Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rendah hati Sifat murid Kristus

Rendah Hati sifat Murid Kristus

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; (Matius 20:26-27).

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. (1 Petrus 5:5-6).

Rendah hati atau kerendahan hati berbicara tentang watak dasar manusia, sifat atau karakter yang mutlak harus ada dalam diri. Lalu timbul pertanyaan apa bedanya rendah hati? Dengan rendah diri?.

Rendah hati berbicara sikap hati yang rela tidak dianggap, tidak diperhitungkan, siap dan rela dianggap tidak ada jasa. Walaupun kita layak, meskipun itu jasa kita, hasil kerja keras kita. Meskipun kita yang memulai dan memiliki ide atau penggagas utama. Kita rela untuk tidak diingat lagi. Inilah gambaran rendah hati atau kerendahan hati.  

Sedangkan rendah diri itu, lebih kepada sikap yang minder, merasa diri tidak mampu, tidak berharga, tidak bernilai. Hal ini dilatar belakangi oleh keadaan, diri kita, baik masa lalu ataupun keadaan fisik yang membuat kita hilang kepercayaan diri.

Di alkitab ada contoh orang yang rendah diri, dan minder siapa dia? Dia adalah Musa. Kita bisa membaca kisah saat Tuhan memanggil dan mengutus Musa, untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Musa membuat alasan-alasan yang menunjukan keminderan, rendah diri. Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Kel. 4:10 ITB).

Pada bagian alkitab yang lain kita akan belajar tentang rendah hati, yang diajarkan dan dicontohkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus. Teladan yang luar biasa dari Sang guru Agung sepanjang sejarah dunia.

 Cerita sebelum Yesus menyelesaikan misi-Nya di dalam dunia, peritiwa yang sangat terkenal yang dicatat oleh rasul Yohanes adalah peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. (Yoh. 13:4-5 ITB). 

Yesus mau kita sebagai murid juga memiliki kerendahan hati, dan menghidupi watak itu dalam kehidupan kita, di manapun kita berada, apapun gelar dan titel kita, apapun posisi kita. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.” (Yoh. 13:13-16 ITB).

Yesus Sang Raja semesta saja mau dan rela melakukan dan hidup di dunia dengan sifat watak rendah hati, apalagi kita yang bukan siapa-siapa ini. Yesus memberikan teladan yang kongkrit atau nyata dalam kehidupan, supaya manusia melihat dan meniru apa yang Yesus telah dan sudah lakukan.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Fil. 2:5-8 ITB).

Yesus ALLAH SEJATI namun tidak menganggap kesetaraan atau keAllahan-Nya menjadi sesuatu yang layak dan patut dipertahankan. Melainkan lebih memilih untuk mengosongkan diri, kenosis istilah Yunaninya. Puncak dari kerendahhatian Yesus, Dia demonstrasikan di kalvari untuk manusia, Dia yang Allah saja rela mati. Rela menganggap diri bukan siapa-siapa. Padahal DIA RAJA SEMESTA, penguasa TUNGGAL Alam raya.

“sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat. 20:28 ITB) Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mark. 10:45 ITB).

Baca Juga:

Padahal Yesus adalah satu-satunya pribadi yang layak untuk dilayani, namun dalam dua bagian alkitab di atas Yesus justru menghancurkan pola pikir manusia yang keliru dan cendrung ingin menjadi tuan, bos, majikan bagi orang lain, bagi sesamanya. Frasa yang sangat luar biasa yang Yesus sampaikan “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani.

Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita, untuk hidup rendah hati selama jantung masih berdenyut, kesempatan masih ada.

Salam kasih dari penulis : Septo Sirangatun

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.