Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kehidupan Yang Bukan Aku Lagi Tetapi Kristus Dalam Aku

 

Gembalakan Domba-domba-ku

Seorang Pendeta berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Allah dalam pelayanannya. Ia berpikir bahwa pelayanan itu merupakan tanggung jawabnya. Seluruh pikiran, kreatifitas, segala tindakan, dan hal-hal menakjubkan ia usahakan untuk menjadikan pelayanannya berhasil. Ia sangat bertanggung jawab, bahkan setiap pekerjaan yang belum terselesaikan dalam pelayanan ia selesaikan.

Perayaan demi perayaan ia selenggarakan, bahkan ia melakukannya dengan baik dan benar. Setiap acara dapat terselesai dengan sempurna. Jemaat yang ia layani pulang ke rumah mereka dengan puas karena berbagai pertunjukan yang dibuat. Sampai pada suatu ketika ia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia mulai menyalahkan setiap pelayanan yang ia kerjakan. Sih pendeta ini mulai frustasi karena ia mendapati jemaat yang seringkali menyalahkannya karena hal yang sepele.

Jemaat yang ia gembalakan  terlihat tidak puas dengan pertujukan ada berbagai aktifitas kepanitaan yang melelahakan. Begitu juga dia merasa begitu lelah, ada rasa kering seperti disinari sinar matahari di padang belantara. Rasa sepi yang teramat sangat.

Cerita di atas adalah karangan saya, tetapi ini mencerminkan hati kita orang percaya. Kita begitu suka terlihat superior dalam segala tidakan. Tidak jarang iman Kristen seringkali salah dimengerti oleh kita. Kita merasa karena kita rajin, baik, dan mampu melakukan banyak hal maka kita dikasihi Allah. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Saya pun sekarang terus bergumul untuk mendisiplinkan diri. 

Tapi mari kita renungkan sejenak. Apakah benar karena kita melakukan yang terbaik maka Yesus mengasihi kita. Tidak itu motivasi yang salah dan hal kita harus bertobat, ya bertobat. Mari kita kembali kepada Injil yang murni yang akan memberikan air hidup abadi karena Yesus adalah Air hidup itu. Kita melakukan yang terbaik atas dasar Allah memampukan kita, karena kita terlalu lemah bahkan tidak memilik kemampuan.

Galatia 2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Latar belakang ayat di atas muncul karena jemaat Galatia tidak lagi bergantung pada Injil yang murni melainkan injil yang sudah dicampurkan dengan hukum Taurat maka, Paulus menegaskan bahwa hidup kita bukan tantang kita tetapi tentang Kristus yang sudah mengasihi kita, hal itu terbukti karena Ia sudah menanggung segala hukuman dosa kita.

Maka pelayanan, pekerjaan bidang apapun, Pendidikan, keluarga, dan banyak hal dalam kehidupan kita bukanlah tanggung jawab kita sepenuhnya, meskipun kita harus bertanggung jawab atas dasar sukacita karena kasih Allah kepada kita.

Hal yang Allah percayakan adalah milik Kristus, Dia bukan bos, Dia adalah sehabat kita yang Mahakuasa, Dia mau kita bergantung pada-Nya dan tidak mengandalkan diri kita sendiri Dia akan dengan penuh kereatifitas menolong kita.

Salah satu paradoks dalam buku yang saya abaca, “Pelayanan (pekerjaan, Pendidikan, dll) kita pada Tuhan dapat menggantikan Tuhan dan hal itu menjadi tuhan kita.”


Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita