Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Musa adalah Sang Pembebas, MESIAS (Keluaran pasal 1 dan 2)

Musa adalah Sang Pembebas, Pembebasan Dari Perbudakan

Mesias adalah tokoh yang dinanti-nantikan oleh bangsa Iserael, Mesias dalam bahasa Ibrani maupun Yunani mempuyai arti yang sama “yang diurapi.” Dalam Perjanjian Lama kita akan menemukan Mesias, yang adalah raja dan diurapi oleh hamba Allah, contohnya Daud. Kali ini kita akan belajar bersama dari satu tokoh terkenal dalam Alkitab.

Musa, merupakan seorang yang diurapi oleh Allah secara langsung, ia Allah pilih untuk menjadi pembebas bagi bangsa Israel yang diperbudak oleh bangsa Mesir. Dalam Kejadian Pasal terakahir Yukub dan keluarganya telah menetap di Mesir sebagai pendatang, karena Yusuf. Latar belakang Israel pindah ke mesir pertama, terjadi kelaparan kedua, Yusuf anak yang sangat Yakub kasihi telah menjadi orang kepercayaan Firaun di Mesir.

Setalah Yakub meninggal dan Yusuf pun meninggal, bangsa Israel bertambah banyak. Hal ini menimbulkan ketakutan di hati Firaun yang tidak mengenal Yusuf dan apa yang telah Yusuf lakukan bagi bangsanya. Sehingga ia memperbudak Israel dan tidak membiarkan mereka bertambah banyak.
10Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan--jika terjadi peperangan--jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini." 11Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses. 12Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. 13Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, 14dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

(Dalam Kitab: Keluaran 1:10-14)

Perbudakan oleh bangsa Mesir merupakan suatu gambaran

Pada masa-masa kelam ini, bangsa Israel pastinya putus harapan, mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Mereka merasakan perbudakan, penderitaan yang begitu rupa, ditindas oleh Firaun. Bahkan Firaun menghentikan mereka berkembang bertambah banyak, Firaun memerintah para bidan untuk membunuh anak-anak yang baru lahir.

Perbudakan atas Israel oleh bangsa Mesir merupakan gambaran dari diri kita hari-hari ini, baik kita yang sudah menerima Kristus maupun hidup lama kita. kita telah begitu lama tidak menyadari bahwa diri kita sedang diperbudak, ditindas sama seperti Israel, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, kita pun dalam diri kita yang telah diperbudak oleh kuasa dosa tidak mampu berbuat apa-apa selain kita menuruti apa yang dosa itu inginkan.

Orang tua diperbudak oleh pekerjaan mereka, mereka mengorbankan segala sesuatu demi pekerjaan itu, para anak muda diperbudak oleh cinta mereka mengorbankan segala sesuatu demi mendapatkan cinta dan perhatian. Para pendeta dan rohaniawan diperbudak oleh uang, mereka melayani demi uang, mereka juga diperbudak oleh rasa ingin dihormati dan disanjung-sanjung, dikenal sebagai orang suci yang rajin membaca Hukum Tuhan. 

Ada begitu banyak contoh lainya bahwa manusia hari-hari ini sedang ditindas oleh keinginan mereka dan hal itu dosa, dosa selalu memperbudak kita. Apabila saya menjabarkan akan begitu panjang, silahkan anda pikirkan! Hal apa yang memperbudak anda saat ini, dan hal itu mendatangkan berbagai dukacita.

Perbudakan memutuskan harapan

Berapa kali dalam hidup kita, kita seringkali putus harapan karena dosa yang begitu mengikat kita. Dosa selalu menuntut kita untuk sempurna dan selalu menjatuhkan kita saat kita gagal. Perbudakan itu menawarkan sesuatu yang seolah-olah indah dan menyelamatkan kita, seolah-olah memberi kebahagian dan kedamaian dan akhirnya memperbudak kita, sehingga tidak ada hal lain yang dapat menyelamatkan kita bahkan diri kita sendiri.

Kita sejak dalam kandungan ibu kita, sudah berada dalam lumpur hisap, yang perlahan akan menenggelamkan kita. Kita pasti mati dalam lumpur itu, kita tidak memiliki kuasa untuk naik, harus ada yang menolong kita, membebaskan kita dari perbudakan, harus ada yang menarik kita dari lumpur hisap yang sudah kita nikmati sejak dalam kandungan.

Saat kita diperbudak dan hal itu sudah tertanam dalam diri kita, perbudakan itu akan membuat kita merasa nyaman, meskipun di sisi lain kita berteriak kesakitan karena penindasan dosa. Bangsa Israel sudah terbiasa dengan perbudakan, apabila kita mempelajari saat perjalanan mereka menuju tanah perjanjian, beberapa kali angkatan yang sudah dewasa yang diperbudak di Mesir ingin kembali ke Mesir.

Allah bekerja dibelakang layar

20Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. 21Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

(Dalam Kitab: Keluaran 1:20-21)
1Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 4kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.

(Dalam Kitab: Keluaran 2:1-4
Dapat Anda baca lebih lanjut sampai ayat 10!

Perhatikan yang Allah perbuat, pertama Allah menolong para bidan, kedua pada keluaran 2, ini yang akan menjadi penekanan saya. Pada saat para bidan tidak mau membunuh para bayi orang Ibrani, Firaun mengambil tindakan yang lebih radikal untuk menindas Israel, yaitu dengan membuang semua bayi yang baru lahir. 

Sejenak membayangkan betapa pada masa itu sangat-sangat menegangkan, setiap wanita hamil akan selalu mempuyai hati yang berdebar-debar karena bayi mereka akan dibunuh. Pada masa itu setiap wanita yang baru melahirkan akan mengalami depresi, anak mereka dirampas dan dibuang ke sungai Nil, setiap ibu pasti akan menjerit-jerit marasa sedih, dan hal ini tentunya begitu menekan fisik maupun jiwa.

Bangsa Israel tidak bisa berbuat apa-apa, selain diperbudak. Perhatikan pasal 2 ada hal yang menarik ditengah kondisi yang menegangkan, kita dialihkan dengan kelahiran satu orang bayi. Dia hadir diantara cerita kitab Keluaran di mana bayi-bayi dibunuh. Bayi ini ialah Musa seorang bayi yang diurapi Allah dia adalah sang pembebas, dia Mesias dan dia seorang juruselamat bagi bangsa Israel.

Dia diapungkan di sungai Nil, ditemukan oleh puteri Firaun dan ia diangkat menjadi anak puteri Firaun. Beribu-ribu tahun kemudian kejadian yang sama terjadi, ada begitu banyak bayi dibunuh oleh seorang penguasa di Betlehem, karena ia takut pada seorang bayi yang adalah Raja segala Raja yang baru saja dilahirkan. Dapat dibaca di Matius 2:16, Musa adalah Mesias yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir dia juga adalah bayi yang lahir dan ada begitu banyak bayi lain dibunuh.

Musa adalah gambaran dari pembebas sejati

Yesus adalah Mesias yang membebaskan kita dari perbudakan dosa yang mengikat kita, Yesus adalah Mesias sejati, Musa adalah gambaran dari Yesus yang sudah membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa. Kita yang begitu gampang ingin kembali ke perbudakan dosa, Allah dengan Roh Kudus-Nya dengan penuh kemurahan menginsapkan kita dari dosa dan Darah Yesus yang menguduskan kita, sehingga kita dibenarkan oleh Allah karena kebenaran Kristus ada dalam kita.

Ini merupakan kabar baik, kita yang terbenam dalam lumpur hisap atau lumpur dosa, ada Orang yang mengulurkan tangan-Nya yang menarik kita agar kita keluar dari lumpur dosa. Dia bukan manusia biasa Dia adalah pencipta kita. Dia Allah yang menebus kita dari kesalahan kita sehingga kita layak untuk menyembah Dia bukan karena kita hebat atau karena gagah, kita sebenarnya manusia-manusia yang layak masuk neraka, tapi kita dibenarkan oleh Yesus, kita yang dulunya seteru Allah kini menjadi Anak-anak Allah
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

(Dalam Kitab: 2 Korintus 5:2)
3Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. 4Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 

(Dalam Kitab: Yesaya 53:3-10

Inilah Injil yang memberi kekuatan yang akan selalu menyatakan bahwa kita bukan siapa-siapa, Injil yang sejati akan selalu mengoyak hati kita. mematahkan, menyadarkan kita, kita  adalah budak dan menjijikkan kita pantas masuk neraka kita pantas dihukum kita pantas dicaci. Kita menjadi budak karena kesalahan kita, bukan karena Dia, kita yang memberontak. 

Kita seperti domba tidak bergembala kita begitu bodoh, berpikir bahwa kita selalu benar dan betapa kita berpikir kita bijaksana dalam diri kita yang diperbudak itu tetapi ada suara Roh Kudus yang berbisik kamu sedang diperbudak ada Yesus yang sudah menyelesaikan dan kamu tidak diperbudak lagi. Kita terlalu mencintai diri kita, ingin yang terbaik tetapi kita tidak tau apa yang terbaik sebab kita adalah ciptaan. Hanya Yesus bukan hanya ingin yang terbaik untuk kita Dia tahu yang terbaik untuk kita sebab Dia pencipta kita.
Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!

(Dalam Kitab: Roma 5:1)
Kita yang masih seteru Allah, Musa sejati itu memerima semua hukuman dosa kita yaitu cawan murka Allah, seharusnya cawan itu ditumpahkan untuk kita tetapi karena kasih-Nya pada sehabat-sahabat-Nya dan keadilan Allah maka Yesus menerima hukuman itu dan oleh kasih karunia kamu dibenarkan dengan cuma-cuma oleh Kristus Yesus.

Jadi hanya Allah yang layak kita sembah dan kita puji, pusat hidup kita bukan lagi diri kita tetapi Yesus, kita masih suka dan mempuyai kecenderungan berdosa tetapi oleh Roh Kudus yang menginsapkan kita maka seharusnya akan selalu ada pertobatan sejati setiap hari atas diri kita. kita tidak hidup dalam dosa tetapi dalam Kristus, jadi siapa yang ada dalam kristus; ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang.
Tanpa dukacita tidak akan ada keinsyafan, dan tanpa keinsyafan kita akan kehilangan berkat terbesar Allah, yaitu rahmat pengampunan serta kasih karunia. Tanpa melihat betapa dalamnya dimensi dosa, kita tidak akan pernah memahami bobot kasih dan anugerah Allah.

(Kyle Idleman dalam buku: Akhir dari ke-Aku-an)
Saya berdoa kiranya Allah dengan segala hikmat-Nya menuntun anda terus menerus saat anda memperlajari kitab suci, maka anda mengerti bahwa Alkitab PL-PB adalah Injil dan anda harus mengerti Alkitab berdasarkan prespektif Injil, Kristus sebagai pusat. Namun anda hidup bukan lagi anda sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam Anda.



Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita