Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hubungan Teologi Kristen dengan Kehidupan Individu Manusia

Filsafat Metafisika meliputi disiplin ilmu Teologi, Antropologi dan Psikologi yang tidak terlepas satu sama lain. Dalam ilmu Teologi khususnya Teologi Kristen ada banyak deskripsi interaksi manusia serta dengan atributnya yang melahirkan gagasan teologi yang difaktori beberapa faktor afektif dan kognitif manusia. 

Berdasarkan penelasan di atas maka kita dapat mengetahui, isi konten Teologi pasti melibatkan elemen-elemen yang berasal dari manusia. Demikian juga ilmu Antropologi bersinggungan dengan ilmu psikologi yang membahas tentang unsur-unsur manusia yang bersifat non fisik seperti afektif, kognitif dan hal sebagainya. 

Penulis akan menjabarkan secara singkat hubungan teologi dan psikologi, kiranya melalui artikel ini, Anda dapat menemukan satu konsep yang mendasar dan berguna bagi kehidupan praktis, tentang Hubungan Teologi Kristen dengan kehidupan individu manusia. Ada dua alasan mengapa Teologi sangat koheren dengan kehidupan setiap individu manusia. Antara lain;

  • Teologi sebagai alat membentuk presuposisi dan worldview manusia.
  • Teologi sebagai wujud aktualisasi diri.

Hubungan Teologi Kristen dengan Kehidupan Individu Manusia

1 Teologi sebagai alat membentuk presuposisi dan worldview manusia.

Presuposisi adalah dasar pijakan yang dimiliki oleh individu yang melatarbelakangi worldview dan aksinya. (Praanggapan - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Memiliki kesadaran akan worldview yang didasarkan presuposisi merupakan satu prinsip yang tidak terlepaskan dari yang dipunyai manusia yang berfungsi sebagai sistem peroleh pemahaman akan diri dan pengertian akan wawasan dunia. 

Karena tanpa ada presuposisi yang menjadi dasar pijakkan manusia untuk berpikir, yang mengatur juga cara pandang manusia. Tentunya manusia itu tidak memiliki kesadaran atau mati. (Ronald Nash. Konflik wawasan dunia, hal 21). Jika Teologi Kristen yang menjadi presuposisi satu individu, maka cara memandang dan aksi yang dilakukan oleh satu individu tersebut akan diatur, berdalil pada presuposisi yang dipegangnya. 

Agustinus, Uskup dari Hippo mengatakan “kita harus mempercayai sesuatu sebelum mengetahui sesuatu”. Ketika berpikir, manusia menganggap beberapa hal itu sudah selayaknya demikian karena presuposisi mengatur, menguatkan serta mengkonstruksikan kerangka worldview nya yang selanjutnya secara kronologis akan memengaruhi aksinya. 

Rasul Paulus memberikan indikasi ini, ketika Ia menperingatkan muridnya. Timotius untuk selalu mengingat kitab Suci yang tentunya memuat teologi Kristen, sepenuhnya yang dimana kitah suci yang diilhamkan ini mampu memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebeneran dan menyatakan kesalahan.

2 Timotius 3:15-16 (TB) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Ronald Nash mengatakan juga, “presuposisi sangat penting karena ialah yang menentukan metode dan tujuan pemikiran teoritis.” (Ibid, hal 30.) “Presuposisi manusia selalu akan dibentuk dan terstruktur selama ia hidup ketika diperhadapkan suatu kasus. inilah yang disebut Jean Piaget sebagai asimilasi.” (B. R. Hergenhahn & Matthew H. Olson, Theories Of Learning, Hal 314.)

2. Teologi sebagai wujud aktualisasi diri.

Psikologi humanistik lahir di abad modern sebagai penentang psikologis behaviorisme dan psikoanalisis yang mereduksi elemen-elemen manusia yang seharusnya ada. Psikologis behavorisme yang memberi posisi kepada manusia sebagai robot tanpa jiwa dan Psikoanalisis memberi posisi manusia sebagai pribadi yang disusupi naluri keprimitifan. 

Ditinjau dari Psikologi Humanistik, manusia adalah mahluk yang berkelebihan, mahluk yang mencari makna. Manusia bukanlah seonggok daging hidup yang tidak memiliki kesadaran, kehendak dan berpikir. Manusia juga bukanlah pelakon sandiwara yang dipaksa memainkan satu peran. 

Abraham Maslow, salah satu psikolog humanistik menyatakan bahwa dari lima kebutuhan manusia, kebutuhan aktualisasi diri berada di posisi paling atas. Seseorang yang bisa mengaktualisasikan diri adalah seseorang yang mempunyai kebermaknaan dalam hidup, dan Teologi tentu mempunyai banyak peran dalam wilayah ini. Adapun lima kebutuhan diri yang diformulasikan oleh Abraham Maslow.

Abraham Maslow mendefinisikan aktualisasi diri sebagai penggunaan pemanfaatan secara penuh bakat, atau berkapasitas. Kapasitas merupakan suatu potensi yang dimiliki oleh manusia. Berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, maka  jati diri manusia dapat terpenuhi. 

Piramida Abraham Maslow.

Proses aktualisasi adalah perkembangan atau penemuan jati diri dengan pengaplikasian kapasitas yang dimiliki dan terpenuhi akan kebutuhannya sebagai manusia. Sebagai Kristen, kita tidak perlu lagi mencari jati dirinya sebagai manusia dengan usaha usaha keperluan yang sudah dipenuhi.

Jati diri seorang Kristen adalah menjadi ciptaan yang imago Dei karena Kristus Yesus Tuhan sudah berkorban bagi kita di kayu salib dan taat kepada Allah Bapa dengan sempurna. Supaya setiap manusia yang percaya kepadaNya dipulihkan dari dosa. Manusia dilepaskan dari perbudakan dosa. Manusia yang dulunya hamba dosa, kini menjadi anak-anak Allah.

Menjadi imago Dei merupakan wujud merepresentasikan dan merefleksikan Allah dalam hidup ini, itulah aktualisasi Kristen. Seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam khotbahnya di bukit, sebagai anak-anak Bapa, tentunya aksi anak-anak-Nya membawa dampak bagi dunia ini yang isinya orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus.

Matius 5:44-45 (TB) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Baca Juga: 7 perkataan salib sebelum Yesus mati

Menjadi penganut teologi Kristen, sadar atau tidak, teologi yang dianut tersebut akan memproyeksikan diri Keluar. Sehingga bisa dikenal orang lain, secara empiris dan menjadi identitas seseorang. Sangat cocok dengan apa yang disabdakan Tuhan Yesus. 

Matius 12:35 (TB) Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.

Perhatikan frasa yang digaris bawahi yaitu orang yang baik dan orang yang jahat. Dari subjek ini memiliki keterangan kata sifat atributif yang melekat tidak terpisahkan. Dalam bahasa yunaninya kata sifat ini menyatu tidak terpisahkan. 

ΜΑΤΘΑΙΟΝ 12:35 (GB)  ο αγαθος ανθρωπος εκ του αγαθου θησαυρου εκβαλλει αγαθα και ο πονηρος ανθρωπος εκ του πονηρου θησαυρου εκβαλλει πονηρα

Orang yang baik tentu menghasilkan sesuatu yang baik sesuai kodratnya sebagai orang yang baik, demikian juga orang yang jahat menghasilkan sesuatu yang jahat juga sesuai kodratnya sebagai orang jahat. Kembali Tuhan Yesus mengingatkan, untuk mengenal seseorang, identitasnya dapat dilihat dari buahnya yaitu aksi yang ditunjukkannya. Matius 7:20 (TB) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Inilah elemen penting yang diakibatkan teologi yaitu pengaktualisasi diri. Teolog Kristen menjadi perwujudan identitas siapa sebenarnya manusia dan untuk apa ia hadir di dalam dunia ini.

Jadi, Teologi Kristen sangat bersignifikan dan koheren dengan perilaku manusia dan aktualisasi diri. Mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan tentu akan mengubah kehidupan kita baik dalam perilaku yang mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan apa yang Allah mau dan seluruh kehidupan. 

Mindsetnya berpusat kepada Allah saja, bukan untuk diri sendiri. Dengan perenungan akan Firman yang mengubahkan mindset dan perilaku, tentu dari tata perilaku kehidupan kita akan dikenali orang kalau kita adalah Kristen, pengikut Tuhan Yesus Kristus.

Baca Juga: Belajar Kejadian 3 manusia yang telah berdosa

Melalui artikel  Hubungan Teologi Kristen dengan kehidupan individu manusia. Kiranya Allah Roh Kudus, membukakan kepada Anda satu dasar yang kokoh tentang bagaimana Teologi Kristen. Menjadikan diri Anda semakin mengerti bahwa aktualisasi diri kita di dalam Yesus merupakan hasil karya Kristus untuk memberitakan Dia dan memuliakan Allah. AMIN

Tulisan ini ditulis oleh saudara saya; Gilbeth Pramana Saputra

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk " Hubungan Teologi Kristen dengan Kehidupan Individu Manusia"