Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Psikologi Kepribadian Berserta Teorinya Menurut Ahli Psikologi | Sigmund Freud

 Psikologi Kepribadian Berserta Teorinya Menurut Ahli Psikologi | Sigmund Freud

Psikologi Kepribadian Berserta Teorinya Menurut Ahli Psikologi | Sigmund Freud 

  • Sebuah usaha untuk memaknai teori Psikologi 

Psikologi Kepribadian _Apa kabar sidang pembaca sekalian, saya harap Anda sehat. Dan jika Anda sudah membaca artikel saya yang lainnya dalam blog sederhana nan amatir saya ini, Anda akan tahu saya orangnya seperti apa. 

Karena Anda yang berkunjung ke artikel saya yang satu ini mungkin saja seorang mahasiswa psikologi atau bisa juga seorang dosen psikologi tapi sepertinya saya sedang mimpi hahahah.

Cukuplah basa basinya, untuk psikologi sendiri ada banyak teorinya dari zaman ke zaman. Selalu ada teori para ahli yang mengungkapkan tentang manusia. 

Kali ini saya akan menjabarkan teori satu tokoh psikologi terkenal dan saya berusaha memaknainya sehingga kita mendapatkan penerapan praktisnya. 

Sangatlah penting bagi kita untuk mempelajari psikologi, karena dengan mempelajari bidang ilmu pengetahuan yang satu ini secara serius kita mampu mengenal diri kita dengan baik. 

Bahkan mampu menganalisa orang yang ada di sekitar kita melalui tingkah lakunya yang terlihat.

Sebelum masuk lebih jauh lagi, kita harus mengetahui terlebih dahulu, apa itu psikologi? Pada awalnya arti psikolgi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari jiwa manusia atau ilmu jiwa.

Seiring berjalannya waktu ada begitu banyak lahir psikolog-psikolog baru yang tidak lagi menggunakan istilah ilmu kejiwaan. 

Misalnya Thomas Alva Edison yang hidup pada tahun 1847-1931 pada dasarnya kita manusia tidak mampu mempelajari ilmu kejiwaan. Tetapi kita lebih mempelajari organisme tersebut kehidupannya dan dirinya.

Sehingga pada masa modern sekarang, dari yang awalnya memiliki istilah, ilmu kejiwaan, lalu menjadi ilmu yang mempelajari pikiran sampai akhirnya menjadi ilmu yang mempelajari tingkah laku.

Jika ditanyakan kepada saya, saya lebih memilih definisi yang mana. Saya lebih ke definisi yang mempelajari tingkah laku. 

Dari mempelajari tingkah laku manusialah, lalu secara tidak mutlak menghasilkan sebuah  argumentasi tentang kejiwaan seseorang yang diteliti maupun pola pikir objek tersebut (manusia). Hal ini, dalam arti hanya sekilas, tidak diteliti secara mendalam dan terstruktur atau hanya opini saja.

Ketika berbicara tentang tingkah laku, maka hal ini tidak dapat dipisahkan dari kepribadian. Karena setiap pribadi itulah yang akan menjadi objek untuk kita pelajari tingkah lakunya. Baik itu diri sendiri dan orang lain

Saya akan membahas teori Sigmund Freud tentang tingkat kehidupan mental manusia, secara khusus dalam artikel kali ini.

Meskipun dalam buku psikologi yang baru-baru ini saya baca mempunyai banyak teori. Tentu saja banyak dan saya tidak mampu memaknai semuanya😂

Karena setiap teori yang saya pelajari cukup menarik maka saya akan menulis arikel khusus untuk memaknai setiap teori menurut para tokohnya pada artikel-artiklel lainya. 

Sebulan ini sampai akhir Januari 2021 saya akan fokus membahas teori-teori psikologi. Ya tentang psikologilah, hitung-hitung belajar.

Manfaat kita mempelajari, teori yang saya jabarkan kali ini. Selain menambah pengetahuan, juga saya sedang mengajak Anda berpikir tentang diri Anda. Sehingga Anda tidak suka malas-malas. Lalu menemukan alasan mengapa begitu pentingnya belajar dan membaca buku.

