Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akar Legalisme dan Antinomianisme. Injil (Kejadian 3:1-6)

Akar Legalisme dan Antinomianisme Dua Musuh Injil


Ketika Injil menjadi bukan injil yang berakar dari pikiran yang salah tentang Allah, kebohongan ular.


Legalisme dan antinomianisme adalah musuh Injil kedua istilah ini sadar atau tidak sadar mulai dari manusia jatuh dalam dosa telah berakar dalam pikiran dan hati manusia. Hal ini terjadi sampai pada masa sekarang bahkan sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Bersama kita akan belajar kedua dosa ini yang di mana keduanya terlihat berbeda dan manusia yang menganut yang satu akan menyalahkan yang lainnya, tetapi legalisme dan antinomianisme mempuyai sumber yang sama, akar yang sama, satu pohon satu akar menghasilkan buah yang berbeda dengan hasil yang sama yaitu kekacauan dan berbagai duka yang kita umat manusia alami sampai hari ini.


Kejadian 3:1-6, kita akan mendalami sejenak pola dari kebohongan ular dan hal itu masih terjadi pada kita keturunan Adam dalam hati dan pikiran kita. Ular mendatangi Hawa dan membawa Hawa untuk mengobrol, Hawa di sini apabila kita perhatikan begitu ramah dengan pendatang baru di taman itu mereka saling menyapa, mungkin saling menayakan kabar, di saat cuaca yang cerah nan sejuk, ular pun memulai tipu dayanya. Dengan pertanyaan kepada Hawa, “semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” 


Dari pertanyaan ular tersebut menjelaskan dua kemungkinan pertama ular tidak tahu yang mana buah yang terlarang. Kedua, ia tahu tetapi ia memancing Hawa untuk secara langsung memakan buah itu, tetapi kedua kemungkinan diatas sama saja ular bermaksud untuk membohongi manusia.


Ular memulai dengan kebohongan yang luar biasa dari pertanyaannya, apabila perempuan itu lupa mungkin saja ia menjawab, “ya, hanya yang ditengah itu yang boleh kami makan.” Ular sedang memutar balik apa yang menjadi pernyataan Allah, secara tidak langsung ia mengajak Hawa untuk memakan buah tersebut, tetapi Hawa dengan polos menjawab, “semua boleh kami makan tetapi hanya yang di tengah itu yang tidak boleh kami makan” ketika ular mengetahui bahwa buah yang berada di tengah taman yang tidak boleh, ia mengajak Adam dan Hawa untuk mendatangi pohon itu dan memandangi buahnya sambil menjelaskan. 


Ular memulai kebohongannya lagi, kali ini ia sedang menghancurkan nama baik Allah integritas Allah, Hawa sebelumnya telah menjelaskan apabila ia dan Adam memakan buah itu mereka akan mati. Hal inilah yang ular pakai untuk meracuni pikiran Adam dan Hawa, “sesekali kamu tidak akan mati, melainkan kamu akan menjadi seperti Allah dengan segala pengetahuan baik dan jahat.” Pada ayat 6, menunjukkan kepada kita apa yang sedang Hawa pikirkan. “Lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.” Pemikiran Hawa mulai untuk tidak mempercayai apa yang Allah perintahkan.


“Apa Allah tidak mau Ia mempuyai saingan? Allah begitu menafik dan jahat, Ia mau menang sendiri, Ia tidak mengasihiku melarang aku memakan buah yang memberi aku kuasa untuk mengetahui sesuatu dan menjadi sama seperi Dia, Allah sangat kejam.” Ini hanya imajinasi saya, saat itu mungkin saja Adam dan Hawa bepikir demikian atau lebih parah, maka akhirnya mereka memakan buah itu dan tiba-tiba segala sesuatu sunyi senyap, saya berimajinasi lagi, “pada saat Adam dan Hawa memakan buah itu maka terbentuklah padang gurun, samak duri, singa yang sedang bermain dengan rusa tiba-tiba mencabik-cabik rusa, harimau tiba-tiba memakan kancil.” Hadirlah burung pemakan bangkai. Adam dan Hawa melihat diri mereka telanjang.


Legalisme dan antinomianisme, Legalisme adalah orang-orang yang melakukan hukum Taurat atau budaya, orang-orang ini akan menganggap orang antinomianisme adalah orang berdosa. Legalisme melakukan hal-hal yang bermoral dan terlihat baik dan dihormati agar mereka dapat berkenan kepada Allah. Sekilas tidak ada yang salah dengan orang-orang legalis, tetapi orang-orang seperti ini menghasilkan manusia yang tidak mempunyai kemurahan hati sebab hati mereka keras dan dipenuhi kesombongan. Keberhargaan diri mereka pada penerimaan orang, apabila mereka dapat melakukan standar yang hukum buat dan mereka bisa melakukan standar itu mereka akan sombong dan merasa sangat Allah kasihi tetapi apabila mereka gagal mereka akan membenci diri sendiri dan menyesali segala sesuatu bahkan marah kepada Allah.


Antinomianisme adalah orang-orang yang tidak mau melakukan hukum Allah, sebab hati mereka menginginkan kebebasan dan keras, mereka melakukan segala sesuatu semau mereka apa yang mereka pandang baik. Orang-orang seperti ini akan mengatakan orang legalisme adalah orang munafik. Mereka menganggap bahwa Allah tetap mengasihi mereka meskipun mereka tidak melakukan hukum Allah, mereka berpikir Allah tidak menuntut ketaatan, Allah hanya ingin saya menjadi diri saya sendiri.


Baik legalisme dan antinomianisme, Keduanya berpusat pada diri sendiri.


Kedua paham ini telah marsuki gereja dan apabila tidak berhati-hati hal ini akan menjadi prinsip hidup orang-orang percaya. 


Kedua hal ini memiliki akar yang sama yaitu mereka berpikir Allah adalah pribadi yang kejam dan tidak pengasih, hanya beranugerah setengah-setengah. Orang legalis melakukan yang Allah perintahkan karena tertekan bahwa Allah tidak mengasihi mereka bila mereka gagal melakukan perintah Allah. 


Orang antinomianisme mereka tidak taat pada Allah karena mereka marasa tertekan pada hukum Allah, keduanya berpikir bahwa Allah jahat dan Allah adalah pribadi yang menekan untuk kepuasan-Nya dan tidak mengasihi.


Bila kita berpikir lebih dalam lagi akar utamanya adalah ada pada Hawa yang telah dibohongi oleh ular, ular sampai sekarang selalu menggiring kita untuk memikirkan bahwa Allah kejam dan tidak mengasihi kita, dan Allah selalu berbohong. 


Memang perintah Allah tidak terlalu jelas apa alasan untuk tidak memakan buah itu, Ia menjelaskan hanya mati tetapi tidak secara spesifik mati yang bagaimana, dari sini kita belajar bahwa hikmat Allah menuntut kita ciptaan-Nya untuk taat pada Dia untuk mendatangkan kebaikkan, karena Dia tahu yang terbaik untuk kita, Dia yang menciptakan kita bukanlah pribadi yang terbatas. Tidak semua hal perlu penjelasan. Jalani saja dan taat.


Inilah musuh Injil, Injil menunjukkan kepada kita dalam keadilan Allah dan Kasih-Nya ia menerima hukuman dosa menggantikan kita, Dia yang berkuasa mencari kita, ketika kita malu dan tidak menginginkan Dia, Dia yang mengangkat kita dari lumpur dosa, agar kita tidak selamanya menjadi segumpal busuk yang menderita. Legalisme dan antinomianisme menunjukkan Allah yang tidak suka melihat kita bebas sehingga menawarkan kebebasan yang memperbudak, sungguh kebohongan yang luar biasa.


Diktum  Luther tentang pembenaran,  kita adalah Simul Justus Et Peccator, pada saat yang sama orang yang dibenarkan dan orang yang berdosa, seperti ini: “orang Kristen lebih rusak dan berdosa dari yang berani kita bayangkan tapi lebih dikasihi dan diterima dari yang kita berani harapkan pada saat yang sama.”

(Timothy Keller dalam buku: Preaching)


Injil memberitahukan bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Yesus dan pada saat kita sadar bahwa legalisme dan antinomianisme keduanya tidak dapat menyelamatkan kita, hal tersebut hanya akan memperbudak kita dan membuat kita kosong dan semakin jauh dari Allah. 


