Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yohanes 3:19 Berdosa Berarti Manusia Lebih Menyukai Kegelapan

definisielohim.org_Tidak ada satupun di antara Anda dan saya, luput dari yang namanya dosa. Kita semua telah hidup di dalamnya sejak dalam kandungan ibu kita, Kita hidup berdasarkan nafsu. Berdasarkan keinginan-keinginan yang kita rasa bahwa semua itu baik. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23 (TB)

Inti dari dosa, kesalahan kita adalah kita berhikmat menurut standar kita sendiri. Dalam sejarah umat manusia kita akan mendapati begitu dalamnya kejatuhan manusia. Kerena manusia telah menolak Allah.

Pusat dari penggerak kehidupan dengan terang-terangngan menyatakan permusuhan, perperangan kekal terhadap Sang Pencipta. Manusia, Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa mereka adalah pemberontak. Anda dan saya adalah pemberontak ulung yang menyedihkan.

Kita belagak kuat, kita mengira bahwa segala kemampuan yang ada di dalam diri kita merupakan milik kita dan untuk kemuliaan kita, kehidupan yang kekal ingin kita puaskan dengan kefanaan dunia. 

Pada artikel kali ini, saya mengajak Anda untuk mengorek kembali kedalaman hati kita, hati yang begitu sering menyimpan berjuta dosa.

Mari kita belajar untuk menelanjangi setiap kesalahan hati kita dan berserah pada Allah yang akan memberikan kepada kita pakaian dari kulit binatang, kulit yang kekal untuk menyelimuti rasa malu akibat dosa.

"Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." Yohanes 3:19 (TB), Poin pertama dari artikel kali ini adalah Terang yang telah di tolak oleh manusia.

Poin yang kedua, terang yang telah menjadi satu-satunya jalan untuk kembali kepada kehidupan yang sesuai tujuan kekekalan.

Yohanes 3:19 Berdosa Berarti Manusia Lebih Menyukai Kegelapan 

1. Manusia yang menolak terang

Saya akan memulai dari kitab yang paling pertama yaitu Kejadian untuk menjelaskan poin kita yang pertama ini, setelah pasal 3, dan seterusnya. Sampai pada zaman dimana Anda dan saya hidup. Kita telah belajar satu realitas pasti, bahwa kejahatan menguasai dunia ini, kejahatan tidak dapat terhindarkan. 

Walaupun kita dapat terhindar, kita akan mendapati hati kita yang kosong, hati kita yang hampa dan merana. Mencari pemuasan, ketika kita salah mendapatkan pemuasan hati yang kosong, hal inipun akan melahirkan kejahatan. Baik itu bagi diri sendiri dan orang lain.

Baca Juga: Manusia merupakan gambar dan rupa Allah 

Kejadian 6: 5-6 (TB), “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan ha itu memuliukan hati-Nya.” Tidak ada kejahatan lain yang manusia perbuatan selain ia telah menjadi tuhan atas dirinya sendiri, hal inilah yang menjadi akar dari segala kejahatan di dunia ini, manusia tidak mau masuk dalam aturan dan arahan Allah, manusia telah menjadi seperti yang dia inginkan.

Saya membayangkan, Allah yang dipenuhi kasih terhadapat umat manusia, hati-Nya disakiti. Allah bahkan menyesal, hal ini menggambarkan murka Allah, kesedihan hati Allah yang didasari kasih sejati yang kekal.

Melihat ciptaan yang Ia kasihi, ciptaan untuk bersekutu dengan Dia, ciptaan itu juga yang ingin menjadi tuhan dan menolak persektuan dengan Allah. Manusia menggantikan Allah yang kekal dengan kefanaan ciptaan Allah. 

Manusia menyembah ilah-ilah buatan tangan mereka yang tidak dapat mengatur mereka. Karena pada dasarnya manusia ingin mengatur segala sesuatu. Tapi manusia tidak sadar. Anda dan saya tidak sadar, bahwa kita diperbudak oleh keinginan kita, kita telah dibawa ke dalam kelamnya penderitaan kekal.

Menuju murka Kudus Sang pencipta, keadilan harus ditegakkan, keadilan haruslah dinyatakan. Manusia yang menghancurkan rupa dan gambar Allah yang ada di dalam dirinya. Harus dibinaskan dan hal ini di dalam kekekalan.

Darah dan daging yang najis, daging yang suka berdosa, Matius 26:41b (TB), “Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Daging ini dan jiwa yang kekal pada akhirnya akan dibinasakan. Manusia telah menolak terang Ilahi, terang yang dari Allah.

Jika melihat konteks dari Yohanes 3:19, ini merupakan kelanjutan dari percakapan Nikodimus dengan Yesus, tentang keselamatan yang dari Allah. Yaitu kelahiran baru, kehidupan yang mempercayai Terang. Namun Yesus dengan tegas menjelaskan bahwa manusia, atau orang-orang Yahudi pada waktu itu atau Anda dan saya pada dasarnya menolak terang.

