Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Yohanes 19:30 Vs Narsistik Manusia Yang Narsis Mencintai Dirinya Sendiri

Ketika Injil adalah kuasa Allah yang mengubahkan dan kecintaan pada diri sendiri memperbudak.

Ketika Injil adalah kuasa Allah yang mengubahkan dan kecintaan pada diri sendiri memperbudak.
Betapa anehnya manusia, mereka membayar Tuhan dengan yang Ia ciptakan. 

Mereka berpikir betapa mereka bijaksana sehingga membayar Allah dengan korban bakaran, mereka berpikir telah menyelamatkan diri mereka dari murka Allah. 

Mereka sedang narsisme, menyelamatkan diri sendiri dengan kebijaksaan mereka tanpa mereka sadari mereka sesungguhnya sedang menuju murka Allah, hukuman kekal neraka.

Pertobatan dari narsisme akan membawa kita pada pengertian kekayaan Injil yang membebaskan kita dari perbudakan kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. 

Injil adalah kuasa Allah yang selalu merobek hati, menyadarkan betapa kita adalah segumpal busuk sejak dalam kandungan ibu kita yang diselamatkan melalui pengorbanan Allah di kayu salib.

Keindahan akan membuat mulut kita berkata, “Wawww” decap kagum pada keindahan yang merupakan ciptaan, bagaimana mungkin manusia tidak kagum pada Sang pencipta.

Ya, manusia tidak ada kekagumam pada Dia karena mereka sudah memilih jalannya masing-masing, mereka lebih kagum pada kefanaan dunia, mereka kagum pada dirinya sendiri, kehidupan mereka dipenuhi tipu muslihat iblis.

Pada akhirnya Sang pencipta sendiri memunculkan keindahan-Nya ya, Dia mati di kayu salib itu adalah keindahan yang tiada tara apabila mata hati kita sudah disentuh oleh kelembutan-Nya suara-Nya, “SUDAH SELESAI.” Kabar baik sudah Yesus selesaikan dan kabar baik itu Injil yang memastikan keselamatan kita.

Keselamatan yang adalah pemberian geratis, tapi mahal h arganya. Gratis karena Allah sangat tahu manusia yang narsis, sombong angkuh tida akan pernah bisa membeli kasih anugerah Allah, tidak akan menemukan Allah sejati yang berkuasa pencipta langit dan bumi.

Maka Allah turun ke dunia, Allah sendiri menjadi manusia. Menebus kita sehingga kita kini bukan lagi budak kecintaan pada diri sendiri, kini kita yang percaya Yesus adalah hamba Allah, anak terkasih Allah.

Yohanes 19:30 Vs Narsistik, Mencintai Diri Sendiri Secara Berlebihan

  • Segala kemuliaan hanya bagi Allah, lalu apa tugas kita? 

Ketika orang Kristen tidak mengabarkan Injil sudah bisa dipastikan Ia akan selalu jatuh dalam lubang yang sama. Yaitu kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan.

Maka berodalan kepada Allah agar hati Anda dibakar oleh api Roh kudus, mempunya kobarang yang kuat untuk mengabarkan Injil Allah kepada sesama melalui kasih yang diperlihatkan secara nyata. Semua itu bagi kemuliaan Allah.

Sangatlah mengerikan ketika orang percaya jatuh dalam dosa ini, hal ini sama saja seperti berzinah dengan diri sendiri. Menyembah diri sendiri dan selalu memusatkan segala sesuatu tentang diri.

  • Ketika semuanya tentang Diri sendiri

Ketika berdoa, maka semuanya tentang saya harus mendapatkan. Ketika melayani semuanya tentang saya yang harus dihormati. Ketika saya memberi semuanya tentang saya yang harus menerima berlipat-lipat. Ketika hidup harus memuliakan dan menyembah Tuhan, semua itu tentang saya yang rohani.

Kawanku mari kita renungkan hal yang sangat penting ini, narsisme begitu berbahaya. Saya mengambil Yohanes 19:30, karena saya  ingin kita memandang kepada Kristus. Kristus yang mengasihi dan menebus kita, Ia yang berkata “sudah selesai”. Puncak dari cinta sejati oleh Allah pencipta langit dan bumi. 


Bukan karena kita layak, tapi itu semua karena Allah yang dengan rela, Ia tahu pasti ketika kita mencintai diri secara berlebihan kita hanya akan berjalan kepada kebinasaan kekal.

Maka penerapak bagi kita, serahkanlah dirimu kepada Yesus agar Ia saja yang mencintaimu. Memang aka nada harga yang harus dibayar akan sangatlah sakit ketika Yesus mendidikmu.

Tapi pada akhirnya aka ada sukacita yang sangat mendalam, yang cintamu pada dirimu, cinta palsu dunia tidak akan pernah bisa berikan kepadamu.


Terimakasih kiranya Allah yang kaya rahmat dan kasih karunia itu melawat roh kita, menghancurkan kebijaksanaan kita dan menjadikan kita emas yang artinya siap sakit sembari memandang kepada Yesus saja, mencintai Yesus saja dan menerima kebijaksanaan dari Yesus saja, “sudah selesai.” AMIN 

Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita