Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

INJIL dan Covid-19, Kematian dalam sukacita bersama Kristus

 Ketika Covid-19 mendatangkan ketakutan Injil Kabar baik menyegarkan

Injil sebagai berita dimulai pada kejadian 3, ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Ketika merenungkan dosa dalam pengertian Injil secara mendalam. Kita mendapati definisi dosa yang tersirat dalam Alkitab melalui semua cerita Alkitab. Bahwa dosa adalah manusia sangat membenci Allah, karena iblis setiap saat berbisik kepada manusia bahwa Allah itu jahat dan natur kita yang memang pemberontak

Ular belum berhenti memfitnah Allah. Bukan hanya sampai pada Hawa dia berbicara. Bahkan  hari ini dia masih dengan sangat jelas terdengar di pikiran kita. Covid-19  ini sangat mungkin ia pakai untuk menuduh Allah tidak mengasihi umat manusia. Bahkan Allah telah mengijinkan kita mengalami penderitaan.

Efek dari virus ini begitu luas, dimulai pada bulan Maret sampai hari ini kita di Indonesia masih belum dapat bernapas lega. Terutama kita yang berada di kota-kota. Dengan adanya kejadian ini maka banyak orang tidak terkecuali kita orang percaya akan merasakan dampak terutama dampak secara mental. 

Bosan itu sudah pasti, rasa malas yang bertambah karena di rumah aja, dan ketidaksabaran, terus bepikir sekuat tenaga agar virus ini segera berakhir. Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul dari dalam diri kita.

Di Alkitab bahwa sejarah manusia tidak lepas dari kata-kata manis ular yang selalu saja berusaha menjatuhkan Allah dihadapan manusia (membuly Allah) membuat umat manusia membenci Allah. Semakin kesini kita tidak mendapat kepastian akan kesudahan dari Covid. Penyebarannya sepertinya tidak akan pernah berhenti.

Ketika kita sudah mulai dapat berpikir di masa kecil dan merasakan apa yang ada di dunia ini, iblis memulai kotbahnya  setiap waktu mengajarkan banyak hal, membuat kita tidak mengenal Allah dan mencintai diri, kita tetap beragama tetapi berpusat pada diri sendiri. Kita bahkan ingin melakukan segala sesuatu berdasarkan apa yang kita mau.

Iblis menawarkan kebebasan dalam pikiran kita, seolah-olah hukum Allah itu mengikat dan membuat kita tidak bebas. Dan dengan adanya Covid-19 iblis membuktikan seolah-olah Allah adalah pribadi yang akan selalu memenjarakan kita dengan segala aturan-Nya.

Dari kabar ini, saya simpulkan bahwa cinta pertama kita, harta berharga kita adalah dosa dan semua kemewahan palsu dunia ini dan kebebasan palsu yang iblis tawarkan. Ini adalah kabar buruk. Karena hasil dari cinta pertama kita, hak kita hanyalah kebinasaan, keterpisahan dari Pribadi yang begitu mencintai kita, Dia bahkan setiap hari berbisik dengan lembut dalam dari kita, “Marilah kepada-KU yang letih lesu berbeban berat Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” “Aku mencintaimu anak-Ku.” 

Kabar baiknya adalah Injil Pribadi Allah sendiri. Pada waktu Adam dan Hawa Ia usir dari taman Eden Ia membuatkan mereka pakaian dari kulit binatang. Inilah bukti nyata bahwa ular berdusta dan saya simpulkan bahwa pikiran kita hari-hari ini ketika tanpa Injil yang masuk mempengaruhinya. 

Maka pikiran kita sedang mendustai kita, dengan bermacam masalah yang belum tentu itu terjadi, kesembongan, dan merasa diri paling penting serta harapan-harapan kita yang berpusat pada pemuasan nafsu kita. Maka Injil sebagai berita sangat menolong kita untuk mengenal pribadi Allah secara nyata dan benar.

Dia bukan hanya Roh, Dia juga manusia sejati maka akan sangat mungkin kita memandang  dan mempunyai hubungan persahabatan dengan Dia secara nyata bukan hanya sesuatu yang  di angan-angan.

Titus 1:11-14
Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan  bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.
Dalam ayat di atas sangat jelas, kasih Allah menyelamatkan kita menuntun kita menjadi kepunyaan-Nya agar kita mencintai Allah. Jadi dosa dan dunia yang adalah cinta pertama kita. Hanya dapat digantikan oleh Yesus yang berbelas kasih. 


Kita disiapkan untuk sebuah perbuatan baik, perbuatan baik akan selalu menolong kita ketika kita sedang sendiri, ketika kita sedang dalam keadaan terdesak. Ketika kita suka berbuat baik, bukankah suatu kebaikan, ketika kita hanya memandang kepada Allah dan berharap pada-Nya pada kondisi seperti sekarang ini.

Injil memberikan kita harapan, Covid memberikan kita kekecewaan jika kita masih mencintai dunia dan kita akan merasa sangat gelisah. Jika kita benar-benar mencintai Yesus hal seperti ini mungkin akan mempengaruhi kehidupan kita, namun tidak dengan harapan, sukacita, dan damai yang kita nikmati bersama Yesus. Kita akan selalu memilikinya karena Yesus adalah kepuasan kita.

Kiranya Allah Roh Kudus terus memampukan Anda dan saya memandang hanya kepada Sang Injil Yesus Kristus. AMIN

Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita