Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

HANA IBU SAMUEL SANG HAKIM TERAKHIR (1 SAMUEL 1:8-11)

                                     

Hana Ibu Samuel, Berhala Tersembunyi Dalam Dirinya

Kita akan mempelajari satu tokoh dalam bacaan Alkitab kita kali ini, Hana ibu Samuel, Samuel adalah hamba Tuhan yang Tuhan pakai secara luar biasa. Kita mulai dari pasal satu dan dua, ada seorang bernama Elkana dan ia mempunyai dua istri yang pertama Penina; Penina mempuyai anak, tetapi Hana tidak. Ketika kita membaca teks ini kita akan tahu kehidupan kedua wanita yang berbagi satu lelaki.

Bukan Tentang Berbagi suami

Bukan tentang berbagi suami yang akan kita bahas, mari kita bahas bersama tentang pandangan sosial pada zaman itu apabila seorang wanita yang sudah bersuami tidak mempunyai anak, ini begitu penting karena hal inilah yang mempengaruhi Hana, tanpa ia sadari, ia mempunyai berhala dalam dirinya. 

Begitu juga kehidupan kita saat ini sabagai orang-orang yang sudah Allah angkat menjadi anak-Nya, oleh karena kebenaran kristus sudah di berikan kepada kita, sehingga kita berkenan kepada Allah. Tetapi begitu gampang budaya di sekitar kita mempengaruhi. Kita mempunyai berhala tersembunyi di kedalaman hati, sehingga itu memunculkan tindakan yang bahkan sangat merugikan kita, lingkungan kita, keluarga kita, dan pelayanan kita.


Harga Diri Seorang Wanita Masa Itu

Harga diri wanita pada masa itu, dinilai dari mempuyai anak atau tidak. Setiap wanita yang tidak mempunyai anak, akan dianggap sebagai orang yang Tuhan kutuk. Jadi secara otomatis masyarakat sekitar akan mengucilkan wanita tersebut. Hal ini akan memunculkan rasa malu, dan hal-hal yang akan merugikan bagi wanita yang dikucilkan bahkan suami yang begitu mengasihi istrinya.
5Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya. 6Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. 7Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.  8Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"

(Dalam Kitab: 1 Samuel 1:5-8)
Perhatikan ayat 8, hati Hana begitu sedih bahkan tidak mau makan, karena ia dipandang rendah, bahkan suaminya yang begitu mengasihi Hana, ia abaikan karena pada saat Hana merasa sedih, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa bahwa ia akan diterima saat ia mempunyai anak, Hana merasa begitu gelisah, pikirannya hanya diisi dengan imajinasi, untuk dapat hidup bahagia, dengan cara memiliki seorang anak.

Ini adalah gambaran kita orang-orang percaya hari-hari ini begitu gampang budaya membuat kita frustasi, kita sering kali berimajinasi sama seperti Hana, “andai saya memiliki barang ini, barang itu, dan saya dapat menjadi orang yang sukses.” “Bagi anak-anak muda, andai saya memiliki kekasih, hari-hari ini saya pasti bahagia, andai saya bisa seperti sih dia saya pasti bahagia.” Sering kali kita tidak selera makan karena realita dunia yang begitu menyakitkan hati kita, kita begitu berharap memiliki dunia dan diterima oleh dunia ini.

Kita berharap saat  dalam dunia ini ada hal yang dapat kita tunjukan kepada orang sekitar kita, kita akan diterima dan dipuji, disinilah letak berhala Hana bahkan berhala kita, yaitu berhala penerimaan, tanpa kita sadari kita sedang menyembah orang-orang disekitar kita, kita berusaha menyenangkan mereka agar kita diterima dan bahagia. Kita telah ditipu oleh budaya dunia ini yang dimana budaya selalu memekankan kita harus dapat melakukan sesuatu agar kita diterima, kita harus memberikan sesuatu agar mendapatkan kebagiaan dan pada akhirnya kita diperbudak oleh berhala itu.