Kesadaran bahwa betapa kita selama ini telah berdosa terhadap Allah, karena melakukan segala sesuatu berdasarkan pikiran kita yang telah diracuni oleh ular, racun tersebut hanya dapat sembuh oleh Injil. Sebab Injil adalah kabar baik bahwa Allah tidak pernah berbohong pada kita Dia begitu mengasihi kita Dia Allah yang berintegritas sempurna.


Ketika Adam dan Hawa pergi dari taman Eden, Allah menunjukkan kesetian-Nya pada pemberontak yang tertipu, dengan penuh kasih Ia mengambil Domba untuk disembelih dan membuatkan kepada manusia baju dari kulit Domba agar mereka tidak merasakan kesakitan yang lebih parah akibat dosa. Kasih Allah begitu membuat hati ini bergetar ketika membayangkan bahwa Ia tetap peduli pada umat manusia. 


Domba yang mencurahkan darah, inilah Yesus yang telah menebus kita dari kutuk dosa rasa malu yang tak terhingga. setiap rasa sakit yang Yesus rasakan, maut yang menimpa Dia adalah karena kita, Dia mati kitalah yang membunuh Dia.


21Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, 22yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. 23Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 24dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

(Dalam Kitab: Roma 3:21-24)


Hukum Taurat yang menekan kita dan kita melakukannya saat tertekan dan Hukum itu ada seolah-olah Allah tidak mengasihi kita, saat kita memahami Injil dan percaya pada Allah begitu beranugerah penuh pada kita bahwa kita dibenarkan cuma-cuma dalam Kristus. 


Hukum Taurat adalah kebebasan sejati saat kasih Allah benar-benar mengubahkan hati kita. Kita melakukan Tuarat bukan karena tertekan tetapi karena begitu mencintai Yesus, keindahan Yesus yang membuat kita dengan sekacita taat pada Allah dan hukum-Nya.


Injil adalah kebebasan sejati, saat kita gagal kita tahu kita diterima Allah, saat berhasil tidak ada yang perlu disombongkan karna kita tahu Allahlah yang memampukan kita untuk berhasil, hanya Dialah yang layak dimuliakan selama-lama-Nya.


Ketika Yesus diberitakan kepada kita sebagai Tuhan, juruselamat kita bahkan teman yang paling diinginkan dunia, kita tidak dapat datang kepada Dia karena kekuatan kita sendiri. Yesus berkata, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa…. Tidak seorangpun dapat datang kepada-Ku kalau Bapa tidak mengaruniakan kepadanya.”(Yoh. 6:44, 65), menerima Yesus sebagai Harta Berharga dan kesenangan dalam hidup kita adalah karunia Bapa, atau itu tidak terjadi dalam hidup kita. 

(John Piper, dalam buku: When I Don’t Desire Dod)


Kita terlalu keras kepala dan memberontak untuk melihat Yesus sebagai suatu yang menarik, apalagi datang kepada-Nya sebagai sukacita yang maha memuaskan.


Kira-Nya Bapa berkenan mengaruniakan kepada Anda bahwa Yesuslah yang paling memuaskan dalam hidup dan dunia yang akan hancur ini, Dialah jawaban dari setiap pencarian hati, Dialah bukti dari kasih Allah. Allah tidak pernah berbohong seperti yang ular katakan.


Damai sejahtera dari Allah melimpahi anda yang membaca artikel ini. Anda kiranya semakin mengerti Injil yang murni bukan injil legalisme dan antinomianisme karena keduanya bukan Injil malainkan kabar buruk yang mendatangkan berbagai duka dan kebencian.


Artikel ini terinspirasi dari buku "Preaching" Berkotbah, oleh Timothy Keller.



 


Agung Raditia
Agung Raditia Sangat penting bagi kita, bukan lagi kita yang mendefinisikan diri kita maupun orang lain tetapi Dia Allah sendiri yang sudah menebus kita yang harus mendefinisikan diri kita

Posting Komentar untuk "Akar Legalisme dan Antinomianisme. Injil (Kejadian 3:1-6)"

Berlangganan via Email