pendosa besar yang layak untuk binasa. Celakalah kita di dalam ketidakkudusan dan pemberontakan kita, celakalah kita ingin keselamatan tanpa menginginkan kekudusan Allah tanpa adanya pertobatan dan hidup benar dihadapan Allah.

“Dan sekarang mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta Allah, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Ini adalah seruan dari sorga, menunjukkan kegentaran besar akan Allah yang kudus dan mulia. TUHAN yang Yesaya lihat, membuat ia bergetar dan melihat dengan jelas dirinya sendiri adalah seseorang yang najis.

Baiklah kita ketika berhadapan dengan kekudusan Allah, dapat melihat setiap dosa yang ada di dalam kita, kecenderungan yang melawan Allah dan perintah-Nya. Saya melihat diri saya, dan jujur saya membenci setiap kecenderungan yang berdosa dan tidak terbendung dalam diri. Kita semua berdosa, pendosa, angguh dan sombong. Seringkali kita menjadi seseorang yang najis bibir. Bahkan menyalahkan hari kelahiran kita, menyalahkan Allah mengapa semua penderitaan ini terjadi kepada saya. 

Saya mengajak Anda untuk memikirkan setiap kedalaman hati dan pikiran dan melihat kepada kekudusan Allah dan marilah kita bertobat, selayaknya Ayub dan Yesaya, dalam gentar mengakui bahwa kita adalah orang-orang rusak dan cacat kita memerlukan kasih karunia.

2. Kuduslah kamu sebab Allah kudus!

“Sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ketika saya merenungkan kekudusan Allah, saya hanya melihat kebiasaan kekal yang layak saya terima. Saya selayaknya mendapatkan itu, tidak dipungkiri, Anda pun demikian Adanya.

Tetatpi puji TUHAN, kekudusan dan kelayakkan ini kita dapatkan cuma-cuma, seperti yang saya jelaskan. Bahwa kita memerlukan kasih karunia, tidak ada yang lain. Saudaraku perjuangan kita, kesalehan kita di luar Kristus adalah kebusukkan dan kematian kekal yang tidak bernilai.

Namun, kehidupan Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus adalah kehidupan kita yang nyata-nyata. Kita dikuduskan oleh darah Yesus, salib yang memperdamaikan kita dengan Allah yang mulia dan kudus dan mengagumkan. Memberikan kita harapan baru yang indah, keindahan yang dapat kita lihat dengan jelas dan nikmati, keindahan Allah yang kudus.

Baca Juga: Keseriusan Allah menanggapi dosa umat-Nya

Kita kudus karena kekudusan Yesus, kita benar karena kebenaran Yesus. Setiap dosa yang ditimpakan kepada Yesus di atas kayu salib, menunjukkan kepada kita perdamaian kekal yang ajaib. Pemberontakan yang dilucuti dari jiwa kita yang mati. Diganti dengan jiwa yang baru, inilah kehidupan baru. Kita mengambil kehidupan Yesus, sehingga kita yang najis dikuduskan untuk memulilakan TUHAN.

Tanpa Kristus kita tetaplah orang binasa, tanpa Kristus kita tetaplah manusia yang berjuang dalam kematian kekal yang menyedihkan. Maka dari itu, di dalam Kristus ada sukacita, ada kegembiraan, dan kita melihat hidup kudus yang diberikan Kristus dalah kebebasan sejati yang ajaib. Kita hidup untuk penyembahan yang benar-benar baru, pelayanan yang baru. Kita menyambah dan melayani TUHAN semesta alam.

Saya tidak akan meyerukan, percayalah kepada Yesus maka Anda akan diselamatkan dan masuk Sorga. Karena tujuan utama kita bukan Sorga atau keselamatan. Tetapi saya ingin menunjukkan tujuan mutlak dari Kekristenan adalah kekudusan. Di mana adanya kekudusan? Yaitu di dalam Yesus, ketika Anda dan saya menjadi milik Yesus dan kita mati atas dosa. Hanya Yesuslah tujuan utama kehidupan Kristen. jika ada yang lebih dari itu, itu adalah kesesatan yang mutlak dan baiklah Anda dan saya bertobat.

Baca Juga:

Jadi bagaimana sekarang? Saudaraku saya hanya bisa membawa Anda merenungkan bahwa Yesus ingin memiliki Anda, renungkanlah kekudusan Allah! Bagaimana Kristus membawa Anda pada kekudusan itu dan menguduskan Anda. Yesus ingin Anda dan saya hidup dalam pertobatan yang sejati, membenci dosa dan muak dengan semua kebohongan dunia.

Sekarang pertanyaan-Nya. Apa yang Anda memiliki dan Anda sukai saat ini? Maka itulah tuhan Anda.

Selanjutnya, untuk menjadi milik Yesus, selayaknya Ayub dan Yesaya, diterangi oleh kekudusan Allah, demikianlah ketika Anda melihat Salib Yesus dan Anda berkata. “Aku membuang semua harga diriku yang palsu, aku tidak benar, aku najis bibir dan diriku najis, aku telah mati di dalam dosa-dosaku dan aku membuang semua perkataan kotor dari mulutku. Sekarang kuduskanlah Aku ya Yesus, hanya karena Engkau saja, kasih karunia-Mu aku percaya aku bisa menjadi milik-Mu, dikuduskan untuk-Mu dan melayani Engkau oleh karena kekuatan dan kehidupan dari-Mu."

Hidup berperang melawan ketidakkudusan atau dosa, tertanam prinsip baru untuk hidup hanya mengejar Kristus dan terpesona oleh keindahan, kekudusan dan kebenaran Kristus yang nyata-nyata itulah bagian kita, maka datanglah pada-Nya dan tinggalkanlah dosa. Amin.

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk " Renungan Ayub 42:5-6 Saat Teduh Tentang Renungkanlah Kekudusan Allah!"