Realita berkata lain, Allah telah menutup kandungan Hana. Allah yang menutup kandungan Hana, karena Allah begitu mengasihi Hana, mari kita lihat lebih jauh lagi mengapa Allah menutup kandungan Hana. Apa bila kita mempelajari kehidupan Hana, Hana adalah seorang wanita yang begitu dekat dengan Tuhan dan Ia begitu tahu tentang Allah Yahwe, dia adalah seorang yang beragama dan melakukan segala aturan agama Yahudi.

Kita dapat memperhatikan pada ayat 3, ia bersama suaminya dan isteri suaminya, setiap tahun datang untuk menyembah Tuhan Allah di Silo. Pada suatu ketika Hana dengan rasa sedih yang begitu dalam dan entah apa yang sedang Hana pikirkan waktu itu sehingga setelah ia melakukan perjamuan bersama suaminya.

Pejumpaan Pribadi Melihat Kemuliaan Allah

9Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci  TUHAN, 10dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. 11Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." 

(Dalam Kitab: 1 Samuel 1:9-11)

Hana datang kepada Tuhan, entah apa yang ada dalam pikiran Hana dengan penuh kepedihan, karena tuntutan budaya yang begitu menekannya, ada lagi istri suaminya yang selalu merendahkannya. Hana bernazar. Dalam Pejanjian Lama arti dari kata "Nazar" tidak dapat lepas dari kata "Nazir" artinya anaknya akan diasingkan, dikhususkan bagi Yahwe (hukum nazir dapat dibaca dalam Bilangan 6:1-27). Dengan kata lain bahwa Hana tidak lagi menginginkan anak seperti sebelumnya, mungkin kalian yang membaca ini bertanya. 

Apa Hana tidak ingin anak lagi? Hana tetap menginginkan seorang anak, tetapi apabila ia tetap tidak punya anak hal itu tidak akan membuat dia frustasi seperti sebelumnya, perhatikan ayat 18 "terbukti setelah ia berdoa ia langsung mau makan dan mukanya tidak muram lagi." Hana telah mengalami perjumpaan dengan Allah secara pribadi pada saat makan dan minum di Silo dan hal itu yang memberi dorongan keras untuknya sehingga ia berdoa dalam doanya ia bernazar. 

Allah begitu mengasihi Hana sehingga Ia menutup kandungan Hana, Allah dalam kasih dan Kemahatuan-Nya akan pribadi Hana, Allah ingin Hana murni tidak ada berhala yang memperbudak Hana. Kini Hana sadar bahwa Allah cukup baginya, bahkan hal yang begitu ia dambakan saat ia mendapatkannya nanti, yaitu seorang anak, tidak akan menjadi kebanggaan bagi dia, sebab saat anak itu lahir, akan ia serahkan kepada iman Eli sebagai Nazir, Allah bukan hanya menebus Hana tetapi Ia juga menyelamatkan Samuel dari kesalahan Hana.

Perjumpaan dengan Allah. Mari kita berpikir sejenak, pada masa modern ini begitu banyak orang tua yang menjadikan anak mereka sebagai berhala, yang saya maksud adalah orang tua yang memanjakan anak mereka, karena seorang anak yang mereka damba-dambakan, atau orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak mereka, karena saat anak itu sukses menjadi identitas mereka. Mengapa, karena mereka tidak bertobat, mereka sangat menginginkan anak dan mereka berpikir bahwa saat mereka memiliki anak mereka selamat, ini berhala mereka, mereka sedang menyembah anak mereka dan diri mereka sendiri.