Kembali ke tema utama blog, kita harus produktif setiap hari dan menjadi bersemangat dalam kesesakan dunia yang memberikan kita hantaman setiap saat. Maka sangatlah penting bagi kita untuk terus belajar.

Dalam teori Sigmund pada bagian tingkat kehidupan mental manusia, saya mendapatkan pelajaran berharga tentang diri saya dan manusia pada umumnya sehingga hal itu memberikan saya semangat untuk terus menjalani hidup ini, sungguh mengesankan bukan, ketika bisa mengenal kelebihan diri dan kelemahan diri.

1. Teori Psikoanalisis Klasik (Sigmund Freud 1856-1939)

Ia menyatakan bahwa kita manusia mempunyai tiga tingkat kesadaran atau tingkat kehidupan mental yaitu, sadar, pra-sadar, dan tak-sadar. 

Kesadaran sadar

Ketika kita dinyatakan sadar. Berarti hanya ada pada tingkatan tertentu saja kita bisa dikatakan sedang sadar, terutama pada saat kita melakukan penelitian atau mencermati suatu objek berarti kita sedang sadar dan hal ini bersifat sementara. 

Namun akan menjadi tidak sadar ketika kita mengalihkan perhatian kita kepada objek yang lain. Sangatlah sedikit, perasaan, fresepsi, ingatan yang masuk ke kesadaran.

Kesadaran pra-sadar

Ketika kita mengalami pra-sadar (Available Memory), merupakan penghubung tingkat mental sadar menjadi tidak sadar. Biasanya hal ini terjadi karena ketika kita sadar lalu beralih ke objek lainnya sehingga tidak sadar. 

Lalu ketika tidak sadar karena adanya kejadian tertentu, melalui pra-sadar yang merupakan memori yang menyimpan ingatan. Kita  menjadi sadar karena pra-sadar menjembatani dari taksadar menjadi sadar.

Baca Juga : Bagaimana aku mengatasi kebosanand dalam diriku

Saya beri contoh Anda pada saat sadar, berlatih bela diri dan Anda menjadi ahli. Lalu ketika perhatian Anda teralih ke objek lainnya. Misalnya Anda makan, mandi, bersekolah. Anda akan mengalami yang namanya ingatan pra-sadar menjadi tidak sadar bahwa Anda sangat mahir bela diri.

Lalu suatu ketika, dalam ingatan yang tidak sadar itu, Anda menangkap suatu bahaya menyerang. Misalnya Anda dibully di kelas dan ingin dipukul. Maka akan dengan mudah Anda menjadi sadar dan menangkis pukulan tersebut. 

Proses dari yang tidak sadar bahwa Anda bisa bela diri, karena adanya tekanan inilah yang menjadikan Anda sadar dan Anda menangkis dinamakan ingatan pra-sadar. Apakah Anda bisa mengerti.

Kesadaran taksadar

Keridaksadaran murupakan hal yang mutlak menurut Freud, hal ini terjadi pada bagian mental manusia ketidak sadaran itu berisi mental, implush, dan drive. Yang memang sudah ada sejak lahir. Bisa juga karena traumatik yang ditekan dari kesadaran berpendah kepada ketidaksadaran.

2. Memaknai teori kepribadian tingkatan mental Sigmund Freud 1856-1939

Ketika saya mengerti ada yang nanamnya kesadaran, dan ketidaksadaran lalu pra sadar. Mengetahui definisi masing-masing dari teori ini, saya memaknai pada bagian pra-sadar, dimana poin ini juga di istilahkan memori.

Ruang penyimpanan, atau tempat dimana setiap hal yang kita lakukan secara sadar, dan ketika kita tidak melakukannya lagi semua itu tersimpan rapi dalam memori kita atau yang dinamakan kesadaran pra sadar.

Hal ini begitu penting kita mengerti karena begitu gampang ketika seseorang ingin memulai gaya hidup yang baik. Contohnya membaca buku, belajar, menghafal. Belajar bahasa Ingris misalnya.

Kita terjebak pada kesimpulan, bahwa kita sulit untuk mengerti. Ketika membaca buku misalnya, percuma baca toh tidak mengerti isi bukunya. Percuma membaca tidak membuat diri kita pintar.

Jika Anda mempunyai iq sama seperti saya, kita gampang terjebak pada pemikiran bahwa belajar, memahami teori, dan banyak hal baru yang ketika kita masih mudah seharusnya kita berani mengambilnya dan mempelajarinya dan gagal olehnya lalu mencoba lagi. Tidak kita lakukan hal itu.

Itu semua karena kita sering berada pada tingkatan mental kesadaran taksadar. Kita lebih sering berada pada posisi ini.

Saya suka membawa buku, tapi pada awal saya membiasakan kebiasaan ini, setelah saya membaca sebuah buku dan menghabiskannya. Saya seperti tidak merasakan apa-apa. Tidak ada perubahan dalam diri saya.

Jadi saya akan membagikan lagi dua poin penting mengapa kita harus meningkatkan niat belajar dalam hal ini saya lebih banyak menekankan untuk membaca buku.

Karena kita memilik kesadaran pra-sadar

Seperti yang saya jelaskan pada bagian awal artikel, ketika saya mempelajari teori yang satu ini, saya mendapatkan semangat baru untuk terus membaca. (bisa apa saja yang ingin Anda pelajari maka mulailah).

Hal ini semakin menguatkan saya karena ketika saya membawa diri saya mempelajari sesuatu hal. Munngkin terlihat tidak akan berdampak apa-apa saat ini. Mungkin terlihat setiap waktu yang saya investasikan tidak ada manfaatnya.

Tapi saya tahu, ada yang namanya kesadaran pra-sadar, dimana apapun yang saya pelajari hal itu tersimpan rapi dalam memori (pra sadar) saya. 

Sehingga saya tidak sadar bahwa saya pernah mempelajari hal itu, mempelajari hal-hal yang penting tapi terlihat hilang. Karena tersimpan rapi hal ini begitu memberikan semangat. 

Maka inilah yang dijelaskan dalam teori dari sadar dijembatani oleh pra-sadar, menjadi tak sadar. Demikian sebaliknya dari tak sadar ke sadar tetap dijembatani oleh pra-sadar. (saya harap Anda mengerti) kita lanjut.

Karena apa yang kita pelajari akan muncul pada waktu yang tepat

Poin ini saya ingin jelaskan dari taksadar dijembatani menjadi kesadaran sadar. Seperti cerita saya dimana Anda seorang yang suka bela diri saat dalam keadaan terdesak Anda akan dengan mudah mengingat cara memukul, dan akan lebih tenang jika Anda ahli dalam bela diri. Prinsipnya sebenarnya sudah saya jelas pada teori.

Tapi untuk memperkuat, saya ingin jelaskan sedikit. ketika Anda mempelajaris sesuatu maka hal yang akan Anda pelajari akan menjadi kesadaran sadar pada waktunya. 

Anda pasti pernah ditanya oleh seorang guru di kelas. Dan pertanyaan tersebut muncul sebelum guru Anda belum menjelaskan apa-apa.

Tiba-tiba Anda mengingat sesuatu dan itu jawaban dari pertanyaan sih guru Anda sehingga Anda menjawabnya dan banar. Atau bukan Anda teman Andalah. 

Inilah yang dinamakan buah dari proses belajar Anda tapi saya yakin Anda bahkan lupa kapan Anda mempelajari hal yang guru Anda tanyakan.

Karena setelah Anda dulu mempelajarnya dalam kesadaran, namun teralih oleh aktivitas lain sehingga Anda tidak sadar. Tapi hal yang Anda pelajari ada dalam pra-sadar tersimpan rapi.

Teori psikologi kepribadian kali ini, menolong kita untuk terus mau belajar meskipun kita tidak secara langsung menangkap apa yang kita pelajari. 

Mengerti dan mengenal diri kita, ternyata kita memiliki memori penyimpanan yang Allah anugerahkan sangatlah keren. 

Mau terus membaca buku dan melakukan hal-hal yang bermanfaat karena secara sikologis diri kita dirancang untuk semua itu, semoga artikel kali ini bermanfaat saya Agung Raditia mohon undur diri. 

Sumber :

Alwisol, "Psikologi Kepribadian" edisi revisi, diterbitkan oleh UMMPRESS

https://psikologi.ustjogja.ac.id/index.php/2015/11/05/teori-kepribadian-sigmund-freud/

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.