Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kejujuran Sebagai Sifat murid Kristus

Kejujuran Sebagai Sifat murid Kristus 

Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. (IM.19:11).

Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia. (KIS. 24:16).

Kejujuran, apa yang kita pikirkan saat mendengar kata kejujuran? Dari kata dasar jujur, lawan kata bohong, dusta itulah jujur. Benar, apa adanya, mengatakan putih itu putih, hitam itu hitam. Inilah jujur atau kejujuran.

Kitab Imamat pasal 19 ayat 11 ini dinaungi atau bagian dari sebuah perikop atau judul besar yakni kudusnya umat TUHAN. Yang mengatur bagaimana sistem keimanan kepada bangsa Israel, terutama suku Lewi yang berkecimpung atau ditugasnya oleh TUHAN, untuk mengatur sistem peribadatan di kemah pertemuan (tabernakel).

Kejujuran, adalah watak atau karakter manusia yang wajib ada. Ada sebuah kalimat pendek namun maknanya sangat dalam, yang berkata demikian “kejujuran adalah mata uang yang berlaku di manapun anda berada”.

Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya yang sangat terkenal dan legendaris berkata “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matt. 5:37 ITB). Begitu pentingnya satu kata ini yakni kejujuran.

Dalam Mazmurnya raja Daud juga mengungkapkan tentang kejujuran “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.” (Maz. 25:21 ITB). Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur! (Maz. 32:11 ITB). 

Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya." (Maz. 50:23 ITB). Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. (Maz. 119:7 ITB.) Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci. (Maz. 119:128 ITB).

Senada dengan itu penulis kitab Amsal yakni raja Salomo anak dari raja Daud juga menuliskan tentang kejujuran “Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, (Ams. 2:7 ITB). Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, (Ams. 2:21 ITB). karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. (Ams. 3:32 ITB). 

Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya. (Ams. 11:3 ITB). Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya. (Ams. 11:11 ITB). Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia. (Ams. 14:2 ITB).

Dalam kitab pengkhotbah raja Salomo juga menuliskan “Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.” (Pekh. 7:29 ITB). Banyak lagi ayat-ayat yang menuliskan tentang kejujuran.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 24:16 ini rasul Paulus sedang berada di hadapan Feliks, pemimpin pada waktu itu sebagai seorang tahanan karena karena Nama Yesus Kristus, dengan tega dan berani Paulus berkata “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Paulus ingin mengatakan kepada Feliks wali negeri pada waktu itu bahwa semua yang Paulus katakana itu benar.

Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar. (Kis 24:15 ITB). Paulus waktu itu sedang bersaksi bahwa ada kebangkitan setelah kematian, dan hal itu dia katakana dengan sesungguhnya, bukan hoax atau kabar bohong. Itu sebabnya ayat 16 itu muncul Paulus berkata “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” 

Memang saat bicara tentang kejujuran, ini sangat berat untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Ibarat mencari sebongkah berlian di tengah padang pasir, begitu sulitnya kejujuran ditemukan. Saya mengingat sebuah cerita seorang pemuda Kristen yang baru ingin mencari pekerjaan di sebuah perusahaan pengiriman dan produksi barang. 

Di tengah keadaan ekonomi keluarganya yang sedang memburuk, biaya kuliah anaknya yang sudah terlambat dua bulan belum dibayar, bahkan kontrak bulanan rumah yang harus dibayar pada bulan itu juga. Dengan bermodalkan keyakinan dan kepercayaan diri, si pemuda ini berangkat menuju sebuah perusahaan.

Saat bertemu pimpinan perusahaan, untuk melakukan sebuah wawancara tertulis dan wawancara secara langsung. Beberapa menit kemudian sang pimpinan berkata kepada pemuda itu, kamu boleh bekerja di sini dengan gaji perbulan 20 juta, tetapi dengan satu syarat, kamua harus mengurangi jumlah barang kiriman, jika kiriman berjumlah 100 pcs maka kamu tulis dalam laporan 90 pcs.

Karena pemuda ini adalah seorang Kristen yang taat, maka dia berkata kepada pemimpin perusahaan itu, maaf pak saya akan diskusikan dengan istri saya terlebih dahulu di rumah. Pemimpin perusahaan itu, menyetujui usul si pemuda ini. Besok pagi pukul 10.00 saya tunggu keputusan anda di kantor ini.

Sesampainya di rumah, si pemuda ini berdiskusi dengan istrinya. Dan istrinya menyetujui bahwa si suami bekerja saja di perusahaan tersebut, karena gajinya besar. Namun sang suami menolak dan berkata, besok pagi saya akan datang ke kantor dan bertemu pimpinan perusahaan, untuk mengatakan bahwa saya tidak bersedia bekerja di perusahaan itu.

Malam tiba, suami dan istri itu berdoa bersama-sama, dalam doa sang suami berkata “Tuhan jika memang bukan di perusahaan ini saya bekerja, mohon Engkau menyediakan suatu perusahaan yang baik dan layak menjadi tempat saya bekerja. Lalu keesokan harinya sang suami pamit, kepada istrinya untuk pergi ke kantor untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan.

Saat pukul 09.55 pemuda ini dipersilahkan untuk masuk ke ruangan pimpinan perusahaan tersebut. Lalu sang pimpinan bertanya, bagaimana apakah kamu bersedia bekerja di perusahaan ini? pemuda ini menjawab dengan lantang dan penuh keyakinan “mohon maaf pak, saya tidak bersedia bekerja di sini. Saya tidak bersedia jika harus berbuat tidak jujur di dalam pekerjaan saya” 

Lalu pimpinan perusahan itu bertanya, apakah kamu yakin dan tidak menyesal dengan keputusanmu ini? pemuda ini menjawab tidak pak saya sungguh-sungguh dengan keputusan saya. Saya mohon pamit. Saat pemuda ini ingin beranjak dari tempat duduknya, pimpinan perusahaan langsung menarik tangan pemuda ini dan berkata “selamat anda berhasil diterima di perusahaan ini, perusahaaan ini membutuhkan seorang yang jujur dan berintegritas seperti anda, mulai besok anda sudah bisa bekerja.

Pemuda ini, melompat kegirangan dan berkata, terimakasih pak. Lalu pemuda ini berkegas pulang ke rumah, dan menceritakan apa yang dia alami kepada istrinya setelah bertemu pimpinan perusahaan tadi, mereka bersyukur dan berdoa bersama-sama untuk apa yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan mereka.

Ternyata pimpinan perusahaan ini hanya menguji kejujuran pemuda ini dengan membuat tawaran yang seperti itu. Seberapa dari kita mengalami hal yang serupa, namun memilih untuk tidak jujur demi, uang, reputasi, popularitas dan kenyamanan diri.

Baca Juga :

Jika saat ini masih ada dan hal itu sulit untuk dilepaskan silahkan saudara berdoa memohon Allah Roh Kudus membantu anda untuk lepas dari kebiasaan hidup yang tidak jujur, menipu, membohongi dan bersilat kata. Sehingga kita mampu juga seperti rasul Paulus yang berkata “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.”.

Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk hidup dengan jujur. AMIN

Salam penuh kasih dari penulis : Septo Sirangatun

Definisi Elohim
Definisi Elohim Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk "Kejujuran Sebagai Sifat murid Kristus"