Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

(Kisah Para Rasul 1:21-25) Allah Yang Melihat Isi Hati Manusia Untuk Pekabaran Kabar Baik

Renungan 8 Oktober 

Allah Yang Melihat Isi Hati Manusia Untuk Pekabaran Kabar Baik


Kabar Baik Harus Ada Hati Yang Baik dan terus dimurnikan

21Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, 22yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." 23Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias. 24Mereka semua berdoa dan berkata: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, 25untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya." 26Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.

(Dalam Kitab Kisah Para Rasul 1:21-25 TB)

Jika kemarin fokus dari bacaan kita, terletak pada kelemahan kita, yang pada dasarnya kita sama seperti Yudas yang telah menjual Yesus demi visi dalam hatinya. 

Begitu juga kita, kita selalu mempunyai visi yang kita mohonkan kepada Allah agar Ia menyetujui hal itu, visi itu tentunya bukanlah berfokus pada Injil, bukan pada kemajuan pemberitaan Injil. Visi-visi hebat inilah yang akan menjadikan jiwa kita kering dan kosong.

Mari bersama kita merenungkan isi hati kita, sudahkah kita mengerti dan tahu bahwa tujuan hidup kita adalah untuk Allah, untuk menikmati Kabar Baik Kristus dan mengabarkan Kabar Baik. Kabar baik yang telah membebaskan kita dari perbudakan dosa.

Apakah kita masih mau seperti Yudas yang meskipun melihat kuasa Allah tetapi tetap memilik visi dalam hatinya dan pada akhirnya, kesunyian dan kehampaan yang menjadi sahabatnya. 

Pada artikel kali ini kita akan belajar. Ketika kehidupan dalam persekutuan berfokus pada Injil. Maka dalam persekutuan yang seperti inilah kita akan memandang pada Kristus, untuk semakin mencintai Yesus, dan mengabarkan kasih-Nya pada dunia. 

Kita akan melihat bahwa Dia adalah Allah yang memandang hati untuk terus dimurnikan dan dididik.

Allah memandang hati

Jika Anda setia pada hal-hal kecil maka Anda akan menerima hal besar, jika hati Anda baik, maka Anda akan menjadi sukses. Pada bagian ini kita begitu sering salah fokus. Serignkali hal besar yang kita pikirkan bukanlah kasih karuia Allah, bukanlah kemuliaan Allah, bukanlah kehidupan yang menang terhadap dosa.

Ingin manjadi baik, dan dipilih dalam rencana Allah, kita mengaku percaya Allah namun semua itu untuk kepauasan diri yang berpusat pada diri untuk memuliakan hal-hal fana. 

Selama penantian para murid, menantikan Roh Kudus. Mengenang kembali tentang kehidupan Yudas, dan Yudas yang telah Allah pilih sebagai pemberita Injil, telah mati gantung diri, karena ia merasa tertekan setelah menjual Yesus. 

Suatu usulan untuk menemukan seorang pengganti, untuk menjadi seorang pemberita Injil. Dalam persekutuan mereka memuji Allah, medoakan jiwa-jiwa, dan terus menantikan janji Allah.

Ketika persekutuan itu berpusat pada Kristus, maka hal besar yang akan persekutuan itu terima adalah suatu kepercayaan untuk mengabarkan Injil dan terus menikmati pengampunan dosa, dan menang atas dosa kita dimampukan untuk tidak berbuat dosa. Semua itu berfokus pada pekabaran Injil.

Hal besar yang Allah berikan setelah hal kecil yang Anda dan saya lalui dengan setia, adalah penderitaan yang lebih lagi, penderitaan dalam Yesus. 

Menderita karena kita pasti ditolak dunia, menderita karena kita terlihat aneh, menderita karena injil adalah musuh setiap manusia berdosa, dan kita pasti akan mederita, karena setan setiap hari berbisik pada kita untuk tidak mengabarkan Injil. Dan suara dari sih jahat sangatlah jelas.

Inilah kahidupan Kristen, kehidupan para Rasul dan Rasul baru, yaitu Matias. Allah yang tahu isi hati Matias dan membentuk dia untuk siap menderita demi Injil, meninggalkan setiap visi demi kesenangan diri demi menikmati Injil dan terus mengabarkan Injil.

Allah sangat serius dalam hal melihat hati, Allah sangat serius dalam hal mendidik hati Anda dan saya sehingga kita muncul menjadi emas, dan emas yang siap menderita, menderita dalam kenikmatan. "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, 25untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya."

Sering kita hanya ingin menjadi emas, ingin watak yang baik, kita ingin mempunyai moral yang dihormati di kehidupan bermasyarakat tetapi kita tidak mau berpusat pada Injil atau bisa jadi kita tidak mengerti Injil, hidup dalam injil dan memikmati Injil dan memandang hanya kepada Sang Injil. 

Watak yang Allah bentuk agar menjadi lebih baik adalah watak yang dipersiapkan untuk menerima penderitaan lebih lagi dan lagi. 

Baca Juga :

Inilah Kekristenan, inilah ikut Yesus haruslah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus, dan menyangkal diri lagi begitulah sampai Yesus menjemput Anda dan saya. Dan hal inilah yang para murid alami setelah Roh Kudus memenuhi mereka. 

Roh Kudus memampukan kita semua.

Saya Bedoa bagi Anda, agar Anda mau menyerahkan hati untuk dididik oleh Yesus, mau untuk memberikan hati yang terdidik itu bagi penderitaan dalam pekabaran Injil, dan jika Anda ingin mundur dari Injil yang murni. 

Saya berdoa kiranya Allah memberikan jalan kepada Anda untuk mundur, dan tidak ada paksaan dalam Injil, tetapi kiranya Allah membukakan kepada hati dan pikiran Anda betapa kosong, kering, hampa, dan menyedihannya hidup tanpa penderitaan dalam Injil dan hanya hidup dalam kesuksesan dunia. AMIN

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.