Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Alkitab Kejadian 3 Definisi Elohim Bagian Satu | Hikmat Manusia Menuju Kepada Kebinasaan

 

Definisi Elohim Bagian 1 |Hikmat Manusia Menuju Kepada Kebinasaan 

Ketika saya mulai untuk membaca Alkitab dan merenungkannya, ada sejuta pertanyaan dalam pikiran saya. Dan saya tidak pernah memberitahukan orang lain, pertanyaan-pertanyaan ini saya bawa dalam doa terus mencari jawabannya sendiri hingga akhirnya saya puas. Dan salah satu pertanyaan tersebut. Menghadirkan dua kata yang menurut saya sendiri mempunyai makna yang sangat dalam.

Kejadian 3:7 TB Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyematkan daun ara dan membuat cawat.

Definisi Elohim, dua kata yang saya bentuk ketika saya mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan dan kebingungan saya. Sebelumnya, saya ingin jelaskan bahwa definisi Elohim dalam konteks ini. Saya tidak sedang ingin mendefinisikan kata Elohim, namun saya justru ingin mendefinisikan manusia dan alam semesta berdasarkan definisi dari Allah.

Mengapa saya sangat berani mendefinisikan manusia dan alam semesta. Anda mungkin akan berkata bahwa setiap manusia mempunyai pemikiran masing-masing dan berbeda-beda. 

Saya sangat yakin dan berani karena Alkitab dengan jelas mendefinisikan kehidupan Anda dan saya bahkan alam semesta, semuanya. Dan Alkitab mengatakan mata kita telah terbuka dan kita sedang berjuang seperti Adam dan Hawa untuk menyembuyikan rasa malu kita akibat dosa.

Pagi ini, 07/12/2020, ketika saya merenungkan kita Mazmur. Hal terpenting yang saya dapatkan dan saya simpulkan. Selain Mazmur sedang mendefiniskan sifat dari Sang Kuasa pencipta langit dan bumi. Ternyata Mazmur sedang mengajarkan saya sikologi manusia. Karena semua hal yang Pemazmur tulis ia sedang memberikan gambaran nyata dari isi hati manusia, pikiran manusia, secara sikologi.

Jadi jika Anda ingin mempelajari psikologi manusia, bacalah berulang-ulang kitab Mazmur. Ini sedikit informasi bagi Anda. Kita kembali ke poin yang ada pada judul artikel kali ini. 

Hikmat manusia yang membawanya kepada kebinasaan kekal. Kita akan memulai pembelajaran Alkitab kita pada Kejadian 3, karena pertanyaan saya seperti ini ketika saya membaca dan merenungkan kejadian 3. Kita masuk ke poin pertama!

1. Pertanyaan yang tersimpan pada kedalaman hati

Saya sangat mengerti sifat saya, sifat yang sangat suka meremehkan segala sesuatu atau menganggap ringin setiap kejadian dan keputusan. Bisa juga dikatakan dalam diri saya terlalu benyak ketidakseriussan. Sehingga begitu gampang saya memutuskan segala sesuatu dan meremehkan apa yang akan saya terima berikutnya.

Pertanyaan saya, bagaimana mungkin manusia, Adam dan Hawa hanya dengan memakan buah. Sampai hari ini, manusia merasakan efek dari dosa dan dunia yang terkutuk ini. Jika kita perhatikan, dan jika saya yang ada disana pada waktu itu, saya akan meminta keadilan dari Allah.

Hanya makan buah, dengan berjuta penderitaan, saling membunuh, perang, kelaparan, bencana alam, dan banyak lagi jenis penderitaan manusia. Jiwa yang kosong, rasa bosan terhadap harta benda yang melimpah, pelacuran, orang tua yang memperkosa anaknya sendiri, kejahatan terus lahir setiap harinya dalam dunia ini, ketika seorang manusia berdosa sedang melahirkan anak entah itu tampan atau pas-pasan, ataupun cacat dan normal sungguh ia sedang menambahkan penjahat baru dalam dunia ini.

Ia sedang melahirkan seberkas dosa, manusia yang mati rohani. Dan jika saya ingin jujur berdasarkan definisi Alkitab semua orang telah berdosa, tidak ada satupun yang mencari Allah jadi 89 % anak tersebut berpotensi menjadi penjahat hanya sedikit kemungkinan ia akan menjadi pembawa damai. Jika tidak menjadi penjahat kehidupannya akan menjadi orang yang bermoral namun lucik, tidak berguna, hanya memikirkan perutnya sendiri dan berbagai jenis kehidupan yang bermoral dan itu moral dunia yang fana. Saya tidak mampu lagi, begitu banyak kejahatan dan penderitaan yang ada dalam dunia ini.

Semua itu berawal dari sifat ramah nenek moyang kita sih Hawa, ia hanya sedang tegur sapa lalu dilanjutkan mengobrol dengan sih cerdik ular. Dalam taman yang sejuk dan indah, mereka hanya sedang bercerita tentang Allah dan buah yang di tengah taman dan pada akhirnya semuanya diawali dengan memandang, mereka memegang, lalu memakan buah tersebut. 

Lalu apa? Penderitaan yang Anda dan saya alami hari ini, kita menjadi manusia berdosa saudara, dan kita sudah bisa dipastikan akan masuk neraka, sebab upah dosa adalah Maut. Inilah konsekuensi ketika kehidupan yang Anda dan saya definisikan berdasarkan pikiran dan perasaan kita. 

2. Menerima Jawaban Yang Memuaskan

Ketika saya kembali merenungkan Kejadian 3, ada hal yang saya abaikan. Inilah Alkitab kita, dipenuhi dengan makna, setiap nama, tempat, bentuk dan hal-hal yang ada di dalamnya terkandung makna yang harus kita pelajari secara sugguh-sungguh.

“pengetahuan yang baik dan jahat.” Iblis pada saat menggoda Hawa, ketika ia mengatakan bahwa sesekali ia tidak akan mati melainkan sama seperti Allah. Ular tua tesebut tidak sedang berbohong, namun ia juga tidak sedang jujur. Karena ia hanya menceritakan setengah kejujuran tanpa penjelasan. Dan hal itu sangat logis dan menggiurkan.

Kata yang sangatlah manis, waw akan menjadi sama seperti Allah, dan bisa mengetahui yang baik dan jahat. Bukankah hal ini keren. 

Ketika Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan, mereka mempunyai kemampuan untuk mendefinisikan baik dan jahat berdasarkan diri mereka sendiri. Bukan lagi berdasarkan Allah dan inilah dosa, karena benar manusia menjadi sama seperti Allah bahkan menjadi allah atas dirinya sendiri inilah penyembahan berhala yang pertamakali manusia lakukan.

Definisi Alkitab atau Elohim tidak pernah akan sama dengan definisi kita, kita mendefinisikan sesuatu dan melahirkan awal mula dari perbudakan oleh kebebasan itu sendiri, perbudakan oleh pengetahuan itu sendiri dan selalu saja menuju kebinasaan. Dosa mempunyai arti tidak tepat sasaran melenceng dari sasaran. Hal inilah yang terjadi pada diri Anda dan saya, kita tidak pernah bisa tepat sasaran. Akan selalu melaju menuju kekosongan, tekanan, kebosanan, dan bahkan penderitaan.

Bersambung Ke Bagian 2. : Rasa Malu Akibat Dari Dosa-dosa 

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.