Allah menyelamatkan Hana dari berhala ini, begitu juga kita, puji Tuhan karna begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal; supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. Yesus telah menebus kita dari perbudakan dosa, perbudakan berhala kita. 
14Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"16Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

(Dalam Kitab: Roma 8:14-16)

Kita Mudah Lupa

Begitu gampang kita lupa, begitu gampang kita orang-orang Kristen menggantikan Yesus yang adalah sumber kebahagiaan sejati, dengan berhala. Dari mana kita tahu itu berhala kita? Berhala selalu menuntut kita melakukan sesuatu, menjadi sesuatu, tidak memberi apa-apa selain tekanan agar kita diterima, berhala selalu memperbudak dan membuat kita tidak damai sejahtera jadi ketika kita menjadi orang yang beragama dan agama Kristen, hal itu menekan kita dan menuntut kita menjadi sesuatu berarti agama itu adalah berhala.
Jadi ketika mempuyai kekasih dan ia menuntut kita dan membuat kita begitu tertekan, dan ketika kita merasa tidak bisa hidup tanpanya dan kita perpikir bahwa kita bahagia bersamanya padahal tertekan, berarti itu berhala kita. 

ketika menginginkan sesuatu ciptaan dan itu bukan Allah Sang pencipta atau Yesus, dan kita berpikir dan dengan penuh emosi, perasaan kita menggebu-gebu bahwa ciptaan itu memberikan kebahagian, itu berhala kita. 
6Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 7Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. 8Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 9Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 10Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 11Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.  

(Dalam Kitab: Roma 5:6-11)

Tanpa melihat betapa dalamnya dimensi dosa, saya tidak akan pernah memahami begitu besarnya bobot kasih kemurahan hati Allah. Tanpa saya sabagai laki-laki atau saya perempuan yang tanpa meratapi keegoisan, kesombongan, gosip dan perkataan yang sia-sia, saya akan menjadi orang yang tanpa dukacita tidak ada keinsyafan, dan tanpa keinsyafan saya pasti kehilangan berkat terbesar Allah. yaitu injil Yesus Kristus yang menebus oleh rahmat kemurahan Hati-Nya. (Jelas Allah jauh lebih peduli saya mempuyai hidup memikmati mengalami hidup baru yang lebih mendalam dan lebih bijak). Ada rasa sakit bagi saya saat mengakui dosa, tapi di sisi lain ada perasaan seperti dibasuh air yang segar di tengah hari yang terik, dan menjadikan saya semakin rendah hati dan terlepas dari berhala yang begitu mematikan. Ini Akhir dari ke-aku-an.  

(Kyle Indleman dalam bukunya: The End Of Me)
Berbeda dari kasih Allah, Yesus lebih dulu menebus kita pada saat kita masih berdosa, pada saat kita masih menjadi musuh-Nya, Dia sudah memberikan penerimaan sejati yang kita damba-dambakan. Yesus adalah jawaban dari pencarian kita selama ini, Yesuslah yang harus menggantikan berhala-berhala yang selama ini bertahta dalam hati kita.

Dia juga merasakan penolakan dunia ini, Dia menjadi dosa karena kita agar kita diterima, Yesus merasakan setiap kesakitan, ketidakdamaian akibat dosa, agar kita mendapatkan kedamaian sejati dari-Nya, sehigga kita dimampukan menjadi sesuatu bukan karena kita bijaksana atau baik tapi karena Injil Anugerah Allah dalam Yesus Kristus berada dalam kita.

Kini pusat hidup kita bukan lagi aku, aku, dan aku, agar aku puas dan dapat menikmati dunia ini maka aku percaya Yesus, agar segala masalahku selesai maka aku percaya Yesus. Tanpa kita memperhatikan betapa kita butuh Yesus sehingga Yesus bukan sebagai pemuas kita tetapi tujuan hidup kita, Dia memuaskan atau tidak, kita tetap memandang Dia sebagai keindahan, sebagai yang utama karena penebusan-Nya cukup bagi kita.
Hidup kekal adalah tujuan utama Yesus menderita, sehingga kita di dunia ini menikmati Dia, meskipun dunia ini memberikan berbagai penderitaan yang telah dibungkus sedemikian rupa sehingga seolah-olah dunia sedang baik-baik saja.

Saya berdoa, Kiranya Roh Kudus memberikan anda sekalian pengertian akan Injil yang murni, dan mengerti selalu ada berhala dalam diri anda dan selalu ada kasih yang sangat besar,Yesus anugerahkan kepada anda. Damai sejahtera dan kasih karunia berlimpah atas anda.




Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita