Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kumpulan Renungan Singkat Firman TUHAN, Kumpulan Renungan Klasik.

Saya megumpulkan renungan tulisan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon berikut renungan-renungannya. Tentunya renungan ini sangat klasik tetapi memiliki kuasa yang besar, berpusat pada Injil dan menyadarkan kita akan dosa dan kasih karunia yang begitu besar dari Yesus Kristus Tuhan Kita.

Baca Juga: Kumpulan Quote dan renungan tulisan Charles H. Spurgeon

Selamat membaca dan merenungkan.

Kumpulan Renungan Singkat Firman TUHAN, Kumpulan Renungan Klasik.

1. Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur. [Kidung Agung 1:13]

Mur merupakan pilihan yang baik untuk menggambarkan Yesus karena berharga, wangi, nikmat, berkhasiat penyembuhan, awet, memiliki fungsi desinfektan, dan berhubungan dengan pengorbanan. Tapi mengapa Dia dibandingkan dengan "sebungkus mur"? 

Pertama, karena banyak. Dia bukanlah setetes mur, Dia satu peti penuh. Dia bukan setangkai atau sekuntum, tetapi sebungkus penuh. Semua kebutuhanku dicukupkan di dalam Kristus; kiranya diriku tidak berlambat-lambat berbakti bagi Dia. 

Yesus yang kita cintai digambarkan dengan "sebungkus", karena keanekaragaman: karena di dalam Kristus bukan hanya satu hal yang penting, tetapi "dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan [Kolose 2:9];" segala sesuatu yang diperlukan ada di dalam diri-Nya.

 Perhatikan Yesus dalam berbagai karakter-Nya, dan engkau akan melihat keanekaragaman yang menakjubkan—Nabi, Imam, Raja, Suami, Sahabat, Gembala.

 Renungkan Dia dalam kehidupan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan kedatangan-Nya yang kedua; pandanglah Dia dalam kebajikan, kelembutan, keberanian, penyangkalan diri, cinta, kesetiaan, kebenaran, dan keadilan-Nya—di mana saja Dia adalah sebungkus yang berharga. 

Dia adalah “sebungkus mur” karena pengawetan—tidak ada sebutir pun mur yang jatuh ke lantai atau diinjak-injak, tetapi mur dalam bungkus, mur untuk disimpan di dalam peti. 

Kita harus menghargai Dia sebagai harta karun yang terbaik; kita harus menjunjung kata-kata-Nya dan ketetapan-Nya; dan kita harus menyimpan pikiran kita akan Dia dan pengetahuan akan Dia dengan kunci gembok, agar jangan sampai setan mencuri sesuatu dari kita. 

Baca Juga: Manusia telah jatuh ke dalam dosa

Terlebih lagi, Yesus adalah "sebungkus mur" karena kekhususan; lambang ini menunjukkan konsep kasih karunia yang istimewa dan membeda-bedakan. 

Dari sebelum dunia dijadikan, Dia telah dikhususkan bagi umat-Nya; dan Dia memberikan wewangian-Nya hanya untuk mereka yang mengerti caranya masuk ke dalam persekutuan bersama Dia, untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Dia. 

Oh! diberkatilah mereka yang telah Tuhan bukakan rahasia-rahasia-Nya, dan yang baginya Ia telah mengkhususkan diri-Nya. Oh! terkhususkan dan bahagia, orang-orang yang dengan itu berkata, "Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur." ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


2. Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya. [Mazmur 22:14]

Pernahkah bumi atau langit menyaksikan peristiwa duka yang lebih menyedihkan daripada ini! Dalam jiwa dan tubuh, Tuhan kita merasa diri-Nya lemah seperti air yang dicurahkan ke atas tanah. 

Penegakan salib telah mengguncang-Nya dengan kejam, telah menegangkan semua ligamen, menyakitkan setiap saraf, dan kurang lebih melepaskan semua tulang-Nya dari sendi [Mazmur 22:14]. 

Dibebani dengan berat badan-Nya sendiri, Penderita agung itu merasakan kejang yang meningkat setiap waktunya sepanjang enam jam. 

Rasa ingin pingsan dan sakit terlalu besar; sementara dalam kesadaran-Nya sendiri Dia menjadi tidak lain sebuah tumpukan kesengsaraan dan rasa ingin pingsan. 

Ketika Daniel melihat penglihatan yang besar itu, demikian ia menjelaskan perasaannya, "hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku." [Daniel 10:8] Betapa lebih pucat lagi Nabi kita yang lebih besar itu ketika Dia melihat penglihatan yang mengerikan akan murka Allah, dan merasakannya dalam jiwa-Nya sendiri! 

Baca Juga: Kasih setia yang Alkitab nyatakan untuk kita

Bagi kita, perasaan seperti yang Tuhan kita alami pasti tidak akan tertahankan, dan kemudian ketidaksadaran datang menolong kita dari perasaan tersebut; tetapi dalam kasus-Nya, Dia terluka, dan merasakan tusukan pedang; Dia minum habis cawan itu dan mengecap setiap tetesnya.

    "Oh Raja segala Duka! (sebuah gelar yang ganjil, namun benar adanya

    hanya layak bagi Engkau di antara segala raja)

    Oh Raja segala Luka! bagaimana aku berduka untuk-Mu,

    Yang mendahului aku dalam segala duka!" [1]

Sementara kita berlutut di hadapan takhta Juruselamat yang sekarang telah naik ke surga, marilah kita mengingat baik-baik bagaimana cara Dia mempersiapkan takhta itu sebagai takhta kasih karunia bagi kita; marilah kita di dalam roh minum dari cawan-Nya, supaya kita diberi kekuatan dalam saat-saat yang begitu berat kapanpun terjadinya. 

Dalam tubuh jasmani-Nya setiap anggota menderita, maka pastilah terjadi juga dalam rohani-Nya; tetapi seperti halnya dari seluruh kesedihan dan kesengsaraan-Nya, tubuh-Nya keluar tanpa luka menuju kemuliaan dan kuasa, begitu juga tubuh mistik-Nya akan keluar melewati perapian tanpa sedikit pun bau terbakar. ~ [1] Bagian dari puisi The Thanksgiving oleh George Herbert, seorang pendeta Anglikan. Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


3. Tempat yang disebut Kalvari. [Lukas 23:33]

Bukit kenyamanan adalah bukit Kalvari; rumah penghiburan dibangun dengan kayu dari salib itu; bait berkat surgawi didirikan di atas batu karang yang terbelah — terbelah oleh tombak yang menikam lambung-Nya. Tidak ada adegan di dalam sejarah suci yang pernah menggembirakan jiwa seperti tragedi Kalvari.

    "Tidakkah aneh, masa tergelap

    Yang pernah menghampiri bumi yang berdosa,

    Dapat menyentuh hati dengan kuasa yang lebih lembut,

    Agar nyaman, daripada tawa malaikat?

    Sehingga ke arah Salib mata peratap hendaklah tertuju,

    Lebih lekas daripada ke tempat bintang-bintang Betlehem menyala?"

Cahaya muncul dari tengah hari dan tengah malam Golgota, dan setiap tanaman ladang bermekaran manis di bawah bayang-bayang kayu yang pernah terkutuk itu. Di tempat kehausan itu, anugerah telah menggali sumber air yang selalu menyembur murni seperti kristal, yang setiap tetesnya mampu mengurangi kesengsaraan umat manusia. 

Engkau yang pernah memiliki masa-masa konflik, akan mengakui bahwa bukan di Bukit Zaitun engkau pernah menemukan kenyamanan, bukan pula di bukit Sinai, maupun di Tabor; namun Getsemani, Gabata, dan Golgota yang telah menjadi sarana kenyamanan bagimu. 

Tumbuh-tumbuhan pahit Getsemani sudah sering mencabut kepahitan hidupmu; cambuk Gabata sering mencambuk lepas kekuatiran dirimu, dan erangan Kalvari telah membuat semua erangan lain pergi. 

Begitulah Kalvari memberikan kita kenyamanan yang langka dan kaya. Kita tidak akan pernah tahu betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus jika saja Ia tidak mati; kita juga tidak bisa mengira dalamnya kasih sayang Bapa jika Ia tidak memberikan Anak-Nya untuk mati. 

Seluruh kemurahan umum yang kita nikmati bernyanyi tentang cinta, seperti keong, ketika kita letakkan di telinga kita, berbisik tentang lautan yang dalam tempat ia berasal; tetapi jika kita ingin mendengar lautan itu sendiri, kita tidak boleh melihat berkat sehari-hari kita, melainkan hal-hal yang terjadi pada penyaliban itu. 

Barangsiapa ingin tahu tentang cinta, hendaklah ia pergi ke Kalvari dan melihat Seorang yang penuh kesengsaraan [Yesaya 53:3] itu mati.~Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


4. Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. [Lukas 23:27]

Di tengah keramaian yang memburu Penebus menuju ajalnya, ada beberapa jiwa murah hati yang penderitaan pahitnya mencari kelepasan melalui tangisan dan ratapan — sebagai musik yang pas untuk mengiringi derap kesedihan.

 Ketika jiwaku, di dalam imajinasi, dapat melihat sang Juruselamat memikul salib-Nya ke Kalvari, jiwaku bergabung dengan para perempuan saleh itu dan menangis bersama mereka; karena memang ada penyebab yang lebih hakiki dari kesedihan itu — penyebab yang lebih dalam daripada yang dipikirkan para perempuan yang berkabung itu. 

Mereka menangisi kemurnian hati yang diperlakukan dengan salah, kebaikan yang dianiaya, cinta yang berdarah, kelemahlembutan yang hampir mati; tapi hatiku memiliki alasan yang lebih dalam dan lebih pahit untuk berkabung. 

Dosa-dosakulah cambuk yang mengoyak bahu-Nya yang mulia, dan dosa-dosakulah yang mengenakan mahkota duri pada alis-Nya yang berdarah: dosa-dosaku berseru: "Salibkan Dia! salibkan Dia!" dan meletakkan salib itu di atas bahu-Nya yang murah hati. 

Pengarakan Dia kepada kematian merupakan sebuah kesedihan kekal: tetapi menyadari bahwa dirikulah pembunuh-Nya merupakan duka yang jauh lebih besar, tidak terhingga besarnya, lebih dari yang dapat diungkapkan pancuran air mata.

Alasan para perempuan mencintai-Nya dan menangisi-Nya itu tidak sulit ditebak, tetapi mereka pasti tidak memiliki alasan yang lebih besar untuk mencintai dan berduka daripada yang hatiku miliki.

 Janda Nain melihat anaknya dipulihkan — tetapi aku sendiri telah dibangkitkan kepada hidup yang baru. Ibu mertua Petrus sembuh dari demam — tetapi aku dari wabah dosa yang lebih besar. Dari Magdalena tujuh setan diusir keluar — tetapi seluruh legiun sudah dikeluarkan dariku.

 Maria dan Marta mendapatkan kunjungan-Nya — tetapi Dia tinggal di dalamku. Ibu-Nya melahirkan tubuh-Nya — tetapi Dia terbentuk dalam diriku yaitu pengharapan akan kemuliaan. 

Oleh sebab diriku tidak berhutang lebih sedikit daripada para perempuan kudus itu, hendaklah diriku tidak juga bersyukur maupun berduka lebih sedikit daripada mereka.

  •     "Cinta dan duka membelah hatiku,
  •     Dengan air mataku kaki-Nya kuseka —
  •     Keteduhan dalam hati tinggal,
  •     Menangisi Dia yang mati untuk menyelamatkan."

~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


5. Jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering? [Lukas 23:31]

Di antara beberapa penafsiran dari pertanyaan sugestif ini, yang berikut ini penuh dengan pengajaran: "Jika Orang yang tidak berdosa sebagai pengganti orang-orang berdosa, demikian menderita, apakah yang akan dilakukan terhadap pendosa itu sendiri — kayu yang kering — ketika ia jatuh ke tangan Allah yang murka?" 

Ketika Allah melihat Yesus di tempat pendosa, Dia tidak melepaskan-Nya; dan ketika Allah menemukan orang yang tidak lahir baru dan tanpa Kristus, Allah tidak akan melepaskannya. O pendosa, Yesus dibawa oleh musuh-musuhnya: begitu pula seharusnya engkau diseret oleh roh jahat ke tempat yang telah diperuntukkan bagimu. 

Yesus ditinggalkan Allah; dan jika Dia, yang menjadi pendosa hanya karena diperhitungkan kepada-Nya, ditinggalkan, betapa engkau seharusnya lebih lagi? 

"Eli, Eli lama sabakhtani?" lengkingan yang sungguh mengerikan! Tetapi apakah seruanmu saat engkau harus berkata, "O Allah! O Allah! Mengapa Engkau meninggalkanku?" dan jawaban-Nya akan datang, "Karena kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu." [Amsal 1:25-26] 

Bila Allah tidak melepaskan Anak-Nya sendiri, apalagi engkau! Cambukan kawat yang terbakar seperti apakah yang akan kauterima ketika hati nurani memukul keras dirimu dengan ngerinya.

Engkau yang kaya, engkau yang bersuka, engkau pendosa yang paling merasa dirinya benar — siapa yang akan berdiri di tempatmu ketika Allah berkata, "Hai pedang, bangkitlah terhadap orang yang menolak Aku; bunuhlah dia dan biarlah dia merasakan kesakitan itu selamanya"? 

Yesus diludahi: hai pendosa, malu seperti apakah yang engkau dapatkan! 

Kita tidak dapat menyimpulkan dalam satu kata seluruh beban kesedihan yang bertemu di atas kepala Yesus yang mati bagi kita; karena itu mustahil bagi kami untuk mengatakan padamu aliran sungai atau lautan kesedihan apakah yang menggilas rohmu jika engkau mati seperti keadaanmu sekarang ini.

 Engkau bisa mati seperti itu, engkau bisa mati sekarang. Dengan kesakitan Kristus yang luar biasa, oleh luka-luka dan darah-Nya, janganlah mendatangkan bagimu sendiri kutukan yang akan datang! 

Percayalah kepada Anak Allah dan engkau takkan pernah mati.~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


6. Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai? [Mazmur 4:2]

Seorang penulis mengajar kita dengan membuat daftar penghargaan yang penuh duka yang diberikan orang-orang Israel yang buta kepada Sang Raja yang telah lama mereka nantikan.

1. Mereka memberi-Nya prosesi kehormatan, di mana legiun-legiun Romawi, imam-imam Yahudi, para laki-laki dan perempuan turut serta, sementara Ia sendiri memikul salib-Nya.

 Ini adalah kemenangan yang dianugerahkan dunia bagi Dia yang datang untuk menggulingkan musuh-musuh manusia yang paling menakutkan. 

Teriakan olok-oloklah satu-satunya sanjungan bagi-Nya, dan ejekan kejamlah satu-satunya nyanyian pujian bagi-Nya.

2. Mereka menyajikan Dia anggur kehormatan. Bukannya sebuah cawan emas dengan anggur yang baik, mereka menawarkan minuman maut seorang kriminal yang membius, yang Ia tolak karena Ia hendak mencicipi rasa sesungguhnya dari maut; dan setelah itu ketika Ia berseru, "Aku haus," mereka memberi-Nya anggur bercampur empedu, yang diunjukkan ke mulut-Nya dengan bunga karang. 

Oh! celaka, sungguh perbuatan yang tidak ramah dan menjijikkan kepada Putera Sang Raja.

3. Ia dibekali para penjaga kehormatan, yang menunjukkan hormat mereka terhadap-Nya dengan mengundi pakaian-Nya, yang telah mereka sita sebagai barang rampasan.

 Begitulah pengawal dari Yang Terpuji dari Sorga; yaitu sekelompok penjudi yang brutal.

4. Takhta kehormatan didirikan untuk-Nya di atas kayu yang berdarah; tidak ada tempat peristirahatan yang lebih nyaman yang para pemberontak berikan kepada Raja mereka.

 Salib itu, pada kenyataannya, adalah ungkapan perasaan dunia akan Dia yang sepenuhnya; "Beginilah," sepertinya mereka berkata, "hai Engkau Putera Allah, caranya Allah sendiri akan kami perlakukan, kalau saja kami bisa menghampiri-Nya."

5. Gelar kehormatan-Nya tertulis "Raja orang Yahudi," tetapi bangsa yang dibutakan itu jelas-jelas menolak, dan sebetulnya mereka memanggil-Nya "Raja perampok," dengan lebih menyukai Barabas, dan menempatkan Yesus di tempat yang paling memalukan di antara dua perampok. 

Dengan demikian kemuliaan-Nya ditukar menjadi kehinaan oleh anak-anak manusia, tapi kemuliaan-Nya itu akan menggembirakan mata orang-orang kudus dan para malaikat, dunia tanpa akhir. ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


7. Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan. [Ibrani 13:13]

Yesus memikul salib-Nya, pergi untuk menderita di luar pintu gerbang. 

Alasan orang Kristen untuk meninggalkan kemah dosa dan agama dunia bukanlah karena suka menyendiri, tetapi karena Yesus melakukannya; dan seorang murid harus mengikuti Gurunya. 

Kristus "tidak berasal dari dunia:" [Yohanes 17:16] hidup-Nya dan kesaksian-Nya adalah proses yang terus-menerus melawan keserupaan dengan dunia. 

Tidak pernah ada kasih sayang terhadap umat manusia yang begitu meluap seperti yang engkau temukan di dalam Dia; tapi Dia tetap terpisah dari orang-orang berdosa. 

Dengan cara seperti itu umat Kristus harus "pergi kepada-Nya." Mereka harus mengambil posisi mereka "di luar perkemahan," sebagai saksi pembawa kebenaran. 

Mereka harus siap menapaki jalan yang lurus dan sempit. Mereka harus memiliki hati yang berani, gigih, seperti singa, pertama-tama mencintai Kristus dan kemudian kebenaran-Nya, dan Kristus dan kebenaran-Nya melampaui seluruh dunia. 

Yesus memerintahkan orang-orang-Nya "keluar dari perkemahan" demi pengudusan mereka sendiri. 

Engkau tidak dapat bertumbuh dalam anugerah sampai tingkat yang tinggi jika engkau serupa dengan dunia.

 Kehidupan yang terpisah itu mungkin merupakan jalan setapak yang penuh derita, tetapi jalan itulah jalan raya keselamatan; dan meskipun hidup yang terpisah itu mungkin mengakibatkan banyak kepedihan, dan membuat setiap hari menjadi pertempuran, namun ternyata kehidupan itu merupakan kebahagiaan. 

Tidak ada sukacita yang bisa melampaui sukacita prajurit Kristus: Yesus menyatakan diri-Nya begitu anggun, dan memberikan penyegaran yang begitu manis, sehingga sang pejuang merasa lebih tenang dan damai dalam pergumulan sehari-hari daripada orang-orang lain pada jam istirahat mereka. 


8. Lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. [Lukas 23:26]

Kita melihat di dalam peristiwa Simon membawa salib, sebuah gambaran pekerjaan Jemaat di segala zaman; Jemaat adalah pembawa salib yang mengikuti Yesus.

 Perhatikanlah, hai orang Kristen, Yesus tidak menderita untuk menghindarkanmu dari penderitaan. 

Ia memikul salib, bukan supaya engkau dapat terlepas darinya, tapi supaya engkau dapat menanggungnya. Kristus membebaskanmu dari dosa, tetapi bukan dari dukacita. Ingatlah itu, dan bersiaplah untuk menderita.

Tapi marilah kita menghibur diri dengan pemikiran ini, bahwa dalam kasus kita, seperti pada Simon, itu bukan salib kita, tetapi salib Kristuslah yang kita pikul. 

Ketika engkau dianiaya karena kesalehanmu; ketika agama yang engkau anut membuatmu teruji oleh ejekan-ejekan kejam, ingatlah itu bukan salibmu, itu adalah salib Kristus; betapa menyenangkannya memikul salib Yesus Tuhan kita!

Engkau memikul salib mengikuti-Nya. Engkau mempunyai Seorang mulia yang menyertai; jalanmu ditandai dengan jejak kaki dari Tuhanmu.

 Tanda dari bahu-Nya yang merah darah ada pada beban berat itu. Ini adalah salib-Nya dan Ia berjalan di depanmu seperti seorang gembala berjalan di depan domba-dombanya. Pikullah salibmu setiap hari, dan ikutlah Dia.

Jangan lupa juga bahwa engkau memikul salib ini bersama-sama. Ada beberapa yang berpendapat bahwa Simon hanya membawa salah satu ujung salib, dan bukan keseluruhannya. 

Hal itu sangat mungkin; Kristus mungkin memikul bagian yang lebih berat, pada bagian kayu yang melintang, dan Simon mungkin memikul ujung yang lebih ringan. 

Tentu saja demikianlah denganmu; engkau membawa bagian ujung salib yang lebih ringan, Kristus menanggung ujung yang lebih berat.

Dan ingat, meskipun Simon harus menanggung salib sebentar sekali, hal itu memberinya penghormatan yang kekal.

 Demikianlah salib yang kita bawa paling-paling juga hanya sebentar, dan kemudian kita akan menerima mahkota, dan kemuliaan. 

Tentunya kita harus mencintai salib, dan, bukannya menghindari salib, melainkan sayang sekali kepada salib, ketika salib itu mengerjakan bagi kita "sebuah kemuliaan yang jauh lebih besar dan kekal." [2 Korintus 4:17] ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

Jalan raya kekudusan adalah jalan raya persekutuan. Dengan demikian kita berharap untuk memenangkan mahkota jika kita dimampukan oleh anugerah ilahi untuk setia mengikuti Kristus "di luar perkemahan." 

Mahkota kemuliaan akan mengikuti salib pemisahan. Malu yang sekejap akan dibalas dengan kehormatan kekal; menanggung kesaksian yang sesaat akan nampak seperti bukan apa-apa ketika kita "selamanya dengan Tuhan."~Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


9. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. [2 Korintus 5:21]

Hai orang Kristen yang meratap! mengapa engkau menangis?

 Apakah engkau meratapi kebobrokanmu sendiri? 

Pandanglah kepada Tuhanmu yang sempurna, dan ingat, engkau dipenuhi di dalam Dia [Kolose 2:10]; engkau di hadapan Allah sama sempurnanya dengan kalau saja engkau tidak pernah berbuat dosa; tidak, lebih dari itu, Tuhan Sang Kebenaran kita telah memakaikan pakaian ilahi untukmu, sehingga engkau memiliki lebih dari kebenaran manusia—engkau memiliki kebenaran Allah. 

O engkau yang meratap karena dosa keturunan dan rusaknya dirimu, ingatlah, tidak satu pun dosamu yang dapat menghukum engkau. Engkau telah belajar untuk membenci dosa; tapi engkau telah belajar juga untuk mengetahui bahwa dosa bukanlah milikmu — dosa telah diletakkan di atas kepala Kristus. Posisimu bukan dalam dirimu sendiri—melainkan di dalam Kristus; penerimaan atas dirimu bukan di dalam dirimu, melainkan di dalam Tuhanmu; hari ini, di dalam keberdosaanmu, engkau diterima Tuhan sebaik ketika engkau berdiri di depan takhta-Nya, bebas dari segala kebobrokan. 

O, kumohon padamu, berpeganglah pada pemikiran yang berharga ini, sempurna dalam Kristus! Sebab engkau telah "dipenuhi di dalam Dia." [1] Dengan mengenakan pakaian Juruselamatmu, engkau sama kudusnya dengan Sang Kudus. "Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?" [Roma 8:34] Hai orang Kristen, hendaklah hatimu bersukacita, karena engkau "dikaruniakan-Nya di dalam Dia, yang dikasihi-Nya" [Efesus 1:6] [2] — apa yang engkau takuti? Biarlah senyum selalu di wajahmu; hiduplah di dekat Tuanmu; hiduplah di pinggiran Kota Surgawi; karena segera, ketika waktumu telah tiba, engkau akan bangkit di mana Yesusmu duduk, dan memerintah di sebelah kanan-Nya; dan semua ini adalah karena Tuhan ilahi "yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." 

~ [1] Dalam KJV, complete in him [2] Dalam KJV, he hath made us accepted in the beloved, Dia telah membuat kita diterima di dalam yang dikasihi-Nya.

Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


10. Mereka menerima Yesus. [Yohanes 19:16] [1]

Sepanjang malam Dia kesakitan, Dia menghabiskan pagi hari di aula Kayafas, Dia tergesa-gesa diberangkatkan dari Kayafas ke Pilatus, dari Pilatus ke Herodes, dan dari Herodes kembali lagi ke Pilatus; maka itu, sedikit kekuatan saja tersisa pada-Nya, namun Dia tidak diizinkan menerima rehat atau istirahat. 

Mereka menginginkan darah-Nya, dan karena itu dibawanya Dia keluar untuk mati, dengan dibebani salib. 

Oh sungguh prosesi yang menyedihkan! Pantas saja puteri-puteri Salem menangis. Jiwaku, menangislah engkau juga.

Apakah yang kita pelajari di sini ketika kita melihat Tuhan kita yang mulia digiring maju?

 Tidakkah kita menangkap kebenaran yang ditunjukkan dalam bayang-bayang melalui kambing jantan bagi Azazel itu? 

[Imamat 16:8] [2] Bukankah si imam besar telah membawa kambing jantan bagi Azazel itu dan meletakkan tangannya di atas kepala kambing itu, mengakui dosa-dosa umat supaya dosa-dosa tersebut dapat ditimpakan ke atas kambing itu dan tidak lagi berada pada umat?

 Kemudian kambing itu dibawa pergi oleh seseorang yang sudah siap sedia ke padang gurun [Imamat 16:21], dan dia bawa pergi dosa umat, sehingga jika dosa-dosa tersebut dicari, dosa-dosa tersebut tidak dapat ditemukan. 

Sekarang kita melihat Yesus dibawa ke hadapan imam-imam dan penguasa-penguasa, yang menyatakan Dia bersalah; Allah sendiri mengaitkan dosa-dosa kita kepada-Nya, "Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian;" [Yesaya 53:6] "Dia dibuat menjadi dosa bagi kita," [2 Korintus 5:21] dan, sebagai pengganti atas kesalahan kita, menanggung dosa kita di atas bahu-Nya, yang dinyatakan oleh salib; kita melihat Kambing Jantan bagi Azazel yang agung itu dibawa pergi oleh staf pengadilan yang bertugas. 

Hai yang terkasih, dapatkah engkau merasa yakin bahwa Ia telah membawa pergi dosamu? Ketika engkau melihat salib di atas pundak-Nya, apakah salib itu mewakili dosamu? Ada satu cara engkau dapat menentukan apakah Ia membawa dosamu atau tidak. 

Sudahkah engkau meletakkan tanganmu di atas kepala-Nya, mengaku dosamu, dan percaya di dalam Dia? 

Maka dosamu tidak lagi terletak padamu; itu semua telah ditransfer dan ditimpakan kepada Kristus oleh karena berkat, dan Ia menanggung pada bahu-Nya beban yang lebih berat daripada salib itu sendiri.

Janganlah gambaran ini lenyap sampai engkau sudah bersukacita di dalam keselamatanmu sendiri, dan memuja Sang Penebus yang pengasih yang kepada-Nya kesalahan-kesalahanmu telah dibebankan.

~ [1] Dalam KJV, They took Jesus, and led him away. Mereka mengambil Yesus, dan membawa-Nya pergi.

