Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

(Kisah Para Rasul 1:15-20) Kesepian Dan Kekosongan Penyebabnya

Renungan 07 Oktober

Kesepian Dan Kekosongan Penyebabnya

15Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata: 16"Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu. 17Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini." 18--Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar. Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam Bahasa mereka sendiri "Hakal-Dama", artinya Tanah Darah--. 20"Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain. 

(Dalam Kitab Kisah Para Rasul 1:15-20 TB)

Pada ayat-ayat sebelumnya kita tahu bahwa para murid datang ke Yerusalem untuk menanti, janji Allah. Di loteng rumah, mereka berdoa dan bersekutu bersama. Doa-doa yang memuliakan Allah. Doa-doa yang bukan berdasarkan pada kesenangan diri, tetapi doa yang menyatakan hubungan yang intim antara mereka dan Allah.

Sampai pada suatu ketika Petrus berdiri, pada bagian ini kita akan merenungkan. Satu poin penting. Yaitu suatu fakta mengejutkan. 

Kita begitu sering digiring pada injil palsu, para hamba kacau menekankan bahwa standar diberkati Allah adalah mempunyai banyak uang. Mempunyai kehidupan yang mewah, kehidupan yang bisa melayani banyak jemaat. Tetapi apakah itu mau-Nya Yesus?

Pelayanan Yesus yang menjadi fokus utama adalah 12 orang murid. Perhatikan Tuhan tidak tertarik dengan banyaknya orang yang mengikuti-Nya. Bukan hal itu yang menjadi kebanggaan Yesus. 

Jika benar standar diberkati Allah adalah uang dan harta dan pengikut yang banyak dan gedung gereja yang mewah. Maka Yesus bukanlah orang yang diberkati Allah. Tetapi bagaimana mungkin Ia tidak diberkati, Ia adalah Allah. Dialah berkat kekal yang diberikan Bapa. 

Ia adalah berkat itu sendiri. Jadi orang yang diberkati bukan dilihat dari kehebatan berkotbah dan banyaknya harta fana yang ia miliki. Tetapi pada orang mempunyai Yesus. Orang tersebut bersukacita dalam Injil. Orang tersebut mengasihi jiwa-jiwa. Seperti Sang berkat mengasihi jiwa manusia.  Kita masuk pada poin perenungan kita.

Kesunyian dan kehilangan tujuan Allah

Yudas adalah gambaran kehidupan Anda dan saya. Karena kita Yesus merelakan diri-Nya tergantung disalib kita adalah orang berdosa, bila bukan Allah yang menyelamatkan kita, kita pastilah akan binasa.

Jika Anda merasa Anda bukan Yudas, Anda salah, setiap kejahatan yang Alkitab tunjukan adalah jenis isi hati kita, hati yang sebenarnya tidak menginginkan Allah, hati yang selalu ingin kuasa Allah untuk kesengangan diri yang menuju kebinasaan. 

Maka Yudas lebih memilih dan mempunyai visi tersendiri dalam dirinya. Ia menjual Yesus, dalam hal ini ada beberapa Jenis tafsiran mengapa Yudas menjual Yesus. Tetapi bukan itu yang akan kita bahas.

Kita akan membahas ketika orang yang berpura-pura percaya, apa yang hati mereka rasakan?

Uang yang Yudas dapatkan tidak menjadikan ia puas ia bahkan kecewa dan menggantung dirinya, bukankah karena uang inilah. Begitu banyak hamba-hamba bahkan sering Anda dan saya yang berlebel mengasihi Yesus tetapi mempunyai tujuan lain (bukan Injil tujuan kita). Kekuasaan, kehidupan yang nyaman, sehingga fokus kita adalah berkat Yesus.

Kesunyian, kehampaan, kematian, dan dalam kematianpun masih mengalami penderitaan perut yang terbelah. Inilah yang dialami orang-orang tanpa Yesus. “Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya dan Biarlah jabatannya diambil orang lain.”

Kita semua diciptakan sebagai pemberita Injil, bukan hanya itu kita lebih duhulu menikmati Injil, jika kita hanya fokus pada tujuan kita, dan hanya melihat pada titik untuk menjadi orang yang memenuhkan kebutuhan hidup saja. 

Menjadi hamba Tuhan bukan jiwa-jiwa fokus utama tetapi hal-hal luar biasa berkat dan berkat. 

Akan ada kesunyian yang begitu rupa dalam diri kita, karena tujuan diri kita diciptakan bukan untuk menikmati dunia berdosa, kita diciptakan untuk menikmati Yesus. 

Tujuan diri kita untuk Injil. 

Anda akan tetap hidup dalam kebutuhan yang tercukupi mungkin bila hidup tanpa Injil. Tetapi Anda akan merasa hampa, karena pada dasarnya orang yang tidak r untuk memberitakan Injil, meskipun ia mengaku percaya. Ia tidak memiliki Yesus dalam dirinya, Ia belum benar-benar menikmati Roti kehidupan itu.

Jabatan Anda akan menjadi milik orang lain. Yesus mempunyai banyak cara agar nama Allah dimuliakan, agar banyak jiwa diselamatkan. 

 Baca Juga :

Sukacita yang Yesus tawarkan adalah sukacita meskipun menderita, yang saya maksud. Sukacita yang meskipun ditolak dunia tetapi tetap bersukacita, sukacita yang muncul karena mati rasa akan harta dunia tetapi terus menginginkan Yesus saja dalam hidup.

Saya berdoa, kiranya Anda menyadari tanpa Sang berkat dalam diri Anda, tanpa Sang Injil dan tanpa Roti hidup itu Anda akan hampa, kosong, dan kebingungan. Roh Kudus tolong kami, Allah ampuni dosa-dosa kami dan mampukan kami menyadari tujuan kami yaitu hanya Engkau Yesus, Injil-Mu diberitakan bagi bangsa-bangsa. AMIN



Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.