Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

1 Yohanes 3:2-3 Penyucian Diri Yang Bersumber Dari Pengharapan

1 Yohanes 3:2-3 Penyucian Diri Yang Bersumber Dari Pengharapan

Karena begitu besar kasih Allah pada dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak Tunggal-Nya. Saudaraku suatu sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita telah Allah angkat menjadi anak-Nya yang terkasih.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama belajar. Bagaimana ketika kita menjadi anak Allah. Hal apa yang akan terjadi pada diri kita, apa dampak nyatanya.tentunya semua dampak itu karena kasih karunia.

Ketika menjadi anak Allah, kita akan tahu dengan jelas definisi dosa. Kita akan selalu dibawa ke arah kehidupan yang hanya menginginkan kemuliaan Allah saja.

Memang sekarang belum nyata keadaan dari semua harapan yang kita terima dari Alkitab. Alkitab yang kita Imani. Namun saya akan menjelaskan 2 poin penting dari ayat 2-3 dalam ketidaknyataan tetapi ada hal yang nyata ketika kita memang sudah  menjadi Anak Allah.

1 Yohanes 3:2-3 Penyucian Diri Yang Bersumber Dari Pengharapan

1. Harapan yang tidak ada habisnya

Ketika kita tidak berharap kepada Allah, pada saat itulah hal yang menyedihkan akan hadir dalam hidup kita, Allah sumber kehidupan sudah menebus kita dari kehidupan yang sia-sia. 

Anda dan saya lebih suka menebus diri sendiri, Anda dan saya selalu mencari alternatif lain, pengajaran lain. Sama seperti jemaat yang dimana surat 1 Yohanes di tunjukan pada saat itu mau disesatkan ajaran yang bukan Injil

Berpedoman yang kepada yang lain, bukan Alkitab. Entah itu keadaan hidup, kebijaksanaan, kepintaran, perasaan, dan logika. Karena kita merasa tidak adanya harapan dalam Allah, semuanya terlihat abu-abu.

Pada ayat Yohanes menjelaskan memang tidak jelas keadaan kita kelak, hal ini menunjukan kepada kita bahwa memang dalam dunia ini tidak adanya kejelasan. Tetapi apakah hal ini menjadikan kita tidak memilik iman kepada Allah.

Kita harus secara serius kembali ke ayat 1, “betapa besarnya kasih yang diberikan Bapa kepada kita.” 

Saudaraku tidak adanya harapan, semua itu karena kita sering lupa pada Injil, kita lebih suka merenungkan kehidupan dan realitasnya. Dan tidak memandang ke Yesus yang disalibkan itu, Yesus yang menyatakan kasih-Nya.

Kita haruslah sadar, bahwa Injil (kabar baik) adalah Alkitab. Saya akan selalu menyerukan hal ini, memang iblis sangat suka jika Anda tidak membaca Alkitab, sehingga Anda dibawa kepada kehidupan tanpa harapan, melupakan Injil dan hidup sesuai pikiran kacau yang dikuasai dosa.

Bertobatlah, pakailah waktu Anda untuk membaca, mendoakan, dam merenungkan Kebenaran Alkitab. Karena satu-satunya harapan itu bisa Anda nikmati dan Anda dapat hidup lega adalah menikmati Alkitab yang Anda baca. Hidup memandang kepada Injil Yesus saja. Bacalah Alkitab disana harapan sejati ada. 

Bacalah Alkitab dan mari kita berhenti bodoh, mau diperbudak kemalasan yang membawa kehidupan kita tanpa harapan.

2. Iman yang menyucikan

1 Yohanes 3: 3 TB Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Anda tidak akan memiliki harapan kepada Allah jika Alkitab Anda yang tersusun rapi bertahun-tahun dan tidak Anda baca. Saudaraku pengharapan kepada Kristus adalah iman. Iman yang adalah kasih karunia Allah, iman yang menjadikan kita bertobat. 

Jika kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil akan menyucikan kita dari dosa dan kejahatan kita, inilah janji Allah tentang berharap pada Allah. Berharap disini bukan tentang Anda meminta hal fana untuk Anda sembah, bukan itu.

Berharap berarti menyadari Allah mengasihi Anda dan Anda memuliakan Dia, percaya karya keselamatan dari Yesus benar-benar nyata. Pengharapan akan kehidupan kekal, pengharapan penyertaan Allah ketika Anda melayani mengabarkan Kristus. Inilah pengharapan yang menyucikan. 

Ini adalah pengharapan yang akan menjadikan kita semakin serupa Yesus dalam kasih dan keadilan-Nya. Ia selalu melakukan kehendak Bapa. Ia tidak berdosa jadi siapa yang ada dalam Dia tidak akan suka berdosa.

Ketika kita sudah menjadi anak Allah, kita tidak mampu berbuat dosa karena Alkitab menjadi makanan rohani, Ia adalah Roti Kehidupan yang memuaskan. Setiap orang yang masih berbuat dosa hidup dalam dosa bukanlah berasal dari Allah.

Lalu bagaimana dengan kita, bagaimana kita dapat mengetahui kalau kita sudah menjadi anak Allah. Kita kembali ke pasal 1 ayat 3 Kristus yang diberitakan, membawa Anak Allah ke dalan persekutuan yang intim antara dirinya dan Allah. Dan yang terpenting juga sejalan dengan persekutuan bersama Allah adalah bersekutu bersama sesama manusia.

Baca Juga : Persekutuan Yang Membawa Kehidupan Yang Bersukacita

Dalam persekutuan inilah kita saling mengasihi, dan memancarkan kasih kepada orang di luar persekutuan kita, “inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga yang tidak mengasihi saudaranya.

Kebenaran dan kasih mutlak ada dalam kita jika kita benar-benar dalam Yesus dan Yesus dalam kita, “janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena jika sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Jadi, selama masih ada kesempatan bagi kita, hendaklah kita berbuat baik kepada semua orang, terutama sekali kepada saudara kita seiman.”

Sebab kita ini ciptaan Allah, diciptakan dalam kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang Ia persiapkan sebelumnya. Janganlah kita, mengasihi saudara-saudarku hanya dengan perkataan dan lidah, tetapi marilah kita mengasihi dengan perbuatan dalam Kebenaran Yesus.

Kiranya Allah yang adalah sumber segalanya itu memampukan kita untuk terus hidup dalam Kristus, berpengharapan dalam Yesus dan dari itu semua harapan itu bersumber dari kecintaan kita pada Alkitab yang setiap hari direnungkan. AMIN

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

Posting Komentar untuk "1 Yohanes 3:2-3 Penyucian Diri Yang Bersumber Dari Pengharapan"

Berlangganan via Email