Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Latar Belakang Kitab Efesus Dilihat Dari Sudut Pandang Kisah Para Rasul 19

Paulus sedang berada di Roma ketika Ia menulis kitab Efesus kira-kira tahun 62 M, tepatnya dipenjara. Ketika mempelajari latar belakang Efesus, maka kita tidak bisa memisahkan kitab ini dari Kisah Para Rasul 19.

Kisah Para Rasul 19 memberikan kepada kita gambaran keadaan kota Efesus, seluruh asia kecil yang kita kenal sekarang dengan Turki. Pada masa Paulus mengabarkan Injil di Efesus dan asia hal ini menimbulkan ketakutan dari orang-orang pembuat patung. Patung apakah itu? Jika ingin tahu baca sampai selesai!

Jadi Efesus adalah kota yang merupakan pusat dari penyembahan dewi artemis di daerah asia, dimana para pembuat patung, para pembuat asesoris mendapatkan keuntungan ketika orang-orang berbondong-bondong datang ke Efesus untuk menyemah dewi Artemis maka, perusahaan pembuat patung mendapatkan banyak keuntungan. Ujung-ujungnya uang.

Melalui latar belakang dan kondisi kota Efesus pada waktu itu kita dapat belajar, bahwa manusia pada dasarnya saat melakukan sesuatu, bekerja, mempertahankan apa yang ia anggap benar. Pada akhirnya menunjukan bahwa ia sedang mencintai uang.

Sama seperti para pembuat patung yang ada di kota Efsesus pada waktu itu, kekuatan dari uang sangatlah kuat, sudah dapat dipastika pertumpahan darah akan terjadi karena kecintaan manusia pada uang. 

Ia mengumpulkan mereka bersama-sama dengan pekerja-pekerja lain dalam perusahaan itu dan berkata: "Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kemakmuran kita adalah hasil perusahaan ini!

Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa.

Dengan jalan demikian bukan saja perusahaan kita berada dalam bahaya untuk dihina orang, tetapi juga kuil Artemis, dewi besar itu, berada dalam bahaya akan kehilangan artinya. Dan Artemis sendiri, Artemis yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab, akan kehilangan kebesarannya." 

Ketika Anda menonton banyak film-film mafia, film kriminal. Hal utama yang menjadi alasan mereka saling membunuh dan membemci adalah uang.

Maka sekarang kita dapat mengetahui keadaan kota Efesus, bahkan kita bisa mengambil pelajaran penting dari keadaan kota Efsus saat itu, menggambarkan kehidupan manusia sampai hari ini, masalah utama adalah kecintaan manusia pada uang.

Pekabaran injil dapat masalah, dapat tidak dikabarkan jika seseorang pekabar Injil mencintai Uang, bahkan dapat penganiayaan jika ada orang oleh karena seseorang yang mencintai uang takut karena pekabaran Injil, semua hal yang ia kumpulkan untuk menikmati dunia terhenti.

Kita akan belajar lebih dalam lagi tujuan, survay, dan ciri-ciri Kitab Efesus dan yang terpenting adalah implikasinya bagi kehidupan kita masa kini.

Latar Belakang Kitab Efesus Dilihat Dari Sudut Pandang Keadaan Kota Efesus
Dewi Artemis

Latar Belakang Kitab Efesus Dilihat Dari Sudut Pandang Keadaan Kota Efesus

Tujuan, survai, ciri-ciri kitab Efesus

Tujuan

Efsus 1: 15-17 (TB) Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa m  yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.

Tujuan dari kitab Efesus dituliskan merupakan hasil dari doa pribadi Paulus. Agar jemaat Efesus bertumbuh dalam iman, kasih, dan hikmat dalam Allah Bapa pencipta langit dan bumi.

Iman yang hanya kepada Yesus  Kristus (Efesus 2: 8-9), Kasih kehidupan dalam kasih yang sempurna karena Allah lebih dulu mengasihi mereka. Hikmat yang juga berasal dari Allah, bukan hikmat manusia yang tentunya berdosa. Hikmat yang benar untuk mengenal Allah lebih dalam lagi secara benar dan sehat.

Saudaraku pada pendahuluan yang telah menuliskan bahwa masalah utama di Efesus adalah besarnya penyembahan berhala. Surut Efesus sendiri ditujukan bukan hanya untuk gereja yang di Efesus saja, tetapi untuk seluruh asia.

Latar Belakang Kitab Efesus
Kuil Dewi Artemis

Begitu besarnya praktik penyembahan berhala merupakan salah satu kondisi yang menjadi beban yang dipikul oleh orang-orang Kristen di Efesus, orang Kristen dikelilingi oleh sejumlah besar orang yang lebih mencintai keindahan patung perak, ketika sedikit saja meragukan kasih karunia, bisa saja mereka tidak lagi mau percaya

Jika saja mereka tidak memiliki hikmat Allah, jika saja mereka tidak memiliki iman yang benar berasal dari Roh Kudus, jika mereka tidak mengasihi. Budaya waktu itu bahkan sampai pada masa sekarang tetap ada dalam bentuk yang berbeda. 

Maka Paulus dalam doanya sangatlah mengerti bagaimana permasalahan yang akan menimpa jemaat Efesus. Bagaimana Paulus berharap, bukan agar jemaat Efesus sekses, kaya raja, sehat, dan hidup dalam kemewahan. tapi fokus dari Paulus agar mereka mengenal Allah yang benar. Allah yang adalah Pribadi dalam Yesus Kristus. 

Survai

Perjanjian Baru sendiri selalu menyajikan pada kita, bahwa kita adalah orang berdosa, orang yang tidak layak, orang yang sangatlah layak untuk menerima hukuman. Tapi pada saat yang sama Perjanjian Baru menekankan kepada kita bahwa kita telah ditebus oleh Kristus.

Setelah kita ditebus, kita dibawa ke dalam kehidupan baru bersama Kristus. Untuk menjadi milik Allah dan melakukan rencana Allah yang telah ia persiapkan sebelumnya.

Karena penyembahan berhala yang ada di kota Efesus akan sangat gampang mereka tidak lagi melakukan apa yang menjadi rencana Allah atas hidup mereka.

Maka Efesus pasa1 1-3 memberitahukan kepada orang Efesus dan Anda dan saya hari ini, bagaimana kita adalah orang berdosa yang telah Yesus selamatkan dari kehidupan yang selalu diperbudak oleh dosa. Hanya karena kasih karunia kita dapat diselamatkan oleh Iman.

Baca Juga : Mengenal Yesus Oleh Karena Hikmat Dari Roh Kudus

Pasal 4-6, menjelaskan kepada kita bagaimana cara hidup orang yang sudah diselamatkan, cara hidup baru yang menyadari bahwa diri kita adalah ciptaan Allah untuk melakukan pekerjaan baik, hidup dalam Kristus. Setiap pekerjaan baik itu sudah Yesus persiapkan sebelumnya.

Ciri-ciri kitab Efesus

Kitab ini secara khusus menjelaskan kedaulatan Allah secara nyata, di mana Allah memiliki hak untuk memilih seseorang yang akan Ia selamatkan sebelum dunia diciptakan, bahkan Allah berdaulat telah menentukan pekerjaan baik seperti apa yang akan orang yang Ia pilih lakukan.

Paulus memulai dengan penyingkapan rahasia Allah, menyatakan karya penebusan yang telah Allah persiapkan dan kerjakan dalam Kristus. 

Diantara penjelasan pengajaran ini, Paulus menuliskan doanya, harapannya supaya orang-orang yang membaca suratnya ini, dapat mengerti kehidupan yang benar dalam Kristus, memiliki iman yang benar, memiliki kasih yang benar, dan hakmat yang benar dari Allah.

Paulus juga menggunakan istilah perabot dalam kitab Efesus paling banyak jika dibandingkan dengan surat-suratnya yang lain, ia memakai 160 kali pada seluruh suratnya dan 36 kali pada Kitab Efesus. Hal ini menunjukan kepada Anda dan saya bahwa kehidupan kita adalah perabot untuk pekerjaan yang mulia yang sudah Allah persiapkan. 

Baca Juga : Berkat yang dimiliki oleh orang percaya

Dalam kehidupan kita sehari-hari maupun kehidupan rohani kita, semua itu bersangkutan langsung dengan kehidupan yang hidup dalam Yesus.

Maksud dan tujuan Allah bagi gereja sangatlah jelas dijelaskan dalam surat Efesus, Allah mau supaya hidup kita beriman dalam Dia, berhikmat karena persekutuan kita dalam Dia, dan terus melakukan pekerjaan baik. Mengabarkan Injil Kristus. 

Ayat-ayat di bawah ini menunjukan kepada kita peranan dari Allah Roh Kudus dalam kehidupan Kristen yang terdapat di kitab Efesus.

  • Efesus 1:13-14,17 
  • Efesus 2:18 
  • Efesus 3:5,16,20
  • Efesus 4:3-4,30 
  • Efesus 5:18
  • Efesus 6:17-18

Salah satu ciri yang juga menjadi perbincangan surat Efesus memiliki kesamaan dengan surat kepada jemaat Kolose. Diperkirakan setelah Paulus menulis surat ini, ia lansung menulis untuk jemaat di Efesus.

Pelajaran penting ketika saya menulis dan merenungkan latar belakang Kitab Efesus, yaitu kehidupan yang dibawa untuk melihat kekayaan Allah, melihat kasih karunia yang jauh lebih indah jika dibandingkan kuil-kuil dewi artemis, jika dibandingkan dengan patung-patung perak milik kuil terbesar di asia pada saat itu. (Catatan ini bukan asia yang sakarang)

Hari ini apa yang Anda anggap indah, apa yang Anda anggap berharga, apa yang Anda anggap tujuan hidup Anda apakah segala pencapaian untuk hidup lebih bain bagi diri sendiri? Pikirkan hal ini secara sungguh-sungguh.

Jika Kristus yang menjadi alasan Anda, Anda akan dibenci dunia, Anda akan bayar harga karena kasih Kristus menyadarkan Anda. Anda akan dengan semangat merenungkan Alkitab Injil Kristus untuk mengabarkan krists, Anda akan menyangkal diri, memukul salib, dan mengikut Yesus. Roh Kudus memampukan Anda dan saya.

Efesus 2:4-5 (TB) Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan.

Efesus 3:18-19 (TB)  Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang Kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipernuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. 

Kiranya Allah Roh Kudus mengaruniakan kepada kita hikmat untuk mengenal Sang kebenaran yaitu Pribadi Yesus Kristus secara benar. Sehingga semua keindahan dunia ini tidak lagi menjadi tujuan hidup kita. AMI

Refrensi : 

http://www.sabda.org/sejarah/artikel/pengantar_full_life_efesus.htm

Baca Juga : Cerita Kisah Para Rasul 19 Jika Anda ingin mengetahui kondisi kota Efesus.


Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.