Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehidupan Yang Menceritakan Kasih Yesus (1 Yohanes 1:3)

Kehidupan Yang Menceritakan Kasih Yesus (1 Yohanes 13)

Kehidupan Yang Menceritakan Kasih Yesus (1 Yohanes 1:3)

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 1 Yohanes 1:3 (TB)

Kitab 1 Yohanes jika Anda membacanya dan merenungkannya secara serius, Anda akan mengerti bahwa kehidupan orang percaya pada dasarnya dipanggil untuk bersekutu. Persekutuan yang memuliakan Allah, persekutuan yang saling mengasihi.

Kehidupan yang dibawa ke dalam pertobatan sejati, meninggalkan dosa-dosa yang menjerat diri. Dibawa kepada kehidupan yang dimana untuk itulah manusia diciptakan, yaitu kehidupan yang memuliakan Allah, kehidupan yang menyembah Allah dan pada akhirnya kehidupan yang mengasihi sesama.

Pada artikel ini, saya sedang membawa Anda untuk hidup, yaitu kehidupan yang menceritakan Yesus. kehidupan yang memancarkan kasih Yesus bagi sesama kita, kehidupan yang hanya memandang kepada kasih pengorbanan Yesus di atas kayu salib.

Kasih yang tidak keluar dari diri kita yang terbatas, keluar dari kehidupan kita yang jahat dan berdosa ini. Karena kasih Anda dan saya sangatlah terbatas, kasih kita kepada sesama merupakan kasih yang mendasarkan pada diri, kehidupan dan kenyamana diri sendiri.

Tapi mari kita belajar, kasih yang lahir dari perenungan Injil. Injil memberikan kita kekuatan untuk mengasihi sesama kita. Injil yang menyatakan pada dasarnya Anda dan saya adalah orang berdosa, Anda dan saya adalah orang-orang yang layak dibinasakan.

Jika kita tidak menyadari hal ini, tidak secara sengaja mengingatkan diri kita akan Injil Yesus, mengingatkan bahwa diri kita adalah pendosa besar yang sedang menikmati kasih anugerah dari Allah. Maka hati kita akan tumpul.

Baca Juga: Persekutuan orang-orang percaya

Kita akan menjadi Kristen-kristen yang tidak peduli pada jiwa-jiwa di luar sana yang akan binasa, jiwa-jiwa yang di luar sana tanpa Yesus, akan selamanya di neraka. 

Maka mari kita renungkan ini, mari kita hidup dalam kasih Injil, berdoalah agar Allah mengoyak hati Anda dan menyadarkan Anda betapa banyaknya orang akan binasa jika Anda tidak menceritakan Yesus melalui hidup Anda. 

Saudaraku saya tidak bisa bayangkan jika kehidupan seorang Kristen, secara sungguh-sungguh disentuh oleh Injil, jika hati mereka, Anda dan saya tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tapi pada Yesus.

Maka saya rasa gedung gereja akan kosong, orang-orang akan meninggalkan bangku yang nyaman dan datang ke setiap pelosok negeri untuk memberitakan Injil dan memuridkan. 

Baca Juga: Perkataan Kristus dengan segala hikmat-Nya

Hal inilah yang dikerjakan Kekristenan mula-mula, mereka mengerti Injil, Injil menjadi pusat Kotbah, bukan motivasi kosong yang membuat Anda semakin cinta dunia, bahkan takut untuk keluar dari Kenyamanan ibadah yang dangkal. 

Ibadah yang terbatas gedung dan liturgi tapi nama Yesus tidak diberitakan, kalaupun diberitakan hanyalah Yesus yang menjadi pembantu Anda (ini kacau ini injil palsu). Bukankah ini pengajaran masa kini? Pengajaran yang tidak berpusat pada Injil Kristus sejati sehingga melahirkan Kekristenan yang dangkal dan tidak bertumbuh. 

Anda perlu bertobat, Anda perlu mengakui dosa-doa Anda yang lebih suka duduk di gereja tapi tidak mendengarkan Injil, tidak mengabarkan Injil, tidak secara serius bergumul untuk belajar Alkitab agar mengerti Injil. Anda perlu bertobat.

Untuk Anda para pendeta dan pengkotbah Anda perlu bertobat jika bukan Kristus, jika bukan dosa yang Anda bukakan di mimbar gereja dan kasih karunia dan ajakan untuk hidup serius mencintai Yesus. 

Jika jemaat Anda tidak diajak mengabarkan Dia sebagai wujud penyembahan sejati yang bisa jemaatmu lakukan. Sekali lagi saya tegaskan jika bukan Injil sejati yang Anda kotbahkan, maka Anda perlu bertobat. Bertobat.

Marilah kita memandang kepada bukit Kalvari, dimana Dia telah mati disiksa, ditenjangi, dan menerima semua murka Allah. Ini adalah kabar yang memilukan, bukan karena Yesus disalib, tapi karena Anda dan saya pada realitanya pantas untuk masuk neraka.

Baca Juga: Memberitakan Injil Dengan Penuh Kuasa

Tetapi Allah telah menunjukan kasih-Nya kepada kita, Kristus telah mati menanggung hukuman dosa-dosa kita, puji Tuhan Ia bukan hanya mati, Ia bangkit. Ini adalah kabar kemenangan kabar yang memberikan semangat.

Kebangkitan-Nya memberitahukan kepada kita, bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi awal dari kehidupan yang secara puas menikmati kemuliaan Allah, memuliakan Dia di sorga nanti.

Yesus yang Anda dan saya sembah telah hidup, bahkan naik ke sorga menyediakan tempat bagi kita, maka Ia memberikan kita kuasa, bila Roh Kudus ada dalam kita, kita akan menjadi saksi-Nya, di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung dunia. 

Inilah tugas kita, tugas yang membawa kita untuk hidup menikmati kemuliaan Kristus dalam segala penderitaann yang dunia ini berikan, selama kita masih hidup.

Sehingga banyak orang ikut masuk ke dalam persekutuan kita, dengan Allah Bapa dan Anak-Nya Yesus Kristus.

Kiranya Allah Roh Kudus memampukan kita untuk terus menjadi saksi Kristus dimana saja kita berada dan damai sejahtera Yesus melimpah atas hidup kita. AMIN

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.