Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Injil dan Agama adalah dua definisi yang berbeda dalam praktisnya

Injil dan Agama,  Ketika Injil memberikan kekuatan bagi yang mempercayai-Nya

Matius 9:13 “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, malainkan orang berdosa.”

Orang cenderung berpikir ada dua cara untuk berhubungan dengan Allah. Mengikuti Dia dan melakukan kehendak-Nya atau menolak Dia dan melakukan kehendak sendiri. Namun, sebenarnya ada dua cara menolak Allah sebagai Juruselamat. Yang satu sudah disebutkan yaitu dengan cara menolak hukum-hukum-Nya dan yang kedua adalah dengan cara mematuhi hukum Allah untuk mendapatkan keselamatan, menjadi sangat rohani dan bermoral tinggi.

Jadi cara menusia berelasi dengan Allah tidak hanya dua melainkan tiga, yaitu: beragama, menolak agama, dan menerima Injil.

Dalam “agama,” orang mungkin menganggap Allah sebagai penolong, guru, dan teladan mereka tetapi mereka memakai prestasi moral sebagai juruselamat mereka. Baik orang beragama maupun tidak beragama meraka tidak mengandalkan Allah sebagai juruselamat dan Tuhan. 

Keduanya berusaha memegang kendali atas hidup mereka sendiri. Dengan melihat sesuatu di luar Allah sebagai sember keselamatan mereka.

Sebagai orang percaya yang di KTP kita beragama Kristen begitu mudah kita terjebak dalam tingkah laku lagalisme/moralisme. Bisa juga kita telah melewati dua tahap ini dan sekarang bergantung penuh pada Injil. Karena Injil kita disadarkan bahwa hidup beragama maupun tidak beragama adalah kehidupan yang keliru.
 
Orang percaya sejati menyadari perbuatan dosa-dosa mereka dan perbuatan terbaik sekalipun sema-sama penghalang untuk mengandalkan Yesus sebagai Juruselamat. Kekristenan bukanlah undangan untuk menjadi lebih rohani ataupun lebih beragama.

Seorang Kristen sejati menyadari, “meski saya sudah sering gagal mematuhi hukum-hukum moral, masalah yang lebih mendalam adalah alasan saya berusaha mematuhinya! Semua usaha itu adalah cara saya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Pada bagian kali ini yang akan menjadi penekanan saya bagi Anda, mari baca!

Orang Beragama menyesali dosa-dosanya. Orang tanpa agama tidak menyesali dosa mereka. Orang Kristen sejati menyesali dosa-dosa mereka dan bertobat dari dosa dan kesombongan rohani yang menjadikan kebaikan diri sendiri sebagai standar keselamatan mereka.

Akan sangat sulit membedakan cara hidup hidup beragama dan mengandalkan Injil, mari kita pelajari dari penjabaran dibawah.

Contoh kehidupan orang beragama;

“Saya taat; karena itu, saya diterima.” 

Motivasi didasarkan pada rasa takut dan rasa tidak aman.

Saya menaati Allah supaya saya mendapatkan sesuatu dari-Nya.

Saat situasi hidup tidak sesuai harapan, saya marah kepada Allah atau kepada diri saya sendiri, karena saya percaya setiap orang yang baik layak untuk menerima hidup yang nyaman.

Saat dikritik, saya menjadi marah dan putus asa, karena sangat penting bagi saya untuk menjadi “orang baik.” Ancaman terhadap citra diri saya harus dihancurkan bagaimana pun caranya.

Kehidupan doa saya kebanyakan berisi permintaan, dan saya giat melakukannya bila sedang ada kebutuhan. Tujuan utama saya dalam berdoa adalah untuk mengendalikan situasi.

Cara saya memandang diri sendiri berayun diantara dua kutub. Jika dan ketika saya hidup sesuai dengan standar yang saya tetapkan, saya merasa percaya diri, tetapi kemudian saya rentan menjadi berbangga diri dan tidak bersimpati pada orang-orang yang gagal. Jika dan ketika saya tidak hidup menurut standar tersebut, saya merasa diri kecil dan tidak percaya diri, saya merasa gagal.

Identitas saya dan rasa kelayakan diri saya didasarkan terutama pada sebarapa keras saya bekerja, atau seberapa baik moralitas saya, jadi memandang rendah mereka yang malas dan tidak bermoral.

Kesimpulan dari kehidupan orang yang beragama adalah orang-orang yang hidup berpusat pada diri sendiri; untuk saya, saya dan saya. Dan hal ini sama dengan orang yang tidak beragama mereka juga berpusat pada diri sendiri; untuk saya, saya, dan saya tetapi keduanya memilih jalan yang berbeda dengan tujuan yang sama.

Mari kita renungkan kehidupan yang sejati hidup dipengaruhi oleh Injil!

“Saya diterima; karena itu saya taat.”

Motovasi didasarkan pada sukacita yang melimpah dari ucapan syukur.
Saya menaati Allah untuk mendapatkan-Nya untuk menikmati-Nya dan hidup serupa dengan-Nya.
Saat situasi hidup tidak sesuai harapan. Saya bergumul, tetapi saya tahu bahwa semua hukuman saya sudah ditanggung oleh Yesus dan sekalipun Allah mengizinkan saya melewati kesulitan untuk melatih saya, Dia akan menyatakan kasih-Nya sebagai Bapa ditengah kesulitan yang saya hadapi.
Saat dikritik, saya bergumul, tetapi bukanlah sesuatu yang “esensial untuk menjadi baik,” identitas saya tidak dibangun berdasarkan rekam jejak saya atau performa saya, tetapi berdasarkan kasih Allah di dalam Kristus.

Kehidupan doa saya berisi banyak pujian dan penyembahan. Tujuan utama saya adalah persekutuan dengan Tuhan.

Cara saya memandang diri saya tidak didasarkan pada pencapaian moral saya. Dalam Kristus saya adalah “simul iustus et peccator,” terus-menerus berdosa dan terhilang, tetapi saya diterima di dalam Kristus. Saya sangat berdosa hingga Yesus harus mati untuk saya, tetapi saya sangat dikasihi hingga Yesus rela mati untuk saya. Hal ini membuat saya merasa sangat kecil tetapi pada saat yang sama saya memiliki kepercayaan diri.

Identitas dan rasa kelayakan diri saya berpusat pada pribadi yang telah mati untuk saya. Saya diselamatkan sepenuhnya oleh anugerah, jadi saya tidak bisa memandang rendah mereka percaya atau membuktikan sesuatu yang berbeda dari saya. Saya ada sebagaimana sekarang semata-mata hanya oleh kasih karunia.

Jadi setiap kehidupan Kristen yang berpusat pada Injil, berarti ia berpusat pada Kristus. Kristus yang harus menjadi pusat setiap kehendak dan apa yang kita lakukan. Kehendak kita selaras dengan apa yang Yesus inginkan. Kita ini ciptaan Allah untuk melakukan perkerjaan baik, perhatikan ini “melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.” Ia mau supaya kita hidup dalam Kristus. Yesus yang harus dikenalkan menjadi teladan. Roh Kudus memampukan kita meneladani Yesus, dan Allah dimuliakan.

Artikel ini terinspirasi dari buku Timothy Keller, “Gospel In Life.”

Saya berdoa kiranya Anda yang membaca artikel ini semakin mengerti Injil dan mau mengenal Kristus lebih dalam lagi dan hidup di dalam-Nya, hidup Anda memuliakan Allah. AMIN

Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita

Posting Komentar untuk "Injil dan Agama adalah dua definisi yang berbeda dalam praktisnya"

Berlangganan via Email