[2] Dalam KJV, scapegoat, kambing hitam

Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


11. Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun. [Matius 27:14]

Dia tidak pernah lambat berbicara ketika Ia dapat memberkati anak-anak manusia, tapi Ia tidak mengatakan satu kata pun untuk diri-Nya sendiri. "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" [Yohanes 7:46] dan tidak pernah manusia diam seperti Dia. 

Apakah keheningan yang luar biasa ini adalah rujukan kepada pengorbanan diri-Nya yang sempurna? 

Apakah itu menunjukkan bahwa Ia tidak mengucapkan sepatah kata untuk mencegah pembantaian terhadap pribadi-Nya yang kudus, yang telah didedikasikan-Nya sebagai kurban bagi kita? 

Apakah Ia telah begitu sepenuhnya menyerahkan diri sehingga Ia tidak akan ikut campur demi kepentingan-Nya sendiri, bahkan di dalam hal terkecil, tetapi terikat dan dibunuh sebagai seorang korban yang tak melawan dan tak mengeluh? 

Apakah keheningan ini menunjukkan bahwa dosa tidak dapat dibela? 

Tidak ada yang bisa dikatakan untuk menyembunyikan atau memberikan dalih atas kesalahan manusia; dan karena itulah, Dia yang menanggung keseluruhan bebannya berdiri membisu di hadapan hakim-Nya. 

Baca Juga: Pendalaman Roma 12:2, hidup tidak menjadi sama dengan dunia

Bukankah keheningan yang sabar adalah jawaban terbaik bagi dunia yang selalu membantah? 

Ketahanan yang tenang kadang-kadang menjawab pertanyaan jauh lebih meyakinkan daripada fasih bibir yang paling hebat. 

Pembela terbaik agama Kristen pada masa-masa awal adalah para martir. Paron [1] menghentikan martil dengan diam-diam menanggung pukulan-pukulannya. Bukankah Anak Domba Allah memberikan kita sebuah contoh kebijaksanaan yang agung? 

Ketika setiap kata merupakan kesempatan baru untuk menghujat, sudah seharusnya bensin tidak disediakan untuk memperbesar api dosa. 

Hal yang ambigu dan palsu, yang tidak layak dan hina, akan segera saling menggulingkan dan berbantahan dengan dirinya sendiri, dan karena itu yang sejati boleh tenang dan hikmatnya adalah keheningan. 

Terbukti Tuhan kita, dengan keheningan-Nya, memberikan penggenapan nubuat yang luar biasa. Sebuah pembelaan yang panjang dari diri-Nya bakal bertentangan dengan prediksi Yesaya: “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” [Yesaya 53:7] 

Dengan ketenangan-Nya, Ia dengan meyakinkan membuktikan diri-Nya adalah Anak Domba Allah yang sejati. Demikianlah kita menyambut-Nya pagi ini. Bersamalah dengan kami, Yesus, dan dalam keheningan hati kami, biarlah kami mendengar suara kasih-Mu.

~[1] Landasan yang dipakai seorang pandai besi

Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


12. Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! [Kidung Agung 1:2]

Selama beberapa hari kita telah tinggal dalam penderitaan Sang Juruselamat, dan untuk beberapa waktu mendatang kita masih akan berlama-lama di sana. 

Di awal bulan baru, mari kita mencari keinginan yang sama di hadapan Tuhan kita seperti orang-orang yang hatinya bersinar sebagai mempelai pilihan. 

Lihatlah bagaimana si gadis segera melompat kepada dia; tidak ada kata-kata pendahuluan; si gadis bahkan tidak menyebutkan nama laki-laki tersebut; dia segera berada di inti utamanya, karena gadis ini berbicara tentang diri si laki-laki yang adalah satu-satunya di dunia baginya. 


Begitu berani cintanya! Sebuah perendahan diri yang membuat orang yang menyesal dan menangis itu mengurapi kaki-Nya dengan minyak narwastu — cinta yang melimpah itulah yang membuat Maria yang lembut duduk di kaki-Nya dan belajar dari-Nya — tapi di sini, cinta, cinta yang sungguh-sungguh dan kuat, mengharapkan simbol-simbol kepedulian yang lebih tinggi dan tanda-tanda persekutuan yang lebih dekat. 

Ester gemetar di hadapan Ahasyweros, tetapi mempelai yang berada dalam kebebasan penuh sukacita dari kasih yang sempurna itu tidak mengenal rasa takut. Jika kita telah menerima roh kemerdekaan yang sama, kita juga dapat meminta kasih yang sama. 

  • Ciuman berarti berbagai wujud cinta kasih yang memungkinkan orang percaya menikmati kasih Yesus. Kita menikmati : 
  • Ciuman rekonsiliasi ketika kita bertobat, dan rasanya manis seperti madu yang menetes dari sarangnya. 
  • Ciuman penerimaan masih hangat di dahi kita, seperti yang kita tahu bahwa Ia telah menerima diri kita dan karya kita lewat anugerah yang berlimpah. 
  • Ciuman persekutuan tiap-tiap hari adalah hal yang kita rindukan terus menerus hari demi hari, sampai hal itu diubah menjadi 
  • Ciuman sambutan, yang melenyapkan jiwa dari bumi, dan 
  • Ciuman penyempurnaan, yang mengisi jiwa dengan sukacita surga. 
  • Iman adalah perjalanan kita, tapi persekutuan yang dirasakan dengan nyata adalah peristirahatan kita.

Iman adalah jalan, tapi persekutuan dengan Yesus adalah sumur yang darinya sang musafir minum. O Kekasih jiwa kami, janganlah jauh dari kami; biarlah bibir berkat-Mu bertemu dengan bibir permintaan kami; biarlah bibir kepenuhan-Mu menyentuh bibir kebutuhan kami, dan seketika itu juga ciuman akan terjadi.

~Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


13. Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. [Yesaya 53:5]

Pilatus menyerahkan Tuhan kita kepada algojo untuk dicambuk. 

Cambuk Romawi adalah alat penyiksaan yang paling mengerikan. 

Cambuk itu terbuat dari urat tendon sapi, dan tulang-tulang tajam dipelintir di sana-sini di antara tendon tersebut; sehingga setiap kali cemeti itu diayunkan, potongan-potongan tulang itu menimbulkan cabikan yang mengerikan, dan mengoyak daging dari tulang.

 Sang Juruselamat, tidak diragukan lagi, diikat pada sebuah pilar, dan kemudian dipukuli.

 Dia telah dipukuli sebelumnya; tapi pukulan dari algojo Romawi ini mungkin siksaan cambuk yang paling parah. 

Jiwaku, berhenti sejenak di sini dan tangisilah tubuh-Nya yang dipukuli dengan begitu malang.

Hai orang percaya dalam Yesus, dapatkah engkau memandang-Nya tanpa mencucurkan air mata, ketika Ia berdiri di hadapanmu sebagai cermin dari kasih yang menyakitkan?

 Dia indah seperti bunga bakung yang tanpa salah, dan sekaligus semerah mawar karena kirmizi darah-Nya sendiri. 

Seraya kita merasakan kesembuhan yang pasti dan penuh berkat ini yang dikerjakan bilur-bilur-Nya dalam diri kita, tidakkah hati kita meleleh dalam cinta kasih sekaligus duka? 

Jika kita pernah mengasihi Yesus, Tuhan kita, pastinya kita sekarang merasa kasih sayang itu bercahaya di dalam dada kita.

  • Lihat bagaimana sabarnya Yesus bertahan.
  • Dihina serendah-rendahnya!
  • Para pendosa mengikat tangan Mahakuasa,
  • Dan meludahi wajah Pencipta mereka.
  • Dengan duri pelipisnya dilukai dan dibacok
  • Memancarkan aliran darah dari setiap bagian;
  • Punggung-Nya dirajam cambuk tersimpul.
  • Namun cambuk yang lebih tajam mengoyak hati-Nya.

Kita akan dengan suka hati pergi ke kamar doa kita dan menangis; tapi karena urusan kita memanggil kita pergi, kita akan berdoa terlebih dahulu kepada Kekasih kita untuk mencetak gambar diri-Nya yang berdarah pada loh hati kita sepanjang hari ini, dan saat malam tiba kita akan kembali untuk bersekutu dengan Dia, dan menangisi dosa kita yang telah membuat Dia berkorban begitu besar. ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


14. Ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak. [Yesaya 53:12]

Mengapa Yesus rela menderita dan diperhitungkan bersama orang-orang berdosa? Perendahan diri yang mengagumkan mempunyai banyak alasan kuat. 

Dengan status seperti itu Dia bisa semakin baik menjadi pembela mereka. Dalam pengadilan, pengacara kerap diidentikkan dengan klien mereka, dan mereka tidak dapat dipandang terpisah satu sama lain di mata hukum. 

Nah, ketika orang berdosa dibawa ke pengadilan, Yesus sendiri muncul di sana. Dia berdiri untuk menjawab tuduhan itu. 

Dia menunjuk ke lambung-Nya, tangan-Nya, kaki-Nya, dan menantang Keadilan untuk menyampaikan tuduhan apapun terhadap orang-orang berdosa yang Ia wakili; Ia memohon dengan darah-Nya, memohon dengan penuh kemenangan, terhitung di antara mereka dan berbagian dengan mereka, sehingga Sang Hakim menyatakan, "Biarkan mereka pergi; bebaskan mereka dari masuk ke dalam lubang, sebab mereka telah menemukan tebusan." 

Tuhan Yesus kita terhitung di antara para pemberontak agar mereka merasakan hati mereka yang tertarik ke arah-Nya. 

Siapa yang merasa takut dengan orang yang ditulis di dalam daftar yang sama dengan kita? Tentunya kita dapat datang dengan berani kepada-Nya, dan mengaku kesalahan kita. 

Dia yang terhitung di antara kita tidak bisa menuduh kita. Bukankah Ia tertulis dalam daftar pemberontak supaya kita bisa ditulis di dalam gulungan merah orang-orang kudus? 

Dia suci, dan tercatat di antara para kudus; kita bersalah, dan terhitung di antara orang-orang yang bersalah; Dia memindahkan nama-Nya dari daftar itu ke daftar dakwaan hitam ini, dan nama kita diambil dari daftar dakwaan, dan dituliskan pada gulungan penerimaan, karena ada perpindahan yang tuntas yang terjadi di antara Yesus dan umat-Nya. 

Semua keadaan kita yang menderita dan berdosa telah diambil oleh Yesus; dan semua milik Yesus telah datang kepada kita.

 Kebenaran-Nya, darah-Nya, dan segala sesuatu yang Ia punya telah Ia berikan kepada kita sebagai mas kawin kita. 

Bersukacitalah, hai orang percaya, dalam persatuanmu dengan Dia yang terhitung di antara para pemberontak; dan buktikanlah bahwa engkau benar-benar diselamatkan dengan menunjukkan bahwa engkau terhitung di antara mereka yang adalah ciptaan baru di dalam Dia. ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).


15. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. [Ibrani 5:8]

Kita diberitahu bahwa Yesus, yang memimpin kita kepada keselamatan, menjadi sempurna melalui penderitaan [Ibrani 2:10], karena itu kita yang berdosa, yang jauh dari sempurna, tidak boleh bertanya-tanya apakah kita dipanggil melewati penderitaan juga. 

Masakan sang Kepala dimahkotai duri, tetapi anggota tubuh yang lain berayun-ayun dalam kenyamanan?

Masakan Kristus melewati lautan darah-Nya sendiri untuk memenangkan mahkota, sementara kita berjalan ke surga dengan kaki yang kering memakai sandal perak? 

Tidak, pengalaman Tuan kita mengajarkan kita bahwa penderitaan itu perlu, dan anak yang sungguh lahir dari Allah tidak boleh dan tidak akan dapat melarikan diri. 

Tapi ada satu pemikiran yang sangat menghibur, bahwa Kristus "menjadi sempurna melalui penderitaan" — yaitu, bahwa Dia dapat merasakan hal yang sama dengan kita.

"Dia bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita." [Ibrani 4:15] Dalam simpati Kristus ini kita menemukan kuasa yang menopang.

Salah satu martir mula-mula berkata, "Aku dapat menanggung semuanya, karena Yesus pernah menderita, dan sekarang Dia menderita di dalam diriku; Dia bersimpati denganku, hal ini membuat aku kuat." 

Hai orang percaya, peganglah erat-erat pikiran ini dalam setiap saat penderitaan. Biarlah pikiran akan Yesus menguatkanmu ketika engkau mengikuti jejak-Nya. 

Temukan topangan yang manis dalam simpati-Nya; dan ingatlah bahwa menderita adalah hal yang terhormat — menderita bagi Kristus adalah kemuliaan. 

Para rasul bersukacita sebab mereka dianggap layak melakukan hal ini. Sejauh mana Dia memberi kita kasih karunia kepada kita untuk menderita bagi Kristus dan menderita bersama Kristus, sejauh itu pula Dia mempermuliakan kita.

Permata dari seorang Kristen adalah penderitaannya. 

Tanda kerajaan dari raja-raja yang telah diurapi Allah adalah kesusahan, penderitaan, dan kesedihan mereka. 

Karena itu, janganlah kita menjauhi kehormatan yang diberikan kepada kita. 

Janganlah kita tidak mau dipermuliakan. 

Kesedihan mempermuliakan kita, dan masalah mengangkat kita. "Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia." [2 Timotius 2:12] ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

16. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. [Matius 26:56]

Dia tidak pernah meninggalkan mereka, tetapi mereka karena takut akan hidup mereka, meninggalkan Dia dari awal permulaan penderitaan-Nya. 

Ini hanyalah sebuah contoh yang mengajarkan kita lemahnya setiap orang percaya jika mereka dibiarkan sendiri; mereka paling-paling hanyalah domba, dan mereka melarikan diri ketika serigala datang. 

Baca Juga: Kumpulan tulisan Thomas Brooks

Mereka semua telah diperingatkan akan datangnya bahaya, dan mereka telah berjanji lebih baik mati daripada meninggalkan Tuan mereka; namun mereka tiba-tiba dihinggapi panik, dan melarikan diri. 

Mungkin saja, pada awal hari ini, aku telah memutuskan dalam pikiran untuk menanggung ujian demi Tuhan, dan membayangkan bahwa diriku pasti akan setia dengan sempurna; tapi hendaklah aku sangat cemburu pada diriku sendiri, jangan-jangan aku sama seperti para rasul itu, memiliki hati jahat yang tidak percaya, yang akan meninggalkan Tuhanku. 

Berjanji jauh berbeda dengan melaksanakan. Padahal apabila mereka gagah berdiri di sisi Yesus, itu merupakan kehormatan yang kekal bagi mereka; tetapi mereka lari dari kehormatan; semoga aku dilindungi agar tidak meniru mereka! 

Di mana lagi mereka bisa begitu aman selain dekat Tuan mereka, yang saat itu bisa saja memanggil dua belas pasukan malaikat [Matius 26:53]? 

Mereka lari dari keselamatan mereka yang sejati. 

Ya Allah, janganlah aku berlaku bodoh juga. Anugerah ilahi dapat menjadikan pengecut berani. 

Kain lenan yang berasap bisa menyala seperti api di atas mezbah jikalau Tuhan menghendakinya. 

Para rasul ini, yang penakut seperti kelinci, tumbuh menjadi berani bagaikan singa setelah Roh itu turun ke atas mereka, demikian pula Roh Kudus dapat membuat jiwaku yang penakut berani mengakui Tuhan dan bersaksi tentang kebenaran-Nya.

Pastilah kepedihan yang begitu mendalam dirasakan Juruselamat saat Dia melihat teman-teman-Nya begitu tidak beriman!

Itu memang salah satu bahan dari isi cawan-Nya; tapi cawan itu sekarang sudah kering; biarlah aku tidak menambahkan setetes lagi ke dalam cawan itu. 

Jika aku meninggalkan Tuhanku, aku akan menyalibkan lagi Dia, dan menghina-Nya di muka umum [Ibrani 6:6]. Lindungi aku, ya Roh yang terpuji, dari akhir hidup yang begitu memalukan itu. ~ Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

__________________________________________________________

Sekian Kumpulan renungan tulisan dari Charles H. Spurgeon. Semoga memberkati Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Anda juga dapat mengunjungi FB Definisi Elohim unntuk setiap hari dapat membaca renungan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon.

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk " Kumpulan Renungan Singkat Firman TUHAN, Kumpulan Renungan Klasik."