Padahal keberdosaan, kehidupan yang ada di dalam perbudakan dosa, hanya dapat dibebaskan ketika manusia hidup dalam terang. Perbuatan jahat adalah kegelapan, sungguh menyedihkan  ketika menyadari hal ini, kita sejak dalam kandungan sudah ada di dalam kegelapan. 

Maka setelah kita sadar akan setiap kematian di dalam dosa, mari kita menghampiri Sang terang dan bertobat. Lebih lanjutnya, mari bersama saya kita belajar pada poin yang ke dua.

2. Jalan terang menuju kekekalan

Kita masuk pada konteks kitab Roma 3, dibenarkan oleh iman, hal yang saya tangkap ketika mempelajari Roma pasal 3, merupakan proses kehidupan yang melepaskan diri dari perbudakan dosa.

Melepaskan diri dari usaha sendiri, usaha yang dipenuhi hikmat untuk mendapatkan keselamatan. Karena sejujurnya keselamatan hanya ada di dalam pengosongan diri yang dimampukan oleh Roh Kudus agar kita dipenuhi oleh kasih anugerah Yesus Kristus.

Pengakuan bahwa diri tidak memiliki kemampuan untuk dapat hidup sesuai dengan apa yang Allah mau.

Mengakui bahwa diri tidak benar, tetapi di dalam Yesus Sang Jalan Kebenaran, kita beroleh kebenaran. 

Kita dibenarkan karena Kebenaran Yesus diberikan kepada kita, ketika kita mempercayakan kehidupan kita secara penuh kepada Yesus.

Ini adalah kehidupan yang tidak lagi menjadi tuhan atas diri sendiri tetapi mengkui bahwa Yesus satu-satunya Tuhan atas kehidupan. “Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:24 (TB)

Kita yang telah menyatakan perang, kita yang ingin mejadi tuhan atas diri sendiri. Ketika melihat kepada Yesus, ketika di dalam anugerah menyadari bahwa diri kita adalah budak dari kemauan kita yang membawa kepada kebinasaan kekal.

Kita melihat penderitaan Kristus sebagai jalan pendamaian bagi diri kita yang berdosa, kita didamaikan dengan Allah Bapa. Kita berobat dan mengakui kesalahan kita. “Kristus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” Roma 3:25 (TB)

Baca Juga: Allah telah menunjukkan kasih karunia-Nya kepada kita

Mengutip kata-kata pak Stephen Tong, “Manusia tidak mungkin mencintai Tuhan dan cinta kepada Tuhan tidak mungkin menjadi dalam kecuali ia mengerti sedalam-dalamnya sengsara Kristus.” Darah Yesus Kristus yang dicurahkan di bukit Tengkorak merupakan jalan pendamaian, tidak ada jalan lain selain melawati Yesus.

Maka ada seruan untuk Anda dan saya untuk bertobat, untuk menolak segala bisikan hikmat kita yang kita anggap bahwa itulah yang terbaik bagi diri kita, saudaraku hikmat kita membawa kita pada penderitaan kekal.

Pandanglah kepada Yesus, Yesus yang telah mencurahkan darahnya untuk membebaskan Anda dan sya dari dosa-dosa kita yang memperbudak kita, dosa yang membuat kita lemah dan hidup dalam keluhan setiap saat

Jalan yang Yesus tunjukkan kepada Nikodimus, kelahiran baru, percaya kepada Sang Terang. Inilah jalan menuju kehidupan yang bersekutu dengan Allah di dalam dunia yang fana sekarang ini dan dunia yang akan datang.

Saya selalu membayangkan kata-kata ini, “jika hari ini Anda berada di sorga, lalu Kristus tidak ada ada disana. Maka itulah neraka.” 

Pertanyaan saya untuk diri Anda bahkan diri saya sendiri. Sudahkah Yesus ada di dalam hati kita?

Apa yang kita inginkan, keselamatan atau pribadi Yesus? Kesalahan Kekristenan hari-hari ini terlalu narsis hanya merindukan keselamatan tanpa menginginkan Yesus menjadi Tuan atas hidupnya.

Sudahkah yang menjadi kerinduan kita setiap hari adalah Yesus?

Adakah kita mengejar rencana dan rancangan Kristus, untuk menderita sebagai pekabar Injil? 

Adalah kasih dalam diri kita sehingga kita mendoakan jiwa-jiwa yang belum percaya?

Mari saudaraku lihat kedalaman hati kita, begitu gampang kita bertindak tidak sesuai dengan apa yang Sang Injil inginkan. 

Mengerjakan segala sesuatu berdasarkan hikmat kita sendiri. 

Untuk mengakhiri artikel ini mari kita renungkan 2 ayat dibawah ini.

Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. Yohanes 3:20-21 (TB)

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: Roh memang penurut tetapi dagung kemah. Matius 26:41 (TB)

Baca Juga: Doa untuk kemuliaan Allah

Damai Yesus Kristus melimpah atas hidup saudara. Kiranya Allah Roh Kudus memberikan kepada kita pengertian dan kekuatan untuk selalu datang kepada terang Yesus Kristus. Sehingga kita dapat melihat kedalaman hati kita yang jahat dan bertobat. AMIN

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.