Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehidupan Orang yang Mengasihi Yesus BAGIAN 4

Kehidup Yang Mengasihi Yesus, Terang Allah

Pusat dari Efesus 5 adalah orang percaya sejati, terang yang menelanjangi kegelapan dalam diri lalu orang lain.

Kita sampai pada bagian 4 dalam pembahasan, ‘kehidupan yang mengasihi Yesus.’ Sangat penting bagi kita untuk mengasihi Yesus, menjadi penegasan untuk kita mengasihi Yesus bukan agar Allah lebih mengasihi kita, atau agar kita lebih diberkati lagi. Kehidupan kita tidak akan bisa mengasihi Yesus.  Tetapi Dia sangat mengasihi kita, kasih-Nya adalah kasih yang sangat besar, kasih sahabat yang merelakan nyawa-Nya. 

Kehidupan yang digerakan oleh Roh Kudus

Maka kehidupan orang percaya yang mengasihi Yesus adalah kehidupan yang digerakan oleh Roh Kudus untuk terus bertobat dan menyadari keberdosaannya selama di dunia. Maka sangat perlu untuk terus mengingatkan diri, berlatih, dan berproses untuk semakin mengasihi Yesus. Sampai akhirnya hanya Yesuslah yang menjadi tujuan kita dan kenikmatan jiwa, membuahkan sukacita sorga. Mengabarkan Injil bagi orang terdekat kita, agar merekapun dapat menikmati yang kita nikmati, menikmati Roti Kehidupan, berjalan di Jalan Kebenaran, dan meminum Air Kehidupan.
11Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.  12Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.  13Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.

(Dalam Kitab: Efesus 5:11-14)
Saat kita sudah mengerti bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia dari Allah, maka kita diubahkan dari orang yang menikmati kehidupan gelap, menjadi membenci kehidupan yang gelap itu. Tetapi kita tetaplah manusia yang berdosa, “Roh memang penurut, daging lemah” kata Yesus. Berkali-kali bangsa Israel ingin kembali ke tanah Mesir, padahal mereka tahu bahwa meraka di sana diperbudak. Begitu juga kita, daging kita selalu ingin menikmati dosa, kita selalu ingin kembali ke Mesir kita yaitu perbudakan oleh dosa kita. 

Bila Anda baca artikel kehiduapan mengasihi Yesus bagian 1 dan 2, dijelaskan kehidupan kegelapan yang dimaksud pada ayat 11. Bisa juga Anda baca di ayat 3-6, di ayat-ayat tersebut merupakan definisi kegelapan berdasarkan konteks Efesus 5.

Dosa harus diakui

Nasehat yang sangat dalam dan utuh, “telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” kita bukan hanya dianjurkan untuk tidak hidup sebagai manusia kegelapan. Tetapi kita harus menjadi terang. Pada pembahasan kali ini kita akan fokus pada, bagaimana kita dapat menelanjangi kegelapan. Allah sangat kudus, ia tau tempat-tempat tersembunyi Ia adalah Allah yang Maha tahu.

Kehidupan orang yang mengasihi Yesus, merupakan kehidupan yang tidak mudah. Setiap hari bersiap untuk hidup tidak menikmati dosa. Padahal daging yang dimana jiwa kita berdiam selalu menuntut kepuasan yang bukan dari Tuhan. Maka kita sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk bisa menelanjangi kegelapan, ada kabar baik. Ketika kita mengaku ketidakmampuan kita maka Allah yang bekerja. Bahkan Ia sudah menyelesaikan apa yang tidak akan mampu kita selesaikan, “Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” Pada ayat 13, dinyatakan ada kuasa terang sejati yang sudah menelanjangi kegelapan, sehingga semuanya nampak.

Dahulu kita orang berdosa

Tunggu mari kita renungkan lebih dalam lagi. Bukankah kita juga adalah dahulu manusia gelap? Jadi untuk bisa menerangi kegelapan kita yang harus terlebih dahulu diterangi oleh Injil. Jadi segala sesuatu yang baik dan benar, terang dan sukacita abadi adalah tentang Yesus, Dialah terang itu. Dialah yang adalah terang yang harus ada dalam kita sehingga kita menjadi terang. Tidak ada terang dalam diri kita secara alami, kita adalah dosa.

Maka kita akan melanjutkan nasehat Pulus berikutnya yang selalu saja berpusat pada Injil, Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Kita sampai pada pusat pasal 5, yaitu sebagai orang yang sudah Yesus kasihi, bagi kita Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai penerima murka Allah. Kita harus menjadi anak-anak terang bukan karena kita bisa menjadi terang tetapi karena cahaya Kristus ada dalam kita. Bagaimana itu semua bisa ada dalam kita?

Baik, mari kita perdalam perenungan kita! Pada ayat satu nasehatnya, “jadi penurut Allah, hidup dalam kasih.” Untuk kita bisa hidup dalam kasih dan melihat betapa berharga-Nya kasih itu, dan menikmati kasih itu. kita herus sungguh-sungguh menyadari betapa gampangnya kita kembali kepada dosa, dosa disini bukan soal perbuatan tidak bermoral saja. Dosa yang saya maksud adalah hidup tidak bermoral dan berpikir bahwa hal itulah yang menyelamatkanmu maka kamu bertobatlah. Dan hidup bermoral, mematuhi semua hukum agama Kristenmu, sehingga kamu mengira bahwa hal itulah yang menyelematkanmu maka bertobatlah. 

Bertobat dari perbuatan baik yang kita anggap selama ini itulah juruselamat kita. Bertobat dari perbuatan jahat yang kita anggap selama ini itulah juruselamat kita. Dan konteks pada Efesus 5 adalah pertobatan dari perbuatan jahat. Anda dapat belajar tentang pertobatan dari perbuatan baik, lebih tepat pembahasan itu ada pada surat Paulus jemaat Galatia.

Tuhan kiranya anugerah-Mu menunjukan kepada kami betapa gampangnya kami hidup dalam kegelapan. Ampuni kami orang berdosa ini, biarlah hanya terang sejati saja yang ada dalam diri kami. yaitu terang Yesus dan kami dapat menerangi sekitar kamI mengabarkan Injil yang adalah terang sejati itu. AMIN


Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.