Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Paulus, Silwanus, Timotius dan Injil, kepada jemaat Tesalonika (2 Tesalonika 1:3-4)

Paulus, Silwanus, Timotius dan Injil, Ketika Injil Mempengaruhi Kehidupan

Pandangan yang salah tentang kekudusan umumnya dapat dirunut pada pandangan yang salah tentang rusak atau korupnya manusia. Jika seseorang tidak menyadari hakekat bahaya dari keberadaan jiwanya, Anda jangan heran kalau ia puas dengan pengobatan yang palsu atau tidak sempurna. 

(Oleh, J. C. Ryle 1816-1990)

Hasil Pelayanan Paulus

Jemaat Tesalonika adalah hasil dari pelayanan Paulus dan rekan-rekan sepelayanan, pada waktu perjalanan misinya yang pertama bersama Barnabas bertemu dengan Silas, dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul 17, dikarenakan Paulus yang mendirikan jemaat Tesalonika, maka ia begitu mengenal mereka dan kehidupan mereka, bagaimana mereka bertobat. Paulus dan kawan-kawan dalam hal melayani jemaat Tesalonika begitu totalitas sehingga apabila kita membaca surat 1 Tesalonika, kita akan ikut merasakan betapa mereka mengasihi jemaat Tesalonika.

5Karena kami tidak pernah bermulut manis--hal itu kamu ketahui--dan tidak pernah mempunyai maksud loba  yang tersembunyi--Allah adalah saksi – 7Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 9Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.

(Dalam Kitab: 1 Tesalonika 2: 5, 7-9)

Melayani Seperti Kasih Ibu

Paulus, Silwanus, dan Timotius. Kita tahu sakarang bahwa begitu dekatnya mereka dengan jemaat Tesalonika, mereka melayani seperti seorang ibu dengan penuh kasih. Untuk latar belakang penulisan surat ini dapat dilihat di 1 Tesalonika 3, sekarang mari kita masuk ke poin yang akan kita bahas.

 Agar lebih menarik saya akan memberitahu anda terlebih dahulu bahwa penulisan kali ini, mempunyai kaitannya dengan apa yang sedang kita alami di tengah-tengah keadaan dunia yang sangat tidak menentu. Kita begitu akrab dengan suatu konsep dunia yang menekankan cara-cara untuk berpikir positif dan memotivasi diri, bahwa semuanya baik-baik saja, bagaimana kita mengandalkan diri kita sendiri agar keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja, seolah-olah baik-baik saja.

Kita dibimbing dengan cara dunia untuk mengosongkan pikiran kita, sehingga kita tidak memikirkan hal-hal yang menyakitkan, dengan sekuat tenaga kita, kita berkata tidak menyakitkan, berusaha dengan sekuat tenaga kita untuk tetap bersukacita di tengah dunia yang buruk ini. Dunia yang hanya menjanjikan hal-hal kosong, pada akhirnya menuntun kita pada kekeringan yang harus diisi oleh Air, bukan hanya air biasa tetapi Air yang sebenarnya dapat memberikan kepada kita kepuasan sejati.

Sadar atau tidak sadar, kita melakukan apa yang dunia telah tanamkan dalam diri kita. Hal itulah yang sering kita lakukan, mengapa kita melakukan hal itu? Jawaban pertama, kita masih hidup dalam dunia ini. Kedua, kita lupa identitas kita sebagai orang Kristen, yang seharusnya tidak lagi mencari keselamatan dari diri kita sendiri dengan motivasi dunia.

Ketergantungan kepada Tuhan setiap hari bukanlah sebuah pertanda dari kebodohan rohani ataupun kelemahan, melainkan sebuah pertanda dari kedewasaan rohani dan kekuatan.

(Oleh, Paul Trip)

Saya masih manusia biasa dan begitu gampang jatuh dalam dosa, maka begitu penting bagi saya untuk selalu memberitakan Injil kepada diri saya sendiri setiap hari.

(Oleh, John Calvin)

17Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang. 21Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatnya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

(Dalam Kitab : 2 Korintus 5:17, 21)

Yesus sudah menebus kita, Yesus menerima setiap hukuman dosa kita, ketakutan kita sudah Ia rasakan. Jadi ketika kita datang kepada-Nya, Dia bukan pribadi yang memberikan tekanan begitu rupa dan memotivasi kita untuk begini begitu, Dia memberikan kita kehidupan baru, keselamatan yang dulunya kita hidup tanpa pengharapan, kini berpengharapan akan hidup kekal, kita dibenarkan oleh Allah dalam Yesus.

Lalu anda begitu gampang dipengaruhi budaya, anda melakukan apa yang dunia perintahkan, anda mencari kesenangan dan kedamaian dengan cara dunia karena anda begitu malas membaca Alkitab dan melihat Injil dalam Alkitab, sebagai manusia begitu gampang kita menikmati dunia ini karena kita lupa identitas kita, maka begitu penting kita memberitakan Injil setiap hari kepada diri sendiri.

Pada ayat. 1-3, kita melihat pendahuluan dari surat dan pada ayat 3 kita masuk isi surat. Ada rasa syukur karena pertumbuhan iman jemaat Tesalonika bertumbuh.

3Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu, 4sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita: 

(Dalam Kitab: 2 Tesalonika 1:3-4)

Sukacita Pelayan Tuhan

Paulus, Silwanus, dan Timotius mengucap syukur karena iman jemaat Tesalonika bertambah, bertambah yang seperti apa? Perhatikan ayat 4, “ketabahan dan imanmu dalam penganiayaan dan penindasan yang diderita” waw dengan kata lain, “saya bersyukur kamu menderita, dianiaya, dan dipukuli.” Ketika saya merenungkan bagian ini, ketiga orang ini gila, bersyukur bukanya berduka atau ikut meratapi apa yang jemaat Tesalonika rasakan.

Saya membayangkan saat jemaat Tesalonika membaca surat kedua dan hal bersyukur ditempatkan pada bagian awal, apakah mereka masih mempuyai selera untuk membaca surat tersebut, kalau saya, saya buang. Dalam kondisi tertekan mereka bersyukur, bisa saja jemaat memberikan balasan surat “Karena kalianlah kami mengalami tekanan seperti ini" lalu mereka meninggalkan iman mereka.

Sukacita melayani Tuhan selalu berpusat pada Injil Kristus. Inilah Injil yang orang-orang Kristen percaya, dunia ini menekankan kita untuk menghindar memikirkan segala realita penderitaan dunia. Injil justru sebaliknya menekankan kita untuk memikirkan, bukan hanya itu tetapi juga merasakan penderitaan dalam dunia, bahkan mengucap syukur karena adanya penderitaan itu. Hal ini begitu bertolak belakang dari apa yang dunia ini tawarkan, ia menawarkan kesenangan padahal ujungnya kekeringan, membuat kita mau mati rasanya.

Ada poin penting, mari kita kembali ke ayat 1 dan 2 disinilah letak perbedaan besar antar Injil dan motivasi dunia ini. Ketika Injil mempengaruhi kehidupan seseorang dan dalam konteks ini, Jemaat Tesalonika, Paulus, Silwanus, dan Timotius akan membuat mereka hidup dalam Allah Bapa dan Yesus Kristus, sehingga bagaimana pun tekanan yang menimpa mereka yang mereka rasakan adalah kasih karunia dan damai sejahtera yang menyertai mereka.

Konsep ini begitu penting karena inilah identitas orang-orang percaya, Anda dan saya. Yaitu hidup dalam Kristus, menikmati Kristus melakukan apa yang menjadi kehendak Kristus, karena kita adalah orang-orang percaya yang berpengharapan akan hidup kekal. Tidak ada hal yang lebih memberi sukacita dari pada hal ini. Kita diselamatkan dan diberi kemampuan untuk hidup dalam anugerah Tuhan, bukan karena kita pantas menerimanya justru sebaliknya betapa menjijikkannya kita dimata Allah, tetapi Allah dengan rahmat-Nya telah berkenan kepada kita karena kebenaran Kristus ada dalam kita.

Kiranya damai sejahtera melimpah atas diri Anda. AMIN


Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita